Kajian : Kajian Muslimah Masjid Daarut Tauhiid Kebayoran
Sifat : Online/Offline - Masjid Daarut Tauhiid Kebayoran
Pemateri : Ustazah Erika Suryani Dewi
Tanggal : Sabtu, 20 Juli 2024
Juwairiyyah binti Al-Harits bin Abi Dhirar bin 'Aidz bin Malik bin Khuzaimah
- Beliau berasal dari Bani Mushthaliq.
- Nama aslinya adalah Barrah, lantas Rasulullah memberinya nama Juwairiyyah.
- Suaminya dahulu bernama Musafi' bin Shafwan Al-Mushthaliqi. Ada juga yang meyatakan bahwa suaminya yang dulu adalah Shafwan bin Malik bin Khuzaimah yang merupakan anak dari pamannya.
Tawanan Perang Muraisi'
- Suatu saat pemimpin Bani Mushthaliq, ayah dari Barrah (Juwairiyyah) berencana untuk menyerang kaum Muslimin di Madinah. bani Mushthaliq berniat untuk megalahkan pasukan tentara Islam dan mengambil alih kekuasaan di antara suku-suku Arab. Rencana itu pun sampai ke telinga Rasulullah.
- Pertempuran tentara Islam melawan kaum kafir dari Bani Mushthaliq itu dikenal sebagai perang Muraisi', terjadi di suatu tempat yang bernama air Muraisi' dan terjadi pada bulan Syaban tahun ke 6 Hijriyah. Dalam pertempura itu, umat Islam meraih kemenangan. Pemimpin Bani Mushthaliq, Al-Harits melarikan diri dari medan peperangan dan suami Barrah tewas terbunuh.
- Seluruh peduduk yang selamat, termasuk Barrah menjadi tawanan. Sebagai seorang terpelajar, mengetahui dirinya menjadi tawanan, Barrah mengajukan tawaran untuk membebasan diri. Ia lalu mecoba bernegosiasi dan meminta bertemu dengan Rasulullah. Ketika ia ingin bertemu Rasulullah, Aisyah RA sudah penuh khawatir karena melihat manis dan cantiknya Juwairiyyah, tiada seorang pun yang melihatnya melainkan akan jatuh hati kepadanya. Tatkala Juwairiyyah meminta kepada Rasulullah untuk membebaskan dirinya, Aisyah RA merasa cemburu.
- Tetap Juwairiyyah bisa bertemu dengan Rasulullah. Ketika ia bertemu Rasulullah, ia pun memperkenalkan diri bahwa ia adalah putri Al-Harits bin Abi Dhirar yang menjadi pemuka di kaumnya.
- Tentang Juwairiyyah, Aisyah RA mengemukakan cerita sebagaimana yang disebutkan oleh Ibu Sa'ad dalam Thabaqatnya, "Rasulullah SAW menawan wanita-wanita Bani Mushthaliq, kemudian beliau menyisihkan seperlima dari mereka dan membagikannya kepada kaum muslimin. Bagi penunggang kuda mendapat dua bagian, dan lelaki yang lain mendapat satu bagian. Juwairiyyah jatuh ke tangan Tsabit bin Qais bin Samas Al-Anshari".
Keutamaan Juwairiyyah binti Al-Harits
1. Pernikahan Juwairiyyah dengan Rasulullah dan membebaskannya ia dari tawanan menyebabkan kaum Bani Mushthaliq masuk Islam, bahkan seluruh tawanan Bani Mushthaliq dibebaskan. Inilah keberkahan yang ada dari pernikahan Juwairiyyah dengan Rasulullah.
- Saat Juwairiyyah jatuh ke tangan Tsabit bin Qais bin Samas Al-Anshari, Juwairiyyah menulis untuk Tsabit (bahwa ia hendak menebus dirinya sendiri) kemudian mendatangi Rasulullah agar mau menolong untuk menebus dirinya. Maka menjadi ibalah Rasulullah melihat kondisi seorang wanita yang mulanya adalah seorang sayyidah merdeka (pemuka di kaumnya) yang mana ia memohon beliau untuk mengentaskan ujian yang menimpa dirinya. Maka Rasulullah bertanya kepada Juwairiyyah, "Maukah engkau mendapatkan hal yang lebih baik dari itu?" Maka Juwairiyyah menjawab dengan sopan, "Apakah itu ya Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "Aku tebus dirimu kemudian aku nikahi dirimu!" Maka tersiratlah pada wajahnya Juwairiyyah yang cantik suatu kebahagiaan sedangkan dia hampir-hampir tidak peduli dengan kemerdekaan dia karena remehnya. Juwairiyyah menjawab, "Mau ya Rasulullah". Maka Rasulullah bersbda, "Aku telah melakukannya".
- Tersebarlah berita kepada manusia bahwa Rasulullah telah menikahi Juwairiyyah binti al-Harits bi Abi Dhirar. Maka orang-orang berkata, "Kerabat Rasulullah SAW". Lantas mereka melepaskan tawanan perang yang mereka bawa, "Maka sungguh dengan pernikahan Rasulullah dengan Juwairiyyah menjadi sebab dibebaskannya seratus keluarga dari Bani Mushthaliq. Maka aku tidak pernah mengetahui seorang wanita yang lebih berkah bagi kaumnya daripada Juwairiyyah". (HR. Ibnu Ishaq dalam As-Siyar wa Al-Maghazi 263, Abu Daud No.3931, Ahmad 6:277. Hadist ini dihasankan oleh Syeikh Al-Albani)
2. Juwairiyyah dikenal rajin ibadah dan rajin berdzikir. Sehabis subuh ia punya kebiasaan berdiam diri di masjidnya, menyibukkan diri dengan dikir hingga matahari meninggi (hingga siang).
- Dari Juwairiyyah RA bahwa Rasulullah pernah keluar dari sisinya pada pagi hari setelah shalat subuh sedangkan Juwairiyyah berada di tempat shalatnya. Setelah itu beliau pulang setelah tiba waktu Dhuha sedang Juwairiyyah masih dalam keadaan duduk. Lalu Rasulullah bertanya, "Apakah engkau tetap dalam ketika aku tinggalkan?" Juwairiyyah menjawab "Ya". Rasulullah bersabda, "Sungguh, aku telah mengucapkan setelahmu empat kalimat sebanyak tiga kali yag jika ditimbang dengan yang engkau ucapkan sejak tadi tentu akan menyamai timbangannya yaitu Suubhannallahi wa bihamdih, 'adadakholqih wa ridhoo nasih wa zinata 'arsyih wa midaada kalimaatih (artinya : Maha suci Allah, aku memujiNya, sebanyak makhlukNya, sejauh kerelaanNya, seberat timbangan Arsy-Nya dan sebanyak tinta tulisan kalimatNya".
- Juwairiyyah pun dikenal semangat berpuasa sampai-sampai Rasulullah pernah menegurnya ketika mengetahui Juwairiyyah berpuasa pada hari Jumat. Dari Juwairiyyah binti Al-Harits RA bahwa Rasulullah pernah menemuinya pada hari Jumat dan ia dalam keadaan berpuasa, lalu beliau bersabda, "Apakah engkau berpuasa kemarin?""Tidak" jawabnya, "Apakah engkau ingin berpuasa besok?" tanya beliau lagi, "Tidak" jawabnya lagi, "Batalkanlah puasamu" kata Rasulullah. Hammad bin Al-Ja'd, ia mendengar Qotadah, Abu Ayyub mengatakan kepadanya bahwa Juwairiyyah berkata bahwa ia membatalkan puasanya ketika Rasulullah memerintahkan. (HR. Bukhari No.1986)
- Ibnu Qudamah mengatakan, "Dimakruhkan menyendiri puasa pada hari Jumat saja kecuali jika bertepatan denga kebiasaan berpuasa seperti puasa Daud, yaitu sehari berpuasa sehari tidak, lalu bertepatan dengan hari Jumat atau bertepatan dengan kebiasaan puasa di awal, akhir atau pertengahan bulan". (Lihat Al-Mughni 3:53)
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata dalam Syarh Al-Mumthi (6:465), "Dikecualikan dari larangan ini adalah jika berpuasa sebelum atau sesudah Jumat, atau bertepatan dengan kebiasaan puasa seperti berpuasa pada ayyamul bidh, atau bertepatan degan puasa Arafah, atau karena puasa nadzar".
3. Kehidupan begitu sederhana sebagimana istri-istri Nabi lainnya.
- Di antara buktinya, Ubay bin As-Sabbaq menyatakan bahwa Juwairiyyah istri Rasulullah pernah mengatakan, Rasulullah pernah menemuinya lalu menanyakan, "Apakah ada makanan di rumah?" Ia menyatakan. "Tidak ada wahai Rasulullah, kami tidak memiliki makanan selain tulang kambing yang didapati dari bekas budakku itu dan itu dari harta shadaqah". Rasulullah mengatakan, "Bawa sini karena shadaqah itu tidak masalah lagi bagiku (artinya : sudah berubah hukumnya karena sudah dimiliki oleh yang menerima shadaqah maka bebas ia berikan kepada lainnya). (HR. Muslim No.1806)
Jumhur (mayoritas) ulama mengatakan bahwa Juwairiyyah RA meninggal dunia pada Rabi'ul Awwal tahun 56H di masa Khalifah Mu'awiyah.
- Bercermin dari pribadi Ummul Mu'minin Juwairiyyah RA yang cerdas, ahli ibadah, rajin berdzikir dan puasa, serta hidup bersahaja dalam kesederhanaan padahal dia adalah seorang istri pemimpin umat, putri dari pemimpin kabilah Bani Mushthaliq, semua kedudukan dunianya tidak menjadikannya silau terhadap kehidupan yang fana.
- Semoga kita para muslimah bisa menjadikan Juwairiyyah RA sebagai tauladan di jaman fitnah ini.
Sumber : PDF Kajian Muslimah Masjid Daarut Tauhiid, Kebayoran