Jumat, 08 Mei 2026

Silsillah Ilmiyyah 7 : 25 - Buah Beriman dengan Kitab-kitab Allah

Buah Beriman dengan Kitab-kitab Allah.

Diantara buah beriman dengan kitab-kitab Allah yang bisa kita petik adalah:

1. Mendapatkan keutamaan-keutamaan beriman. Diantaranya:
⑴ Hidayah di dunia
⑵ Keamanan di akhirat
⑶ Masuk ke dalam surga
⑷ Dan lain-lain
Karena beriman dengan kitab Allah adalah bagian dari mewujudkan keimanan. 

2. Semakin mengetahui dan menyadari perhatian Allah dan kasih sayang-Nya kepada makhluk. Semakin mencintai-Nya karena menurunkan kepada kita kitab yang berisi petunjuk dan cahaya supaya kita tenang di dunia dan bahagia di akhirat. 

Kita tidak dibiarkan tersesat dan terombang-ambing dengan hawa nafsu dan syahwat. Dan bagi yang ingin melihat kebesaran nikmat Allah ini silakan dia melihat orang-orang yang hidup tanpa berpegang dengan kitab Allah; mereka dalam keadaan resah, bimbang, bingung, dan tidak tahu kemana arah hidupnya. 

3. Mengetahui hikmah Allah dan kebijaksanaan-Nya karena memberikan kepada setiap kaum syari’at yang sesuai dengan keadaan mereka. Dan Al-Qur’an sebagai kitab terakhir sesuai untuk semua umat di setiap tempat dan masa sampai hari kiamat. 

4. Mengetahui bahwa petunjuk Allah kepada manusia tidak terputus sampai hari kiamat. 

5. Semakin mencintai dan menghormati Al-Qur’an dengan memperhatikan adab-adab ketika membacanya. Demikian pula semakin mencintai orang-orang yang mencintai Al-Qur’an. 

6. Membenci amalan-amalan yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan orang-orang yang melakukannya. 

7. Membangkitkan semangat untuk bersungguh-sungguh mencari hidayah dari Al-Qur’an dengan membaca, menghafal, mempelajari, mentadabburi, mengamalkan, berhukum dengan Al-Qur’an, dan kembali kepada Al-Qur’an ketika terjadi perselisihan. 

8. Bersemangat untuk membela kitab Allah dengan menyebarkan aqidah yang benar tentangnya dan membongkar tuduhan dan keyakinan yang sesat yang ingin menurunkan kepercayaan terhadap Al-Qur’an dan menjauhkan umat dari Al-Qur’an. 

9. Bergembira dan bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya yang besar. 

الْحَمْدُ لِلَّه ِالَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ
Alhamdulillāh alladzī bini’matihi tatimmushshālihāt.

Dengan demikian kita sudah menyelesaikan Silsilah ‘Ilmiyyah yang ke-7 tentang Beriman Dengan Kitab-Kitab Allah. 

Semoga apa yang kita sampaikan bermanfaat dan bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Aamiin yra.

Selesai SI7

Kamis, 07 Mei 2026

Silsillah Ilmiyyah 7 : 24 - Penyimpangan-Penyimpangan dalam Hal Iman dengan Kitab-Kitab Allah

Penyimpangan-Penyimpangan dalam Hal Iman dengan Kitab-Kitab Allah. 

Diantara penyimpangan-penyimpangan di dalam hal iman dengan kitab-kitab Allah: 

1. Mengingkari keseluruhan atau sebagian kitab-kitab Allah meskipun hanya 1 huruf. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً بَعِيداً 

“Dan barangsiapa yang kufur kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir, maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang jauh.” (QS. An-Nisa:136) 

Berkata ‘Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, 

مَنْ كَفَرَ بِحَرْفٍ مِنَ الْقُرْآنِ أَوْ بِآيَةٍ مِنْهُ فَقَدْ كَفَرَ بِهِ كُلِّهِ 

“Barangsiapa yang kufur atau mengingkari satu huruf dari Al-Qur’an atau satu ayat darinya maka sungguh dia telah kufur atau mengingkari keseluruhannya.” (Atsar ini dikeluarkan oleh Ath-Thabari di dalam tafsirnya) 

2. Mendustakan kabar-kabar yang ada di dalam kitab-kitab tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

وَالَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُواْ عَنْهَا أُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ 

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka sombong merekalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-A’raf:36) 

3. Melecehkan dan mengolok-olok. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ 

“Katakanlah, "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian mengolok-olok? Janganlah kalian minta udzur, sungguh kalian telah kufur setelah keimanan kalian.” (QS. At-Taubah:65-66) 

4. Membenci apa yang ada di dalam kitab-kitab tersebut berupa petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ 

“Yang demikian karena mereka membenci apa yang Allah turunkan maka Allah membatalkan amalan-amalan mereka.” (QS. Muhammad:9) 

Apabila seseorang membenci Al-Qur’an yang di dalamnya ada petunjuk meskipun dia mengamalkannya maka dia telah kufur. 

5. Meninggalkan Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

وَقَالَ الرَّسُول ُيَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا 

“Dan Rasul berkata, "Wahai Rabb-ku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an sesuatu yang ditinggalkan.” (QS. Al-Furqan:30) 

Para ulama menjelaskan bahwa meninggalkan Al-Qur’an mencakup: 

• Tidak mau mendengarkannya.
• Tidak beramal dengannya.
• Tidak berhukum dengannya.
• Tidak mentadabburinya.
• Dan juga tidak berobat dengan Al-Qur’an baik untuk penyakit hati maupun penyakit badan. 

6. Ragu-ragu dengan kebenaran Al-Qur’an.
7. Berusaha untuk mengubah Al-Qur’an baik lafazh maupun maknanya. 

Bersambung

Rabu, 06 Mei 2026

Silsillah Ilmiyyah 7 : 23 - Hukum Membaca Kitab-kitab Sebelum Al-Qur’an (Seperti Taurat dan Injil) yang Telah Diubah

Hukum Membaca Kitab-kitab Sebelum Al-Qur’an (Seperti Taurat dan Injil) yang Telah Diubah. 

Para ulama menjelaskan bahwa hukum membacanya ada 2: 

⑴ HARAM
Apabila maksudnya adalah mencari petunjuk di dalam kitab-kitab tersebut seakan-akan tidak mencukupkan dirinya dengan Al-Qur’an. 

Karena Allah telah mengabarkan bahwa kitab-kitab tersebut sudah diubah, sudah tercampur antara yang haq dan yang bathil.
- Yang bathil jelas kita tinggalkan.
- Adapun yang haq, yang selamat dan tidak diubah maka Al-Qur’an yang dijaga oleh Allah dari perubahan telah mencukupi kita. 

Tidak ada kebaikan yang kita butuhkan di dalam agama kita kecuali sudah diterangkan di dalam Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَىٰ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ 

“Apakah tidak mencukupi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu sebuah kitab yang dibacakan atas mereka? Sesungguhnya di dalamnya ada rahmat dan peringatan bagi kaum yang beriman.” (QS. Al-‘Ankabut:51) 

Dari Jabir Ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Umar Ibnu Khattab radhiyallaahu ‘anhu mendatangi Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam dengan membawa sebuah kitab yang dia dapatkan dari sebagian Ahlul Kitab kemudian membacakannya kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam. Maka Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam marah seraya berkata, 

"Apakah engkau bingung di dalam agamamu, wahai putra Al-Khattab? Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku telah mendatangi kalian dengan sesuatu yang putih bersih. Janganlah kalian bertanya kepada mereka (yaitu Ahlul Kitab) tentang sesuatu karena mungkin mereka mengabarkan kepada kalian dengan kebenaran kemudian kalian mendustakannya atau mereka mengabarkan yang bathil kemudian kalian membenarkannya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa masih hidup niscaya tidak ada pilihan baginya kecuali mengikuti aku.” (Hasan HR. Imam Ahmad) 

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah menyebutkan di dalam Shahih Bukhari, ucapan ‘Abdullah Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Beliau mengatakan, “Bagaimana kalian bertanya kepada Ahlul Kitab tentang sesuatu sedangkan kitab kalian yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam lebih baru?" Kalian membacanya dalam keadaan bersih tidak tercampuri dan Allah telah mengabarkan kepada kalian bahwa Ahlul Kitab telah mengganti kitab Allah dan mengubahnya. Dan menulis kitab dengan tangan-tangan mereka dan mereka berkata, "Ini adalah dari sisi Allah dengan tujuan menjualnya dengan harga yang sedikit. Bukankah ilmu yang datang kepada kalian telah melarang kalian untuk bertanya kepada mereka? Tidak demi Allah, kami tidak melihat seorang pun dari mereka yang bertanya kepada kalian tentang apa yang diturunkan kepada kalian.” 

Dikhawatirkan apabila seseorang membaca kitab-kitab tersebut akan membenarkan yang bathil atau mendustakan yang benar atau menjadi tersesat dan terfitnah agamanya. 

⑵ BOLEH
Boleh hukumnya apabila dia:
• Termasuk penuntut ilmu atau orang yang berilmu dengan Al-Qur’an dan Hadits.
• Kuat keimanannya, dalam ilmu agamanya, khususnya tentang masalah ‘aqidah, tauhid dan lain-lain.
• Dan tujuannya adalah ingin:
✓Membantah Ahlul Kitab.
✓Menerangkan penyimpangannya.
✓Menjelaskan pertentangan yang ada di dalam kitab tersebut.
✓Menunjukkan keistimewaan Al-Qur’an.
✓Menyingkap syubhat mereka.
✓Dan juga menegakkan hujjah atas mereka. 

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhum, bahwasanya orang-orang Yahudi datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, kemudian mereka menyebutkan bahwa seorang laki-laki dan wanita di antara mereka telah berzina. Maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, "Apa yang kalian temukan di dalam Taurat tentang masalah hukum rajam?" Mereka berkata, "Kami akan membuka aib-aibnya dan mereka akan dicambuk." 

- Maksudnya mereka mengingkari adanya ayat tentang rajam di dalam Taurat.
Kemudian ‘Abdullah Ibnu Salam radhiyallahu ‘anhu berkata, "Kalian telah berdusta, sesungguhnya di dalam Taurat ada ayat rajam."
Kemudian mereka mendatangkan Taurat dan membukanya. Salah seorang diantara mereka meletakkan tangannya di atas ayat rajam."

- Maksudnya menutupi.
Kemudian membaca ayat sebelumnya dan setelahnya kemudian ‘Abdullah Ibnu Salam berkata, "Angkatlah tanganmu!" Maka dia mengangkat tangannya, maka di dalamnya ada ayat tentang rajam. Mereka berkata, "Dia telah benar, wahai Muhammad, di dalamnya ada ayat tentang rajam." Maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menyuruh untuk merajam keduanya, kemudian keduanya dirajam. Berkata ‘Abdullah Ibnu Salam, "Maka aku melihat laki-laki tersebut memiringkan badannya ke arah wanita tersebut ingin melindunginya dari batu." (HR. Bukhari dan Muslim) 

Oleh karena itu, para ulama menulis kitab-kitab yang membantah Ahlul Kitab, dan membawakan di dalamnya beberapa nash dari kitab-kitab yang ada di tangan mereka sendiri, seperti: 

• Ibnu Hazm, di dalam kitabnya Al-Fashlu Fil Milali Wal Ahwai Wan Nihali.
(الفصل في الملل والأهواء والنحل)
• Abu ‘Abdillah Al-Qurthubiy, di dalam kitabnya Al-I’lamu Bima Fi Dinin Nashara Minal Fasadi Wal Awhami Wa Izh-aru Mahasinil Islami.
(الإعلام بما في دين النصارى من الفساد والأوهام وإظهار محاسن الإسلام)
• Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di dalam kitabnya Al-Jawabush Shahihu Liman Baddala Dinal Masihi.
(الجواب الصحيح لمن بدّل دين المسيح)
• Ibnul Qayyim, di dalam Kitabnya Hidayatul Hayara Fi Ajwibatil Yahudi Wan Nashara
(هداية الحيارى في أجوبة اليهود والنصارى)
• Dan juga kitab-kitab yang lain. 

Bersambung