Selasa, 16 Juni 2026

Silsillah Ilmiyyah 8 : 7 - Cara Beriman Kepada Para Rasul Bagian 5

Cara Beriman Dengan Para Rasul Bagian 5 

Diantara cara beriman dengan para rasul adalah:

7. Waspada dari ghuluw (berlebihan) terhadap para rasul alaihimussalam, seperti menganggap beliau mengetahui yang ghaib atau mensifati beliau dengan sifat-sifat ketuhanan dan Allah ‘azza wa jalla melarang ahlu kitab dari sikap ghuluw dengan firman-Nya, 

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۖ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ 

“Wahai ahlu kitab janganlah kalian berlebih-lebihan di dalam agama kalian dan janganlah kalian berkata atas nama Allah kecuali kebenaran, sesungguhnya Isa Ibn Maryam adalah rasulullah dan kalimatnya yang dia lemparkan kepada Maryam dan dia adalah ruh dariNya maka berimanlah kalian kepada Allah dan rasulNya dan janganlah kalian katakan Tuhan itu tiga." (QS. An-Nisa:171) 

Dan rasulullah ﷺ telah melarang kita untuk mengikuti langkah-langkah mereka, beliau ﷺ bersabda, 

لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ 

"Janganlah kalian memujiku dengan berlebihan, sebagaimana orang-orang Nashrani berlebih-lebihan di dalam memuji Ibn Maryam, sesungguhnya aku adalah hamba Allah dan rasulNya." (Shahih HR. Al-Imam Al-Bukhari) 

Dan diantara bentuk ghuluw orang-orang Nashrani adalah mengatakan ‘Isa anak Allah, orang Yahudi mengatakan ‘Uzair adalah anak Allah, Allah berfirman, 

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ 

“Telah berkat orang-orang Yahudi bahwa ‘Uzair adalah anak Allah dan berkata orang-orang Nashrani bahwa Al-Masih adalah anak Allah, demikianlah ucapan-ucapan mereka dengan mulut-mulut mereka, mereka menyamai ucapan orang-orang yang kafir sebelum mereka, Allah melaknat mereka, lalu bagaimana mereka berpaling.” (QS. At-Tawbah:30) 

Padahal para rasul alaihimussalam tidak memiliki sedikitpun sifat rububiyah dan uluhiyah yaitu sifat-sifat ketuhanan mereka tidak mengetahui yang ghaib kecuali setelah diberi tahu oleh Allah ‘azza wa jalla. Allah berfirman, 

عَـٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦۤ أَحَدًا (٢٦) إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ۬ فَإِنَّهُ ۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدً۬ا (٢٧ 

“Dia lah Allah yang mengetahui perkara yang ghaib maka tidaklah Dia menampakkan perkara yang ghaib kepada siapa pun, kecuali orang yang Allah ridhai dari kalangan para rasul.” (QS. Al-Jin:26-27) 

Dan mereka juga tidak bisa memberikan manfaat dan mudharat kecuali dengan kehendak Allah. Allah berfirman, 

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ 

“Katakanlah aku tidak memiliki untuk diriku sendiri manfaat dan mudharat kecuali apabila Allah menghendaki dan seandainya aku mengetahui perkara yang ghaib, niscaya aku akan memperbanyak kebaikan dan tentunya aku tidak akan ditimpa kejelekan, tidaklah aku kecuali sebagai pemberi peringatan dan pemberi kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-A’raf:188) 

Bersambung

Senin, 15 Juni 2026

Silsillah Ilmiyyah 8 : 6 - Cara Beriman Kepada Para Rasul Bagian 4

Cara Beriman Kepada Para Rasul Bagian 4 

Diantara cara beriman kepada para rasul adalah:

6. Meyakini bahwa mereka ma’sum yaitu terjaga dari dosa besar seperti: zina, mencuri, menipu, sihir, membuat berhala, dan lain lain. 

Ini adalah kesepakatan umat, adapun orang Yahudi dan Nashrani maka mereka menganggap para nabi dan rasul melakukan dosa besar, seperti keyakinan bahwa nabi Harun dialah yang membuat berhala dan keyakinan bahwa nabi Ibrahim mengorbankan istrinya (Sarah) kepada Firaun dan seperti keyakinan bahwa nabi Luth عَلَيهِ السَّلَامُ mabuk dan lain lain. 

Adapun dosa kecil maka menurut sebagian besar ulama terkadang seorang nabi melakukan dosa kecil namun tidak sampai berhubungan dengan wahyu dan dengan cepat sekali mereka bertaubat kepada Allah ‘azza wa jalla. 

Nabi Adam alaihi salam beliau dilarang untuk memakan buah tertentu di dalam surga, akan tetapi beliau melanggarnya kemudian beliau mengatakan, 

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ 

“Wahai Rabb kami, kami telah mendholimi diri kami sendiri dan seandainya Engkau tidak mengampuni dosa kami dan menyayangi kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf:23) 

Nabi Nuh عَلَيهِ السَّلَامُ meminta kepada Allah supaya menyelamatkan anaknya yang kafir, maka Allah ajja wajalla menegur beliau dan menasihati beliau kemudian beliau langsung meminta kepada Allah seraya berkata, 

قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ 

“Beliau berkata wahai Tuhanku sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari meminta kepadaMu sesuatu yang tidak aku memiliki ilmu tentangnya dan seandainya Engkau tidak mengampuni aku dan menyayangi aku, niscaya aku termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Hud:47) 

Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ pernah memukul orang Kifti (orang Mesir) yang berakibat terbunuhnya orang tersebut ini adalah dosa kecil karena pukulan nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ sebenarnya tidak mematikan dan beliau عَلَيهِ السَّلَامُ juga tidak bermaksud untuk membunuh, nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ mengiringi kesalahan ini dengan taubat kepada Allah. 

Allah berfirman, 

قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ 

“Beliau berkata, "Wahai Rabbku sesungguhnya aku mendzhalimi diriku sendiri maka ampunilah aku." Maka Allah pun mengampuni beliau sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayangm” (QS. Al-Qashas:16) 

Nabi Yunus عَلَيهِ السَّلَامُ pernah marah meninggalkan kaumnya karena mereka tidak menerima dakwah beliau dan setelah ditelan ikan yang besar, beliau pun segera meminta ampun kepada Allah. Allah berfirman, 

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ 

“Dan ingatlah kisah Dzunnun yaitu Yunus ketika dia pergi dalam keadaan marah lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau Maha Suci Engkau sungguh aku termasuk orang-orang yang dzhalim.” (QS. Al-Anbiya:87) 

Nabi Muhammad ﷺ ketika sedang mendakwahi pembesar Quraisy datang kepada beliau Ibnu Ummi Maktum ingin bertanya tentang sesuatu, maka beliau bermuka masam dan berpaling, Allah pun menurunkan firman-Nya, 

عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ (١) أَن جَآءَهُ ٱلۡأَعۡمَىٰ (٢) وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّهُ ۥ يَزَّكَّىٰٓ (٣)أَوۡ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكۡرَىٰٓ (٤ 

“Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling karena seorang buta telah datang kepadanya. dan tahukah engkau (wahai Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya atau dia ingin mendapatkan pengajaran yang memberi manfaat kepadanya.” (QS. Abasa:1-4) 

Setelah itu Rasulullah ﷺ pun memuliakannya sebagaimana yang dikabarkan oleh Annas bin Malik radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la di dalam Musnadnya. 

Bersambung

Jumat, 12 Juni 2026

Silsillah Ilmiyyah 8 : 5 - Cara Beriman Kepada Para Rasul Bagian 3

Cara Beriman Kepada Para Rasul Bagian 3

Diantara cara beriman dengan para rasul Allah: 

5. Meyakini dengan keyakinan yang dalam bahwa mereka (para rasul) adalah manusia. Menimpa mereka apa yang menimpa manusia yang lain, mereka makan, minum, mencari rezeki, menikah, memiliki keturunan, tertimpa sakit, terbunuh, meninggal dan lain-lain. 

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman, 

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ… 

“Katakanlah sesungguhnya aku adalah manusia seperti kalian diwahyukan kepadaku.” (QS. Al-Kahfi :110) 

Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman, 

… قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنْتُ إِلَّا بَشَرًا رَسُولًا 

“Katakanlah Maha Suci Rabbku tidaklah aku kecuali seorang manusia yang diutus.” (QS. Al-Isra:93) 

Mereka makan, minum dan mencari rezeki. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman, 

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ ۗ… 

“Dan tidaklah kami mengutus sebelummu seorang rasul kecuali mereka memakan makanan dan pergi ke pasar.” (QS. Al-Furqan:20) 

Mereka menikah dan memiliki keturunan. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman 

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً ۚ… 

“Dan sungguh Kami telah mengutus para rasul sebelummu dan kami telah menjadikan bagi mereka istri-istri dan keturunan.” (QS. Ar-Ra’d:38) 

Mereka ditimpa sakit. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman tentang nabi Ibrahim, 

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ 

“Dan apabila aku sakit, maka Allah Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Ash-Shu’ara:80) 

Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman tentang nabi Ayyub, 

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ 

“Dan ingatlah Ayyub ketika dia memanggil Rabbnya, "Sesungguhnya aku telah ditimpa sakit dan Engkau adalah Dzat Yang Maha Penyayang.” (QS. Al-Anbiya:83) 

Dari Abdullah Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, aku memasuki rasulullah ﷺ sedangkan beliau dalam keadaan demam, maka aku berkata, “Wahai rasulullah sesungguhnya engkau demam dengan demam yang sangat.” Beliau ﷺ mengatakan, “Iya sesungguhnya aku tertimpa demam sebagaimana dua orang diantara kalian tertimpa demam." (HR. Al Bukhari) 

Mereka (para rasulullah) meninggal dunia, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla, 

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ 

“Sesungguhnya engkau akan meninggal dan merekapun akan meninggal.” (QS. Az-Zumar:30) 

Dan Allah mengatakan, 

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ 

“Dan tidaklah Kami bagi seorang manusia sebelummu kekekalan, apakah seandainya engkau meninggal dunia maka mereka akan kekal.” (QS. Al-Anbiya:34) 

Dan ada diantara mereka yang mati terbunuh, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman, 

لَّقَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ فَقِيرٌ۬ وَنَحۡنُ أَغۡنِيَآءُ‌ۘ سَنَكۡتُبُ مَا قَالُواْ وَقَتۡلَهُمُ ٱلۡأَنۢبِيَآءَ بِغَيۡرِ حَقٍّ۬ وَنَقُولُ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡحَرِيقِ (١٨١ 

“Sungguh Allah telah mendengar ucapan orang-orang yang mengatakan, "Sesungguhnya Allah faqir dan kami adalah orang-orang kaya, sungguh Kami akan menulis apa yang mereka ucapkan dan pembunuhan mereka kepada para nabi tanpa haq dan Kami akan katakan rasakanlah azab yang membakar ini.” (QS. Ali-‘Imran:181) 

Bersambung