Kajian : Kajian Al-Hikam Masjid Al-Latief Lantai 5 Pasaraya Blok M
Sifat : Online/Offline - Masjid Al-Latief Lantai 5 Pasaraya Blok M
Pemateri : Ustad Ahmad Rosyidin Mawardi
Tanggal : Selasa, 2 Juli 2024
Definisi Penyakit Ain
Penyakit Ain adalah penyakit yang timbul akibat pandangan mata yang bersamaan dengan rasa iri atau rasa takjub orang lain. Orang yang memandang ini terkenal dengan sebutan nadzir dan perkara yang orang yang iri itu memandang bernama mandzur.
Penyakit mata bisa bersumber dari pandangan orang yang dengki dan jahat karena iri atau hasad.
Penyakit mata ini juga bisa timbul dari pandangan orang yang cinta dan orang baik karena takjub.
Menurut Al-Ibnu Hajar Al-Asqolani
Dalam kitab Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqolani menjelaskan penyakit ain sebagai berikut:
"Penyakit ain adalah pandangan suka bersamaan dengan dengki yang berasal dari kejelekan tabiat, yang dapat menyebabkan orang yang orang itu pandang tersebut tertimpa suatu bahaya".
Penyebab Penyakit Ain
Selanjutnya, Ibnu Hajar menjelaskan bahwa penyakit itu bukan hanya timbul dari pandangan orang yang dengki, namun juga dari orang yang cinta dan orang yang soleh karena takjub tanpa sengaja. Beliau berkata:
"Sesungguhnya ain dapat terjadi bersama rasa takjub meski tanpa bersamaan dengan rasa iri, meskipun dari orang yang paling mencintai dan dari orang yang soleh".
Dalil Adanya Penyakit Ain
Salah satu dalil yang menjadi dasar bagi Ibnu Hajar bahwa penyakit ain juga timbul dari rasa takjub adalah HR. Bukhari dari Sahl bin Hunaif, dia berkata bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Jika salah satu di antara kalian melihat perkara yag menakjubkan, baik dalam diri sendiri atau dalam harta, maka berdoalah agar perkara tersebut mendapatkan berkah, karena sesungguhnya penyakit ain adalah nyata".
Melalui hadist ini dan penjelasan di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa penyakit mata ini akibat pandangan degki atau takjub pada seseorang, harta atau benda lainnya. Karena itu, jika seseorang melihat perkara yang menakjubkan, maka hendaknya dia mendoakan agar perkara tersebut mendapatkan berkah dari Allah.
Penyakit Ain Dalam Al-Quran
Penyakit ain juga dijelaskan di dalam Al-Quran yakni QS. Al-Qalam [68] : 51, artinya:
Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu, hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengarkan Al-Quran dan mereka berkata, "Sesungguhnya ia (Muhammad SAW) benar-benar orang yang gila".
Efek dari pandangan ain ini dapat bermacam-macam, ada yang bisa membuat orang dipandang celaka, sakit atau bahkan hingga menyebabkan kematian. Oleh sebab itu, penyakit ini digolongkan sebagai penyakit yang tidak dapat dideteksi secara medis dan berbahaya karena pada dasarnya semua orang mempunyai kekuatan tertentu dan pandangannya.
Penyakit ain ini tidak hanya menyerang orang dewasa saja, tetapi dapat menyerang anak-anak.Hal ini biasanya ditandai ketika orangtua sudah membawa anak utuk berobat ke berbagai tempat, tetapi tetap tidak ada hasil, karena penyakitnya bukan berasal dari sisi medis.
Ringkasnya
Maka dari itu, para ulama menyimpulkan bahwa ain adalah penyakit non medis yang timbul karena pandangan kagum atau atau takjub disertai dengan rasa iri dengki dari seseorang yang memiliki tabiat buruk dan mengakibatkan adanya bahaya pada orang yang dilihatnya.
Ain juga dapat diartikan sebagai pandagan terhadap sesuat hal dalam keadaan lupa dengan rasa kagum terhadap yang dilihatnya atau rasa dengki tanpa berdzikir kepada Allah.
Penyakit Ain Dapat Dibagi Menjadi 2 janis, Yaitu:
- Pandangan dari orang yang sebenarnya mempunyai tabiat buruk di dalam hatinya terhadap rasa hasud, dengki dan igin mencelakai terhadap orang yang dipandangnya.
- Pandangan kekaguman atau ketakjuban kepada orang, sehingga akan timbul rasa dengki tetapi kekaguman tersebut tidak disertai dzikir kepada Allah.
Pandangan Kagum Juga Bisa Menyebabkan Ain
Dalam hadist dari Abu Umamah bin Sahl, ia berkata:
Suatu saat ayahku, Sahl bin Hunaif, mandi di Al-Kharrar. Ia membuka jubah yang ia pakai, dan 'Amir bin Rabi'ah ketika itu melihatnya. Dan Sahl adalah seorang yang putih kulitnya serta indah. Maka 'Amir bin Rabi'ah pun berkata, "Aku tidak pernah melihat kulit indah seperti yang kulihat pada hari ini, bahkan mengalahkan kulit wanita gadis". Maka Sahl pun sakit seketika di tempat itu dan sakitnya semakin bertambah parah. Hal ini pun dikabarkan kepada nabi Shallallahu'alaihi Wassalam, " Sahl sedang sakit dan ia tidak bisa berangkat bersamamu wahai Rasulullah". Maka rasulullah Shallallahu'alaihi Wassalam pun menjenguk Sahl, lalu Sahl bercerita kepada Rasulullah tentang apa yang dilakukan 'Amir bin Rabi'ah, Maka rasulullah Shallallu'alaihi Wassalam bersabda, 'Mengapa seseorang menyakiti saudaranya? Mengapa engkau tidak mendoakan keberkahan? Sesungguhnya penyakit ain itu benar adanya, maka berwudhulah untuknya!" 'Amir bin rabi'ah lalu berwudhu untuk disiramkan air bekas wudhunya ke Sahl. Maka Sahl pun sembuh dan berangkat bersama Rasulullah Shallallahu'alaihi Wassalam". (HR. Malik dalam Al-Muwatha' [2/938])
Dalam hadist ini 'Amir bin Rabi'ah memandang Sahl bin Hunaif dengan penuh kekaguman, sehingga menyebabkan Sahl terkena ain.
Bagaimana Mencegah Penyakit Ain
Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan:
Orang yang memandang dengan pandangan kagum khawatir bisa menyebabkan ain pada benda yang ia lihat, maka cegahlah keburukan tersebut dengan mengucapkan: "Allahumma baarik'alaih". (Ath-Thibbbun Nabawi, 118)
Cara Mencegah Agar Pandangan Kita Tidak menimbulkan Penyakit Ain
Sebagian ulama berpendapat bahwa untuk mencegah ain ketika melihat suatu hal yang menakjubkan pada orang lain mengucapkan:
"Masyaallah laa haula walaa quwwata illa billah"
Dari sisi orang memandang, hadist-hadist menunjukkan bahwa untuk mencegah ain adalah dengan tabrik (mendoakan keberkahan), misalnya mengucapkan: "Baarakallahu fiik" (semoga Allah memberkahimu) atau "Baarakallahu laka" (semoga Allah memberkahimu).
Nabi Shallallahu'alaihi Wassalam bersabda:
"Jika salah seorang dari kalian melihat pada diri saudaranya suatu hal yang menakjubkan maka doakanlah keberkahan baginya, karena ain itu benar adanya". (HR. An-Nasai No.10872, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih An-Nasa'i)
Dan yang paling penting agar tidak menimbulkan penyakit ain agar tidak menimbulkan penyakit ain pada diri orang lain adalah menghilangkan rasa hasad kepada orang lain. Karena hasad itu tercela. Dari Anas bin Malik Radhiallahu'anhu, Rasulullah Shallallahu'alaihi Wassalam bersabda:
"Janganlah kalian saling membenci, saling memutus hubungan, saling menjauh, saling hasad. Jadilah kalian sebagai hamba yang bersaudara". (HR. Bukhari Np.6076, Muslim No.2559)
Dan hasad kepada nikmat yang didapatkan orang lain berarti tidak ridha kepada keputusan Allah dan pembagian rezeki oleh Allah. Allah Ta'ala berfirman yang artinya:
"Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu". (QS. An-Nisa [4] : 32)
Ain Bisa Terjadi Pada Benda Mati
Para ulama mengatakan bahwa benda mati juga bisa terkena ain. Benda mati yang terkena ain bisa mengakibatkan rusak atau hancur secara tiba-tiba. Wa'iyyadzu billah. Dalam hadist Nabi Shallallahu'alaihi Wassalam berdoa:
"Allahumma inni asalukal 'afwa wal 'aafiyata fiidiinii wadunyaaya wamaalii" (Ya Allah, aku meminta ampunan dan keselamatan pada agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku). (HR. Abu Daud No.5074)
Allah Ta'ala berfirman yang artinya:
Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu "Masyaallah laa quwwata illaa billah". Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hak harta dan keturunan. (QS. Al-Kahfi [18] : 39)
Para ulama menjadikan ayat ini dalil bahwa harta bisa terkena ai dan boleh dirugyah ketika terkena ain. Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:
"Sebagian salaf mengatakan: Orang yang kagum pada keadaannya atau hartanya atau pada anaknya, hendaknya ucapkan Masyaallah laa quwwata illaa billah. Ini diambil dari ayat yang mulia ini". (Tafsir Ibnu Katsir)
Cara Agar Kita Tidak Terkena Ain
Hal pertama yang perlu dilakukan agar terhindar dari penyakit ain adalah meghidari sikap suka pamer, dan berhias diri dengan sikap tawadhu. Rasulullah Shallallahu'alaihi Wassalam bersabda:
"Sungguh Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendahkan diri agar tidak ada seorang pun yang berbangga diri pada yang lain dan agar tidak seorang pun berlaku dzalim pada yang lain". (HR. Muslim No.2865)
Sebisa mungkin hindari menyebut-nyebut kekayaan, kesuksesan usaha, kebahagiaan keluarga, juga memamerkan foto anak, foto diri, foto istri/suami, dan hal-hal lain yang bisa menimbulkan iri dengki dari orang yang melihatnya. Atau juga bisa menyebabkan kekaguman berlebihan dari orang yang melihatnya. Karena pandangan kagum juga bisa menyebabkan ain sebagaimana sudah disebutkan.
Kemudian di antara upaya pencegahan penyakit ain adalah menjaga dan memelihara semua kewajiban dan menjauhi segala larangan, taubah dari segala macam kesalahan dan dosa, juga membentengi diri dengan beberapa dzikir, doa, dan ta'awudz (doa perlindungan) yang disyariatkan.
Allah Ta'ala berfirman yang artinya:
"Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)". (QS. Asy-Syuura [42] : 30)
Allah Ta'ala juga berfirman yang artinya:
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram". (QS. Ar-Ra'd [13] : 28)
Rutinkan dzikir pagi dan dzikir petang (ratib) serta dzikir-dzikir harian seperti dzikir keluar/masuk rumah, dzikir keluar/masuk kamar mandi, dzikir hendak tidur atau bangun, dzikir naik kendaraan, dzikir ketika akan makan, dzikir setelah solat, dan lainnya.
Di antara dzikir pencegah ain yang bisa dibaca kepada anak-anak agar tidak terkena ain adalah sebagaimana yang ada ddalam haist Ibnu abbas Radhiallahu'anhu bahwa Nabi Shallallhu'alaihi Wassalam mendoakan Hasa dan Husain dengan doa:
"U'iidzukuma bikalimaatillahit taammah, min kulli syaithaanin wa haamah wa min kulli 'ainin laamah" (Aku meminta perlindungan untuk kalian dengan kalimat Allah yang sempurna dari gangguan syetan dan racun, dan gangguan ain yang buruk). Lalu Nabi Shallallahu'alaihi Wassalam bersabda, "Dahulu ayah kalian (Nabi Ibrahim AS) merugyah Ismail dan Ishaq dengan doa ini". (HR. Abu Daud No.4737, Ibnu Hibban No.1012, dishahihkan Syu'ain Al-Arnauth dalam Takhrij Ibnu Hibban)
Cara Mengobati Penyakit Ain
Adapun orang yang terlanjur terkena ain maka yang pertama kali harus dilakukan adalah bersabar. Hendaknya ia menyakini bahwa penyakit ain itu terjadi atas izin Allah. Allah Ta'ala berfirman yag artinya:
"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu". (QS. At-Taghabun [64] : 11)
Dan hendaklah ia bertawakal hanya kepada Allah. Ia menyakini bahwa satu-satunya yang bisa menyembuhkan hanyalah Allah Ta'ala, Allah Ta'ala berfirman yang artinya:
"Jika Allah menimpakan suatu mudharat kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Allah sendiri". (QS. Al- An'am [6] : 17)
Jika orang yang terkena ain bertawakallah kepada Allah sepenuhnya maka pasti akan Allah sembuhkan. Allah Ta'ala berfirman yang artinya:
"Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah pasti akan Allah penuhi kebutuhannya". (QS. Ath-Thalaq [65] : 3)
Mengambil Sebab Dengan Hal-Hal Berikut:
1. Mandi dari air bekas mandi orang yang menyebabkan ain.
Sebagaimana hadist dari Ibnu Abbas Radhiallahu'anhu, Nabi Shallallahu'alaihi Wassalam bersabda:
"Ain itu benar adanya. Andaikan ada perkara yang bisa mendahului takdir, maka itulah ain. Maka jika kalia mandi, gunakanlah air mandinya itu (untuk memandikan orang yang terkena ain)". (HR. Muslim No.2188)
2. Mandi dari air bekas wudhu orang yang menyebabkan ain.
Sebagaimana disebutkan dalam hadist Abu Umamah bin Sahl di atas. Nabi Shallallhu'alaihi Wassalam memerintahkan Amir bin Rabi'ah untuk berwudhu dan menyiramka air wudhunya kepada Sahl yang terkena ain. Dalam riwayat yang lain:
"Lalu Nabi shallallahu'alaihi Wassalam memerintahka Amir untuk berwudhu. lalu Amir membasuh wajah dan kedua tangannya hingga sikunya, dan membasuh kedua lututnya dan bagian dalam sarungnya. lalu Nabi memerintahkannya utuk menyiramkannya kepada Sahl". (HR. An-Nasai No.7617, Ibnu Majah No.3509, Ahmad No.15980)
Dari Aisyah Radhiallahu'anha , ia berkata:
"Dahulu orang yang mejadi penyebab ain diperintahkan utuk berwudhu, lalu orang yang terkena ain mandi dari air sisa air wudhu tersebut". (HR. Ahmad No.3885)
3. Ruqyah
Sebagaimana hadist dari Asma binti Umais Radhianllahu'anha, ia berkata:
"Wahai Rasulullah, Bani Jafar terkena peyakit ain, bolehkan kami minta mereka diruqyah?" Nabi menjawab, "Iya boleh. Andaikan ada yang bisa mendahului takdir, itulah ain". (HR. Tirmidzi No.2059, Ibnu Majah No.3510)
Ada beberapa cara meruqyah orang yang terkena ain, diantaranya denga membacakan doa yang ada dalam hadist Aisyah Radhiallahu'anhu, ia berkata "Ketika Rasulullah Shallallahu'alaihi Wassalam merasakan sakit, Malaikat Jibril meruqyahnya dengan doa: "Bismillahi yubrik, wa min kulli daa-in yayfiik, wa min syarri haasidin idza hasad, wa syarri kulli dzii'ainin" (Dengan nama Allah yang menyembuhkanmu. Ia menyembuhkanmu dari segala penyakit dan dari keburukan orang yang hasad dan keburukan orang yang menyebabkan ain). (HR. Muslim No. 2185)
Atau membaca doa -doa ruqyah dari hadist-hadist shahih yang lainnya, serta ayat-ayat Al-Quran. Dan semua ayat-ayat Al-Quran bisa untuk meruqyah.
*Sumber : PDF Kajian Al-Hikam Masjid Al-Latief Pasaraya