Selasa, 30 Juli 2024

Keberhasilan Berbanding Lurus Dengan Kerja Keras

Kajian        : Kajian Muslimah Masjid Daarut Tauhiid Kebayoran
Sifat           : Offline/OnlineMasjid Daarut Tauhiid Kebayoran
Pemateri    : Ustazah Sinta Santi
Tanggal      : Sabtu, 27 Juli 2024


Orang Yang Berhasil :
  • Orang yang mengetahui akhir kehidupannya menjadi sesuatu yang dipertimbangkan, akan berupaya untuk husnul khotimah.
    • "Sesungguhnya amal ibadah itu tergantung hasil akhirnya". (HR. Bukhori)
  • Orang yang mengetahui keterlibatannya dalam dakwah harus dilalui dengan kesatuan gerak dan langkah, akan melakukan koordinasi dan konsolidasi dengan baik.
    • Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Ankabut [29] : 69)
  • Orang yang meyadari tujuan hidup, akan memaksimalkan kerjanya.
    • Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaKu. (QS. Adz-Dzariyat [51] : 56)
    • Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al- Bayinah [98] : 5)
  • Orang yang menyadari hidup adalah tanggungjawab dan amanah, akan menjalankan dengan baik dan sungguh-sungguh.
    • Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al-Kitab, padahal ia bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan, "Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah", padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang  mereka mengetahui. (QS. Al-Imran [3] : 78)
    • Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. (QS. Al-Muminun [23] : 8)
    • Sesungguhnya orang-orang yag kafir kepada ayat- ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hagus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yag lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa [4] : 56)
  • Orang yang mengetahui dunia adalah ladang menuju akhirat, akan berjuang menjumpai dengan amal terbaik.
    • Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Al-Mulk [67] : 2)
    • Katakanlah : Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, yang diwahyukan kepadaku, "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan denga Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya. (QS. Al-Khaf [18] : 110)
  • Orang yang  mengetahui setiap kebaikan akan dibalas degan kebaikan, tidak akan ragu memperjuangkannya
    • Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). (QS. Ar-Rahman [55] : 60)
    • Balasan itu sesuai dengan jenis amalnya.
  • Orang yang mengetahui wahyu itu tidak berulang, akan menyegerakan urusannya.
    • Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Imran [3] : 133)

Kesuksesan Besar :
  1. Ikhlas dalam beramal
  2. Siap berkorban
  3. Memperjuangkan visi
  4. Usaha dan kerja keras (ruhiyah dan ibadah yang dikuatkan)
  5. Bekerja sesuai alur
  6. Doa
  7. Tawwakal

Sumber : PDF Kajian Muslimah Masjid Daarut Tauhiid, Kebayoran

Kamis, 25 Juli 2024

Siroh Shahabiyah : Juwairiyyah Binti Al-Harits - Wanita Agung, Barakah Bagi Kaumnya

Kajian        : Kajian Muslimah Masjid Daarut Tauhiid Kebayoran
Sifat           : Online/Offline - Masjid Daarut Tauhiid Kebayoran
Pemateri    : Ustazah Erika Suryani Dewi
Tanggal      : Sabtu, 20 Juli 2024


Juwairiyyah binti Al-Harits bin Abi Dhirar bin 'Aidz bin Malik bin Khuzaimah
  • Beliau berasal dari Bani Mushthaliq.
  • Nama aslinya adalah Barrah, lantas Rasulullah memberinya nama Juwairiyyah.
  • Suaminya dahulu bernama Musafi' bin Shafwan Al-Mushthaliqi. Ada juga yang meyatakan bahwa suaminya yang dulu adalah Shafwan bin Malik bin Khuzaimah yang merupakan anak dari pamannya.
Tawanan Perang Muraisi'
  • Suatu saat pemimpin Bani Mushthaliq, ayah dari Barrah (Juwairiyyah) berencana untuk menyerang kaum Muslimin di Madinah. bani Mushthaliq berniat untuk megalahkan pasukan tentara Islam dan mengambil alih kekuasaan di antara suku-suku Arab. Rencana itu pun sampai ke telinga Rasulullah.
  • Pertempuran tentara Islam melawan kaum kafir dari Bani Mushthaliq itu dikenal sebagai perang Muraisi', terjadi di suatu tempat yang bernama air Muraisi' dan terjadi pada bulan Syaban tahun ke 6 Hijriyah. Dalam pertempura itu, umat Islam meraih kemenangan. Pemimpin Bani Mushthaliq, Al-Harits melarikan diri dari medan peperangan dan suami Barrah tewas terbunuh.
  • Seluruh peduduk yang selamat, termasuk Barrah menjadi tawanan. Sebagai seorang terpelajar, mengetahui dirinya menjadi tawanan, Barrah mengajukan tawaran untuk membebasan diri. Ia lalu mecoba bernegosiasi dan meminta bertemu dengan Rasulullah. Ketika ia ingin bertemu Rasulullah, Aisyah RA sudah penuh khawatir karena melihat manis dan cantiknya Juwairiyyah, tiada seorang pun yang melihatnya melainkan akan jatuh hati kepadanya. Tatkala Juwairiyyah meminta kepada Rasulullah untuk membebaskan dirinya, Aisyah  RA merasa cemburu.
  • Tetap Juwairiyyah bisa bertemu dengan Rasulullah. Ketika ia bertemu Rasulullah, ia pun memperkenalkan diri bahwa ia adalah putri Al-Harits bin Abi Dhirar yang menjadi pemuka di kaumnya.
  • Tentang Juwairiyyah, Aisyah RA mengemukakan cerita sebagaimana yang disebutkan oleh Ibu Sa'ad dalam Thabaqatnya, "Rasulullah SAW menawan wanita-wanita Bani Mushthaliq, kemudian beliau menyisihkan seperlima dari mereka dan membagikannya kepada kaum muslimin. Bagi penunggang kuda mendapat dua bagian, dan lelaki yang lain mendapat satu bagian. Juwairiyyah jatuh ke tangan Tsabit bin Qais bin Samas Al-Anshari".
Keutamaan Juwairiyyah binti Al-Harits

1. Pernikahan Juwairiyyah dengan Rasulullah dan membebaskannya ia dari tawanan menyebabkan kaum Bani Mushthaliq masuk Islam, bahkan seluruh tawanan Bani Mushthaliq dibebaskan. Inilah keberkahan yang ada dari pernikahan Juwairiyyah dengan Rasulullah.
  • Saat Juwairiyyah jatuh ke tangan Tsabit bin Qais bin Samas Al-Anshari, Juwairiyyah menulis untuk Tsabit (bahwa ia hendak menebus dirinya sendiri) kemudian mendatangi Rasulullah agar mau menolong untuk menebus dirinya. Maka menjadi ibalah Rasulullah melihat kondisi  seorang wanita yang mulanya adalah seorang sayyidah merdeka (pemuka di kaumnya) yang mana ia memohon beliau untuk mengentaskan ujian yang menimpa dirinya. Maka Rasulullah bertanya kepada Juwairiyyah, "Maukah engkau mendapatkan hal yang lebih baik dari itu?" Maka Juwairiyyah menjawab dengan sopan, "Apakah itu ya Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "Aku tebus dirimu kemudian aku nikahi dirimu!" Maka tersiratlah pada wajahnya Juwairiyyah yang cantik suatu kebahagiaan sedangkan dia hampir-hampir tidak peduli dengan kemerdekaan dia karena remehnya. Juwairiyyah menjawab, "Mau ya Rasulullah". Maka Rasulullah bersbda, "Aku telah melakukannya".
  • Tersebarlah berita kepada manusia bahwa Rasulullah telah menikahi Juwairiyyah binti al-Harits bi Abi Dhirar. Maka orang-orang berkata, "Kerabat Rasulullah SAW". Lantas mereka melepaskan tawanan perang yang mereka bawa, "Maka sungguh dengan pernikahan Rasulullah dengan Juwairiyyah menjadi sebab dibebaskannya seratus keluarga dari Bani Mushthaliq. Maka aku tidak pernah mengetahui seorang wanita yang lebih berkah bagi kaumnya daripada Juwairiyyah". (HR. Ibnu Ishaq dalam As-Siyar wa Al-Maghazi 263, Abu Daud No.3931, Ahmad 6:277. Hadist ini dihasankan oleh Syeikh Al-Albani)
2.  Juwairiyyah dikenal rajin ibadah dan rajin berdzikir. Sehabis subuh ia punya kebiasaan berdiam diri di masjidnya, menyibukkan diri dengan dikir hingga matahari meninggi (hingga siang).
  • Dari Juwairiyyah RA bahwa Rasulullah pernah keluar dari sisinya pada pagi hari setelah shalat subuh sedangkan Juwairiyyah berada di tempat shalatnya. Setelah itu beliau pulang setelah tiba waktu Dhuha sedang Juwairiyyah masih dalam keadaan duduk. Lalu Rasulullah bertanya, "Apakah engkau tetap dalam ketika aku tinggalkan?" Juwairiyyah menjawab "Ya". Rasulullah bersabda, "Sungguh, aku telah mengucapkan setelahmu empat kalimat sebanyak tiga kali yag jika ditimbang dengan yang engkau ucapkan sejak tadi tentu akan menyamai timbangannya yaitu Suubhannallahi wa bihamdih, 'adadakholqih wa ridhoo nasih wa zinata 'arsyih wa midaada kalimaatih (artinya : Maha suci Allah, aku memujiNya, sebanyak makhlukNya, sejauh kerelaanNya, seberat timbangan Arsy-Nya dan sebanyak tinta tulisan kalimatNya".
  • Juwairiyyah pun dikenal semangat berpuasa sampai-sampai Rasulullah pernah menegurnya ketika mengetahui Juwairiyyah berpuasa pada hari Jumat. Dari Juwairiyyah binti Al-Harits RA bahwa Rasulullah pernah menemuinya pada hari Jumat dan ia dalam keadaan berpuasa, lalu beliau bersabda, "Apakah engkau berpuasa kemarin?""Tidak" jawabnya, "Apakah engkau ingin berpuasa besok?" tanya beliau lagi, "Tidak" jawabnya lagi, "Batalkanlah puasamu" kata Rasulullah. Hammad bin Al-Ja'd, ia mendengar Qotadah, Abu Ayyub mengatakan kepadanya bahwa Juwairiyyah berkata bahwa ia membatalkan puasanya ketika Rasulullah memerintahkan. (HR. Bukhari No.1986)
  • Ibnu Qudamah mengatakan, "Dimakruhkan menyendiri puasa pada hari Jumat saja kecuali jika bertepatan denga kebiasaan berpuasa seperti puasa Daud, yaitu sehari berpuasa sehari tidak, lalu bertepatan dengan hari Jumat atau bertepatan dengan kebiasaan puasa di awal, akhir atau pertengahan bulan". (Lihat Al-Mughni 3:53)
  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata dalam Syarh Al-Mumthi (6:465), "Dikecualikan dari larangan ini adalah jika berpuasa sebelum atau sesudah Jumat, atau bertepatan dengan kebiasaan puasa seperti berpuasa pada ayyamul bidh, atau bertepatan degan puasa Arafah, atau karena puasa nadzar".
3.  Kehidupan begitu sederhana sebagimana istri-istri Nabi lainnya. 
  • Di antara buktinya, Ubay bin As-Sabbaq menyatakan bahwa Juwairiyyah istri Rasulullah pernah mengatakan, Rasulullah pernah menemuinya lalu menanyakan, "Apakah ada makanan di rumah?" Ia menyatakan. "Tidak ada wahai Rasulullah, kami tidak memiliki makanan selain tulang kambing yang didapati dari bekas budakku itu dan itu dari harta shadaqah". Rasulullah mengatakan, "Bawa sini karena shadaqah itu tidak masalah lagi bagiku (artinya : sudah berubah hukumnya karena sudah dimiliki oleh yang menerima shadaqah maka bebas ia berikan kepada lainnya). (HR. Muslim No.1806)
Jumhur (mayoritas) ulama mengatakan bahwa Juwairiyyah RA meninggal dunia pada Rabi'ul Awwal tahun 56H di masa Khalifah Mu'awiyah.
  • Bercermin dari pribadi Ummul Mu'minin Juwairiyyah RA yang cerdas, ahli ibadah, rajin berdzikir dan puasa, serta hidup bersahaja dalam kesederhanaan padahal dia adalah seorang istri pemimpin umat, putri dari pemimpin kabilah Bani Mushthaliq, semua kedudukan dunianya tidak menjadikannya silau terhadap kehidupan yang fana.
  • Semoga kita para muslimah bisa menjadikan Juwairiyyah RA sebagai tauladan di jaman fitnah ini. 

Sumber : PDF Kajian Muslimah Masjid Daarut Tauhiid, Kebayoran

Selasa, 23 Juli 2024

Rumus-Rumus Kehidupan

Kajian        : Kajian Dhuha Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran
Sifat           : Offline/Online - Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran
Pemateri    : Ustad Subhan Bawazier
Tanggal      : Ahad, 21 Juli 2024


Rumus-Rumus Kehidupan ada 3 yakni:

1. Mengkritisi iman dan membaguskan amal sholeh.
  • QS. Al-Asr [103] : 1-3. Artinya : [1] Demi Masa. [2] Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. [3] Kecuali Orang-orang yang beriman dan beramal sholeh serta saling menasehati untuk kebenaran dan kesabaran.
2. Ulama menekankan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah. 
  • Fokus apakah ibadah-ibadah yang dilakukan apakah sudah seperti yang dicontohkan Rasulullah. Lakukan yang dicontohkan dan jauhkan dari yang tidak dicontohkan Rasulullah.
3. Sibukkan dirimu dengan pekerjaan dan ilmu yang bermanfaat.
  • Doanya, "Allahumma inni a'udzubika min ilmin laa yanfa". Artinya, "Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat".

Selasa, 16 Juli 2024

Maaf Aku Tidak Bisa Menikahimu

Kajian        : Kajian Sehati Masjid Daarut Tauhiid Kebayoran
Sifat           : Online Zoom Ngopi Sehati
Pemateri    : Ustad Isnan Ansory, Lc, M.Ag
Tanggal      : Ahad, 7 Juli 2024


Maaf aku tidak bisa menikahimu, kenapa? Maksudnya jangan sampai pernikahan menjadi malapetaka, menjadi kemurkaan Allah, menjadi sesuatu yang tidak sesuai harapan.

Pernikahan dalam Islam merupakan lafad/akad yang setara dengan syahadat. Jadi bukan ucapan main-main.

Dalam Al-Quran Allah menyebutkan adanya akad dengan istilah Mistaqon ghalidzah (ikatan yang kuat) dalam 3 konteks:
  1. Persaksian antara seorang hamba bahwa tiada Tuhan selain Allah (syahadat).
  2. Perjanjian Bani Israil kepada Allah untuk mentaati Taurat yang dibawa nabi Musa AS.
  3. Ikatan yg menghubungkan dua insan dalam suatu pernikahan dengan tujuan dalam rangka beribadah kepada Allah (Mistaqon ghalidzah).
Pasangan yang kita nikahin jangan sampai merupakan orang yang tidak boleh kita nikahi. Maka kita harus pastikan, persiapan menuju pernikahan bukan hanya kita dari kita menilai kualitas pasangan kita namun tapi juga dari aspek apakah itu menurut Allah sesuatu yang sah kita nikahi

Istilah yang dijelaskan di Al-Quran yang mengatur tentang boleh tidaknya dinikahi, yang menjadi subjek adalah laki-laki sedangkan yang menjadi objek adalah perempuan. Tertera pada QS. An-Nisa [4] : 22,23,24 - Ayat yang ditujukan kepada pihak laki-laki yang diharamkan menikahi wanita-wanita tertentu (pihak yang tidak boleh dinikahi/maharim dalam Al-Quran). Khususnya harus diketahui juga para wali nikah.

Artinya :
[22] - Janganlah kamu menikahi wanita-wanita yang telah dinikahi ayahmu, kecuali (kejadian pada masa) yang telah lampau. Sesungguhnya (perbuatan) itu sangat keji dan dibenci  (oleh Allah) dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).
[23] - Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu, anak-anak perempuanmu, saudara-saudara perempuanmu, saudara-saudara perempuan ayahmu, saudara-saudara perempuan ibumu, anak-anak perempuan dari saudara laki-lakimu, anak-anak perempuan dari saudara perempuanmu, ibu yang menyusuimu, saudara-saudara perempuanmu sesusuan, ibu istri-istrimu (mertua), anak-anak perempuan dari istrimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum bercampur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan) tidak berdosa bagimu (menikahinya), (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu), dan (diharamkan pula) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali (kejadian pada masa) yang telah lampau. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
[24] - (Diharamkan juga bagi kamu menikahi) perempuan-perempuan yang bersuami, kecuali hamba sahaya perempuan (tawanan perang) yang kamu miliki sebagai ketetapan Allah atas kamu. Dihalalkan bagi kamu selain (perempuan-perempuan) yang  demikian itu,  yakni kamu mencari (istri) dengan hartamu (mahar) untuk menikahinya, bukan untuk berzina. Karena kenikmatan yag telah kamu dapatkan dari mereka, berikanlah  kepada mereka imbalannya (mas kawinnya) sebagi suatu kewajiban. Tidak ada dosa bagi kamu mengenai sesuatu yang salig kamu relakan sesudah menentukan kewajiban (itu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.


Wanita Yang Haram Dinikahi 
(Objek pihak Laki-laki, Subjek pihak Wanita)

Mahrom :
1. Mahrom Selamanya (Mu'abbad) 
  • Yakni mertua (walaupun pasangan bercerai), sehingga tidak ada istilah mantan mertua maupun mantan menantu.
  • Yang menyebabkan mahrom Selamanya :
        a. Mahrom karena Nasab :
    • Objeknya pihak Laki-laki
      • Ibu kandung
      • Anak perempuan
      • Saudara-saudara perempuan ayahmu/ibumu
      • Bibi (Bude/Lek perempuan dari ayah/ibu)
      • Keponakan-keponakan dari istri
      • Keponakan-keponakan dari saudari-saudari perempuan ayah/ibu
        b. Mahrom karena Pernikahan :
    • Objeknya pihak Laki-laki
      • Mertua istri
      • Anak-anak Istri (Anak Tiri Suami), menjadi mahrom ada 2 syarat : 1. Terjadi pernikahan antara ibunya dan bapak tirinya, 2. Terjadi hubungan seksual antara ibunya dan bapak tirinya. Jika 2 syarat tersebut tidak terjadi maka tidak menjadi mahrom.
      • Istri Ayah
      • Istri Anak Kandung
        c. Mahrom karena Persusuan :
    • Objeknya pihak Laki-laki
      • Ibu susuan
      • Saudara sesusuan. Setiap wanita yang diberi ASI oleh ibu susuan (Rasulullah memberikan catatan penting bahwa bahkan semua keluarga yang satu nasab dari ibu susuan itu tidak boleh dinikahi). Semisalpun anak kandung ibu susuan itu tidak menyusui anaknya sendiri tetap bisa menjadi saudara sesusuan dengan yag disusui ibu susunya.
    • Ada 4 syarat menjadi bisa mahram karena sepersusuan :
    1. Air ASI masuk ke perut sang anak.
    2. Sampai kenyang.
    3. Minimal pemberian air ASI 5x yang mengenyangkan (kurang dari 5x itu tidak menjadikan mahrom).
    4. Umur maksimal tidak lebih dari 2 tahun.
    • Jika ada pasangan yang mengangkat anak dan ingin anaknya menjadi mahrom maka sebelum berumur 2 tahun bisa disusui, jika ibu angkatnya tidak bisa menyusui maka susui dengan keluarga tersebut, jika anaknya laki-laki susui dengan keluarga ibu angkat, jika anaknya perempuan susui dengan keluarga ayah angkatnya agar menjadi mahrom.
    • Jika terjadi ketidaktahuan sepersusuan sementara sudah menikah maka ketika diketahui sepersusuan pernikahannya fasakh/batal (bukan cerai/talaq), pernikahannya di mata hukum sah karena ketidaktahuan namun pernikahannya fasakh/batal (bukan cerai/talaq) dan jika sudah mempunyai anak, anak tersebut tetap bisa nasab ke ayahnya karena ada unsur ketidaktahuan.
    • Hukum ibu susuan hanya berlaku hukum ke-mahraman, tidak ada kewajiban menafkahi, tidak bisa mewarisi, bahkan bisa dizakati.
  • Boleh terlihat aurat kecil*
  • Boleh bersentuhan
  • Boleh berkhalwat
  • Boleh bepergian bersama

2. Mahrom Sementara (Mu'aqqot)
  • Yakni ipar, bibi dari istri kita (saudari-saudari perempuan dari ayah/ibu mertua), wanita yang berbeda agama, dll.
  • Yang menyebabkan mahrom Sementara :
        a. Mahram karena Pernikahan
    • Objeknya pihak Laki-laki
      • Jika menikah otomatis menjadi mahram, jika bercerai/meninggal otomatis tidak menjadi mahram lagi dan bisa dinikahi.
  • Haram terlihat aurat kecil*
  • Haram bersentuhan
  • Haram berkhalwat
  • Haram bepergian bersama

*Penjelasan :
Aurat manusia ada 2 jenis : Aurat Besar dan Aurat Kecil.
Aurat besar dan aurat kecil pada laki-laki dan wanita berbeda.
Aurat kecilnya laki-laki itu merupakan aurat besarnya wanita.
Aurat besar hanya boleh dilihat oleh pasangan suami istri yang menikah. Walaupun ketika memandikan jenazah.
Aurat kecil boleh dilihat mahram yakni mahram Selamanya.
Aurat kecil laki-laki antara pusar dan lutut.
Aurat besar laki-laki adalah kemaluan, yang boleh melihat hanya istri.
Aurat kecil wanita seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan (termasuk punggung tangan bagian depan dan belakang), payudara termasuk aurat kecil namun tidak etis jika terlihat.
Aurat  besar wanita antara pusar, kemaluan, lutut.
Lebih amannya selain menjaga aurat besar harus menjaga aurat kecil, memakai hijab walaupun di rumah.

Sabtu, 06 Juli 2024

Penyakit Ain - Fahami Agar Bisa Mencegah Dan Mengobati

Kajian        : Kajian Al-Hikam Masjid Al-Latief Lantai 5 Pasaraya Blok M
Sifat           : Online/Offline - Masjid Al-Latief Lantai 5 Pasaraya Blok M
Pemateri    : Ustad Ahmad Rosyidin Mawardi
Tanggal      : Selasa, 2 Juli 2024


Definisi Penyakit Ain

Penyakit Ain adalah penyakit yang timbul akibat pandangan mata yang bersamaan dengan rasa iri atau rasa takjub orang lain. Orang yang memandang ini terkenal dengan sebutan nadzir dan perkara yang orang yang iri itu memandang bernama mandzur.

Penyakit mata bisa bersumber dari pandangan orang yang dengki dan jahat karena iri atau hasad.

Penyakit mata ini juga bisa timbul dari pandangan orang yang cinta dan orang baik karena takjub.


Menurut Al-Ibnu Hajar Al-Asqolani

Dalam kitab Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqolani menjelaskan penyakit ain sebagai berikut:

"Penyakit ain adalah pandangan suka bersamaan dengan dengki yang berasal dari kejelekan tabiat, yang dapat menyebabkan orang yang orang itu pandang tersebut tertimpa suatu bahaya".


Penyebab Penyakit Ain

Selanjutnya, Ibnu Hajar menjelaskan bahwa penyakit itu bukan hanya timbul dari pandangan orang yang dengki, namun juga dari orang yang cinta dan orang yang soleh karena takjub tanpa sengaja. Beliau berkata:

"Sesungguhnya ain dapat terjadi bersama rasa takjub meski tanpa bersamaan dengan rasa iri, meskipun dari orang yang paling mencintai dan dari orang yang soleh".


Dalil Adanya Penyakit Ain

Salah satu dalil yang menjadi dasar bagi Ibnu Hajar bahwa penyakit ain juga timbul dari rasa takjub adalah HR. Bukhari dari Sahl bin Hunaif, dia berkata bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

"Jika salah satu di antara kalian melihat perkara yag menakjubkan, baik dalam diri sendiri atau dalam harta, maka berdoalah agar perkara tersebut mendapatkan berkah, karena sesungguhnya penyakit ain adalah nyata".

Melalui hadist ini dan penjelasan di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa penyakit mata ini akibat pandangan degki atau takjub pada seseorang, harta atau benda lainnya. Karena itu, jika seseorang melihat perkara yang menakjubkan, maka hendaknya dia mendoakan agar perkara tersebut mendapatkan berkah dari Allah.


Penyakit Ain Dalam Al-Quran

Penyakit ain juga dijelaskan di dalam Al-Quran yakni QS. Al-Qalam [68] : 51, artinya:

Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu, hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengarkan Al-Quran dan mereka berkata, "Sesungguhnya ia (Muhammad SAW) benar-benar orang yang gila".

Efek dari pandangan ain ini dapat bermacam-macam, ada yang bisa membuat orang dipandang celaka, sakit atau bahkan hingga menyebabkan kematian. Oleh sebab itu, penyakit ini digolongkan sebagai penyakit yang tidak dapat dideteksi secara medis dan berbahaya karena pada dasarnya semua orang mempunyai kekuatan tertentu dan pandangannya.

Penyakit ain ini tidak hanya menyerang orang dewasa saja, tetapi dapat menyerang anak-anak.Hal ini biasanya ditandai ketika orangtua sudah membawa anak utuk berobat ke berbagai tempat, tetapi tetap tidak ada hasil, karena penyakitnya bukan berasal dari sisi medis.


Ringkasnya

Maka dari itu, para ulama menyimpulkan bahwa ain adalah penyakit non medis yang timbul karena pandangan kagum atau atau takjub disertai dengan rasa iri dengki dari seseorang yang memiliki tabiat buruk dan mengakibatkan adanya bahaya pada orang yang dilihatnya.

Ain juga dapat diartikan sebagai pandagan terhadap sesuat hal dalam keadaan lupa dengan rasa kagum terhadap yang dilihatnya atau rasa dengki tanpa berdzikir kepada Allah.


Penyakit Ain Dapat Dibagi Menjadi 2 janis, Yaitu:
  1. Pandangan dari orang yang sebenarnya mempunyai tabiat buruk di dalam hatinya terhadap rasa hasud, dengki dan igin mencelakai terhadap orang yang dipandangnya.
  2. Pandangan kekaguman atau ketakjuban kepada orang, sehingga akan timbul rasa dengki tetapi kekaguman tersebut tidak disertai dzikir kepada Allah.

Pandangan Kagum Juga Bisa Menyebabkan Ain

Dalam hadist dari Abu Umamah bin Sahl, ia berkata:

Suatu saat ayahku, Sahl bin Hunaif, mandi di Al-Kharrar. Ia membuka jubah yang ia pakai, dan 'Amir bin Rabi'ah ketika itu melihatnya. Dan Sahl adalah seorang yang putih kulitnya serta indah. Maka 'Amir bin Rabi'ah pun berkata, "Aku tidak pernah melihat kulit indah seperti yang kulihat pada hari ini, bahkan mengalahkan kulit wanita gadis". Maka Sahl pun sakit seketika di tempat itu dan sakitnya semakin bertambah parah. Hal ini pun dikabarkan kepada nabi Shallallahu'alaihi Wassalam, " Sahl sedang sakit dan ia tidak bisa berangkat bersamamu wahai Rasulullah". Maka rasulullah Shallallahu'alaihi Wassalam pun menjenguk Sahl, lalu Sahl bercerita kepada Rasulullah tentang apa yang dilakukan 'Amir bin Rabi'ah, Maka rasulullah Shallallu'alaihi Wassalam bersabda, 'Mengapa seseorang menyakiti saudaranya? Mengapa engkau tidak mendoakan keberkahan? Sesungguhnya penyakit ain itu benar adanya, maka berwudhulah untuknya!" 'Amir bin rabi'ah lalu berwudhu untuk disiramkan air bekas wudhunya ke Sahl. Maka Sahl pun sembuh dan berangkat bersama Rasulullah Shallallahu'alaihi Wassalam". (HR. Malik dalam Al-Muwatha' [2/938])

Dalam hadist ini 'Amir bin Rabi'ah memandang Sahl bin Hunaif dengan penuh kekaguman, sehingga menyebabkan Sahl terkena ain.


Bagaimana Mencegah Penyakit Ain

Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan:

Orang yang memandang dengan pandangan kagum khawatir bisa menyebabkan ain pada benda yang ia lihat, maka cegahlah keburukan tersebut dengan mengucapkan: "Allahumma baarik'alaih". (Ath-Thibbbun Nabawi, 118)


Cara Mencegah Agar Pandangan Kita Tidak menimbulkan Penyakit Ain

Sebagian ulama berpendapat bahwa untuk mencegah ain ketika melihat suatu hal yang menakjubkan pada orang lain mengucapkan:

"Masyaallah laa haula walaa quwwata illa billah"

Dari sisi orang memandang, hadist-hadist menunjukkan bahwa untuk mencegah ain adalah dengan tabrik (mendoakan keberkahan), misalnya mengucapkan: "Baarakallahu fiik" (semoga Allah memberkahimu) atau "Baarakallahu laka" (semoga Allah memberkahimu).

Nabi Shallallahu'alaihi Wassalam bersabda:

"Jika salah seorang dari kalian melihat  pada diri saudaranya suatu hal yang menakjubkan maka doakanlah keberkahan baginya, karena ain itu benar adanya". (HR. An-Nasai No.10872, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih An-Nasa'i)

Dan yang paling penting agar tidak menimbulkan penyakit ain agar tidak menimbulkan penyakit ain pada diri orang lain adalah menghilangkan rasa hasad kepada orang lain. Karena hasad itu tercela. Dari Anas bin Malik Radhiallahu'anhu, Rasulullah Shallallahu'alaihi Wassalam bersabda:

"Janganlah kalian saling membenci, saling memutus hubungan, saling menjauh, saling hasad. Jadilah kalian sebagai hamba yang bersaudara". (HR. Bukhari Np.6076, Muslim No.2559)

Dan hasad kepada nikmat yang didapatkan orang lain berarti tidak ridha kepada keputusan Allah dan pembagian rezeki oleh Allah. Allah Ta'ala  berfirman yang artinya:

"Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu". (QS. An-Nisa [4] : 32)


Ain Bisa Terjadi Pada Benda Mati

Para ulama mengatakan bahwa benda mati juga bisa terkena ain. Benda mati yang terkena ain bisa mengakibatkan rusak atau hancur secara tiba-tiba. Wa'iyyadzu billah. Dalam hadist Nabi Shallallahu'alaihi Wassalam berdoa:

"Allahumma inni asalukal 'afwa wal 'aafiyata fiidiinii wadunyaaya wamaalii" (Ya Allah, aku meminta ampunan dan keselamatan pada agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku). (HR. Abu Daud No.5074)

Allah Ta'ala berfirman yang artinya:
Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu "Masyaallah laa quwwata illaa billah". Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hak harta dan keturunan. (QS. Al-Kahfi [18] : 39)

Para ulama menjadikan ayat ini dalil bahwa harta bisa terkena ai dan boleh dirugyah ketika terkena ain. Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:

"Sebagian salaf mengatakan: Orang yang kagum pada keadaannya atau hartanya atau pada anaknya, hendaknya ucapkan Masyaallah laa quwwata illaa billah. Ini diambil dari ayat yang mulia ini". (Tafsir Ibnu Katsir)


Cara Agar Kita Tidak Terkena Ain

Hal pertama yang perlu dilakukan agar terhindar dari penyakit ain adalah meghidari sikap suka pamer, dan berhias diri dengan sikap tawadhu. Rasulullah Shallallahu'alaihi Wassalam bersabda:

"Sungguh Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendahkan diri agar tidak ada seorang pun yang berbangga diri pada yang lain dan agar tidak seorang pun berlaku dzalim pada yang lain". (HR. Muslim No.2865)

Sebisa mungkin hindari menyebut-nyebut kekayaan, kesuksesan usaha, kebahagiaan keluarga, juga memamerkan foto anak, foto diri, foto istri/suami, dan hal-hal lain yang bisa menimbulkan iri dengki dari orang yang melihatnya. Atau juga bisa menyebabkan kekaguman berlebihan dari orang yang melihatnya. Karena pandangan kagum juga bisa menyebabkan ain sebagaimana sudah disebutkan.

Kemudian di antara upaya pencegahan penyakit ain adalah menjaga dan memelihara semua kewajiban dan menjauhi segala larangan, taubah dari segala macam kesalahan dan dosa, juga membentengi diri dengan beberapa dzikir, doa, dan ta'awudz (doa perlindungan) yang disyariatkan.

Allah Ta'ala berfirman yang artinya:

"Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)". (QS. Asy-Syuura [42] : 30)

Allah Ta'ala juga berfirman yang artinya:

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram". (QS. Ar-Ra'd [13] : 28)

Rutinkan dzikir pagi dan dzikir petang (ratib) serta dzikir-dzikir harian seperti dzikir keluar/masuk rumah, dzikir keluar/masuk kamar mandi, dzikir hendak tidur atau bangun, dzikir naik kendaraan, dzikir ketika akan makan, dzikir setelah solat, dan lainnya.

Di antara dzikir pencegah ain yang bisa dibaca kepada anak-anak agar tidak terkena ain adalah sebagaimana yang ada ddalam haist Ibnu abbas Radhiallahu'anhu bahwa Nabi Shallallhu'alaihi Wassalam mendoakan Hasa dan Husain dengan doa: 

"U'iidzukuma bikalimaatillahit taammah, min kulli syaithaanin wa haamah wa min kulli 'ainin laamah" (Aku meminta perlindungan untuk kalian dengan kalimat Allah yang sempurna dari gangguan syetan dan racun, dan gangguan ain yang buruk). Lalu Nabi Shallallahu'alaihi Wassalam bersabda, "Dahulu ayah kalian (Nabi Ibrahim AS) merugyah Ismail dan Ishaq dengan doa ini". (HR. Abu Daud No.4737, Ibnu Hibban No.1012, dishahihkan Syu'ain Al-Arnauth dalam Takhrij Ibnu Hibban)


Cara Mengobati Penyakit Ain

Adapun orang yang terlanjur terkena ain maka yang pertama kali harus dilakukan adalah bersabar. Hendaknya ia menyakini bahwa penyakit ain itu terjadi atas izin Allah. Allah Ta'ala berfirman yag artinya:

"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu". (QS. At-Taghabun [64] : 11)

Dan hendaklah ia bertawakal hanya kepada Allah. Ia menyakini bahwa satu-satunya yang bisa menyembuhkan hanyalah Allah Ta'ala, Allah Ta'ala berfirman yang artinya:

"Jika Allah menimpakan suatu mudharat kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Allah sendiri". (QS. Al- An'am [6] : 17)

Jika orang yang terkena ain bertawakallah kepada Allah sepenuhnya maka pasti akan Allah sembuhkan. Allah Ta'ala berfirman yang artinya:

"Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah pasti akan Allah penuhi kebutuhannya". (QS. Ath-Thalaq [65] : 3)


Mengambil Sebab Dengan Hal-Hal Berikut:

1. Mandi dari air bekas mandi orang yang menyebabkan ain.

Sebagaimana hadist dari Ibnu Abbas Radhiallahu'anhu, Nabi Shallallahu'alaihi Wassalam bersabda:

"Ain itu benar adanya. Andaikan ada perkara yang bisa mendahului takdir, maka itulah ain. Maka jika kalia mandi, gunakanlah air mandinya itu (untuk memandikan orang yang terkena ain)". (HR. Muslim No.2188)

2. Mandi dari air bekas  wudhu orang yang menyebabkan ain.

Sebagaimana disebutkan dalam hadist Abu Umamah bin Sahl di atas. Nabi Shallallhu'alaihi Wassalam memerintahkan Amir bin Rabi'ah untuk berwudhu dan menyiramka air wudhunya kepada Sahl yang terkena ain. Dalam riwayat  yang lain:

"Lalu Nabi shallallahu'alaihi Wassalam memerintahka Amir untuk berwudhu. lalu Amir membasuh wajah dan kedua tangannya hingga sikunya, dan membasuh kedua lututnya dan bagian dalam sarungnya. lalu Nabi memerintahkannya utuk menyiramkannya kepada Sahl". (HR. An-Nasai No.7617, Ibnu Majah No.3509, Ahmad No.15980)

Dari Aisyah Radhiallahu'anha , ia berkata:

"Dahulu orang yang mejadi penyebab ain diperintahkan utuk berwudhu, lalu orang yang terkena ain mandi dari air sisa air wudhu tersebut". (HR. Ahmad No.3885)

3. Ruqyah

Sebagaimana hadist dari Asma binti Umais Radhianllahu'anha, ia berkata:

"Wahai Rasulullah, Bani Jafar terkena peyakit ain, bolehkan kami minta mereka diruqyah?" Nabi menjawab, "Iya boleh. Andaikan ada yang bisa mendahului takdir, itulah ain". (HR. Tirmidzi No.2059, Ibnu Majah No.3510)

Ada beberapa cara meruqyah orang yang terkena ain, diantaranya denga membacakan doa yang ada dalam hadist Aisyah Radhiallahu'anhu, ia berkata "Ketika Rasulullah Shallallahu'alaihi Wassalam merasakan sakit, Malaikat Jibril meruqyahnya dengan doa: "Bismillahi yubrik, wa min kulli daa-in yayfiik, wa min syarri haasidin idza hasad, wa syarri kulli dzii'ainin" (Dengan nama Allah yang menyembuhkanmu. Ia menyembuhkanmu dari segala penyakit dan dari keburukan orang yang hasad dan keburukan orang yang menyebabkan ain). (HR. Muslim No. 2185)

Atau membaca doa -doa ruqyah dari hadist-hadist shahih yang lainnya, serta ayat-ayat Al-Quran. Dan semua ayat-ayat Al-Quran bisa untuk meruqyah.



*Sumber : PDF Kajian Al-Hikam Masjid Al-Latief Pasaraya