Rabu, 19 Februari 2025

Agenda Ramadhan 1446 H (2025 M) - Free

Agenda Ramadhan 1446 H (2025 M) ini dibuat bertujuan untuk memudahkan dalam menjalani ibadah Ramadhan yang insyaallah akan kita jalani beberapa hari lagi.

"Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Syaban serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan." (HR. Ahmad)

Silahkan di download filenya di sini

Jumat, 07 Februari 2025

Silsillah Ilmiyyah 1 : Halaqoh 25 (Selesai) - Ridha Dengan Hukum Allah

Kajian        : HSI Edu
Sifat           : Online - Intern - SI01.H25. Judul
Pemateri    : Ustad Abdullah Roy
Tanggal      : Jumat, 7 Februari 2025



Allah SWT sebagai pencipta manusia sangat menyayangi kita. Dia-lah Ar-Rahman Ar-Rahiim. Di antara bentuk kasih sayangNya adalah menurunkan syariat supaya manusia mendapatkan kebahagian dan terhindar kesusahan di dunia maupun di akhirat.

Dia-lah Yang Maha Mengetahui dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana hukumNya penuh dengan keadilan, hikmah dan juga kebaikan, meskipun kadang samar atas sebagian manusia.

Oleh karena itu menjadi keharusan bagi seorang muslim dan juga muslimah untuk ridha dengan hukum Allah SWT dan yakin bahwasanya kebaikan semuanya di dalam hukum Allah SWT.

Di dalam segala bidang kehidupan meliputi:
  • Akidah
  • Akhlak
  • Adab
  • Muamalah
  • Ekonomi
  • Kenegaraan
  • dan lain-lain
Meng-Esa-kan Allah SWT di dalam hukum-hukumNya adalah termasuk konsekuensi tauhiid.

Allah berfirman, "Dan tidaklah pantas bagi seorang laki-laki yang mu'min dan wanita yang mu'minah apabila Allah dan rasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain di dalam urusan mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasulNya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata." (QS. Al-Ahzab [33] : 36)

Alhamdulillah dengan izin dan karuniaNya sampailah kita pada bagian yang terakhir dari Silsillah Ilmiyyah 1 halaqoh 25. Belajar tauhid dan mengamalkannya tidak akan berhenti sampai ajal menjemput kita.


[Selesai]

Kamis, 06 Februari 2025

Silsillah Ilmiyyah 1 : Halaqoh 24 - Menyandarkan Kenikmatan Kepada Allah

Kajian        : HSI Edu
Sifat           : Online - Intern - SI01.H24. Judul
Pemateri    : Ustad Abdullah Roy
Tanggal      : Kamis, 6 Februari 2025



Termasuk keyakinan yang harus diyakini dan diingat oleh setiap muslim bahwa kenikmatan dengan segala jenisnya adalah dari Allah SWT.

Allah SWT berfirman, "Kenikmatan apa saja yang kalian dapatkan maka asalnya dari Allah." (QS. An-Nahl [16] : 53)

Adalah termasuk syirik kecil apabila seseorang mendapatkan sebuah kenikmatan dari Allah SWT kemudian menyandarkan kenikmatan tersebut kepada selain Allah SWT misalnya seperti ungkapan seperti kalau pilot tidak mahir niscaya kita sudah celaka, kalau tidak ada angsa niscaya uang kita sudah dicuri, kalau bukan karena dokter niscaya saya tidak sembuh, dan sebagainya. Ini semua adalah contoh bentuk menyandarkan kenikmatan kepada sebab.

Allah SWT berfirman, "Mereka mengenal nikmat Allah kemudian mereka mengingkarinya." (QS. An-Nahl [16] : 83)

Seharusnya kenikmatan tersebut disandarkan kepada Allah SWT, Dzat yang menciptakan sebab. Yang seharusnya dikatakan kalau bukan karena Allah niscaya kita sudah celaka, kalau bukan karena Allah niscaya uang kita sudah hilang, kalau bukan karena Allah niscaya saya tidak akan sembuh, dan sebagainya. Yang demikian karena Allah SWT lah yang sebenarnya memberikan nikmat keselamatan, keamanan, kesembuhan dan sebagainya. sedangkan makhluk hanyalah sebagai alat sampainya kenikmatan tersebut kepada kita.

Kalau Allah SWT tidak menghendaki niscaya Allah SWT tidak akan menggerakkan makhluk-makhluk tersebut untuk menolong  kita. Ini semua bukan berarti seorang muslim tidak boleh berterimakasih kepada orang lain.

Seorang muslim diperintahkan untuk mengucapkan syukur dan terimakasih kepada seseorang yang berbuat baik kepadanya karena mereka telah menjadi sebab kenikmatan tersebut. Bahkan diperintahkan pula untuk membalas kebaikan tersebut dengan kebaikan atau dengan doa yang terbaik. Namun pujian dan penyandaran kenikmatan tetap hanya kepada Allah SWT semata.

[Bersambung]

Rabu, 05 Februari 2025

Silsillah Ilmiyyah 1 : Halaqoh 23 - Taat Ulama Dalam Kebenaran

Kajian        : HSI Edu
Sifat           : Online - Intern - SI01.H23. Judul
Pemateri    : Ustad Abdullah Roy
Tanggal      : Rabu, 5 Februari 2025



Ulama adalah orang-orang yang memiliki ilmu tentang Allah SWT dan juga agamanya yaitu ilmu yang membawa dirinya untuk bertakwa kepada Allah SWT. Para ulama, mereka adalah pewaris para nabi dan kedudukan mereka di dalam agama Islam adalah sangat tinggi. Allah SWT telah mengangkat derajat para ulama dan memerintahkan kita untuk taat kepada mereka selama mereka menyeru dan mengajak kepada kebenaran dan juga kebaikan.

Allah SWT berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul dan ulil amri kalian." (QS. An-Nisa [4] : 59)

Ulil Amri di sini mencakup ulama dan juga umara (pemerintah), menghormati mereka (yaitu para ulama) bukan berarti mentaati mereka dalam segala hal sampai kepada kemaksiatan. Ulama, seperti manusia yang lain, ijtihad mereka terkadang salah terkadang benar.
  • Kalau mereka benar mereka mendapatkan 2 pahala
  • Kalau mereka salah mereka mendapatkan 1 pahala
Apabila jika telah jelas kebenaran bagi seorang muslim dan jelas bahwasanya seorang ulama menyelisihi kebenaran tersebut dalam sebuah permasalahan, maka tidak boleh seseorang menaati ulama tersebut dan kemudian dia meninggikan kebenaran.

Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan kepada Allah. Sesungguhnya ketaatan hanya di dalam kebenaran." (HR. Bukhari dan Muslim)

Apabila seseorang mentaati ulama dalam kemaksiatan kepada Allah SWT, maka dia telah menjadikan ulama tersebut sebagai pembuat syariat dan bukan penyampai syariat, ini seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Allah SWT berfirman, "Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) menjadikan ulama dan ahli ibadah mereka sebagai sesembahan selain Allah." (QS. At-Taubah [9] : 31)

Rasulullah SAW menjelaskan ayat ini, beliau mengatakan, "Ketahuilah bahwa mereka bukan beribadah kepada para ulama dan ahli ibadah tersebut, akan tetapi mereka apabila menghalalkan apa yang Allah haramkan maka mereka pun ikut menghalalkan. Dan apabila ulama dan ahli ibadah tersebut mengharamkan apa yang Allah halalkan maka mereka pun ikut mengharamkan." (HR. At-Tirmidzi dari Adi bin Hatim dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah)

[Bersambung]

Selasa, 04 Februari 2025

Silsillah Ilmiyyah 1 : Halaqoh 22 - Takut Kepada Allah

Kajian        : HSI Edu
Sifat           : Online - Intern - SI01.H22. Judul
Pemateri    : Ustad Abdullah Roy
Tanggal      : Selasa, 4 Februari 2025



Di antara keyakinan seorang muslim bahwa manfaat dan mudharat adalah di tangan Allah SWT semata. Seorang muslim tidak takut kecuali kepada Allah SWT dan tidak bertawakal kecuali hanya kepada Allah SWT.

Takut kepada Allah SWT yang dibenarkan adalah takut yang membawa pelakunya kepada:
  1. Merendahkan diri di hadapan Allah SWT.
  2. MengagungkanNya.
  3. Membawanya untuk menjauhi larangan Allah SWT.
  4. Melaksanakan perintahNya.
Bukan takut terhadap:
  1. Takut yang berlebihan yang membawa kepada keputusa-asaan terhadap rahmat Allah SWT.
  2. Takut yang terlalu tipis yang tidak membawa pemiliknya kepada ketaatan kepada Allah SWT.
Takut seperti ini adalah ibadah. Tidak boleh sekali-kali seorang muslim menyerahkan takut seperti ini kepada selain Allah SWT.

Dan barangsiapa menyerahkan kepada selain Allah SWT maka dia telah terjerumus ke dalam syirik besar yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. Misalnya orang yang takut (terkena) mudharat (dengan) wali fulan yang sudah meninggal kemudian takut tersebut dijadiikan dia merendahkan diri di hadapan kuburannya dan juga mengagungkannya. 

Hendaknya seorang muslim meneladani nabi Ibrahim AS ketika beliau berkata yang artinya, "Dan aku tidak takut dengan sesembahan kalian, mereka tidak memudharatiku kecuali apabila Rabbku menghendakinya." (QS. Al-An'am [6] : 80)

Di antara takut yang di haramkan adalah takutnya seseorang kepada makhluk melebihi takutnya kepada Allah SWT, sehingga takut tersebut membuat dia meninggalkan perintah Allah SWT atau melanggar larangan Allah SWT. Seperti orang yang meninggalkan jihad yang wajib atasnya karena takut kepada orang-orang kafir atau tidak melarang kemungkaran karena takut celaan manusia padahal dia mampu.                                                     

Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya itu hanyalah syaitan yang menakut-nakuti kalian, dengan wali-walinya (penolong-penolongnya). Karena itu janganlah kalian takut kepada mereka tetapi takutlah kepadaKu jika kalian benar-benar orang yang beriman." (QS. Ali-Imran [3] : 175)

Di antara cara menghilangkan rasa takut kepada makhluk yang diharamkan adalah:
  1. Berlindung kepada Allah SWT dari bisikan syaitan.
  2. Mengingat sabda nabi SAW di dalam hadist yang menyatakan, "Ketahuilah bahwa seandainya umat semua berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu niscaya mereka tidak bisa memberikan manfaat kecuali dengan apa yang sudah Allah SWT tulis dan seandainya mereka berkumpul untuk memberikan mudharat kepadamu niscaya mereka tidak bisa memberikan mudharat kecuali dengan apa yang sudah Allah tulis." (HR. Tirmidzi dan disahkan Syeikh Al-Albani rahimahullah)
Manusia diperbolehkan takut yang merupakan tabi'at manusia seperti takut kepada panasnya api, takut kepada binatang buas, dan lain-lain. Dan takut seperti ini bukanlah takut yang merupakan ibadah dan juga bukan takut yang membawa seseorang meninggalkan perintah atau melanggar Allah SWT. Ini adalah takut yang tabi'at yang para nabi pun tidak terlepas darinya.


[Bersambung]

Senin, 03 Februari 2025

Silsillah Ilmiyyah 1 : Halaqoh 21 - Cinta Kepada Allah

Kajian        : HSI Edu
Sifat           : Online - Intern - SI01.H21. Judul
Pemateri    : Ustad Abdullah Roy
Tanggal      : Senin, 3 Februari 2025



Mencintai Allah SWT merupakan ibadah yang agung. Cinta yang merupakan ibadah ini mengharuskan seorang muslim merendahkan dirinya di hadapan Allah SWT, mengagungkan Allah SWT dan akhirnya akan membawa seseorang untuk melaksanakan perintah Allah SWT dan juga menjauhi apa yang Allah SWT larang. Inilah cinta yang merupakan ibadah. Barangsiapa yang menyerahkan cinta seperti ini kepada selain Allah SWT maka dia telah berbuat syirik yang besar. 

Allah SWT berfirman, "Dan di antara manusia ada orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai sekutu-sekutu Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman maka cinta mereka kepada Allah jauh lebih besar." (QS. Al-Baqarah [2] : 165)

Adapun cinta yang merupakan tabi'at manusia seperti cinta keluarga, harta, pekerjaan dan lain-lain. Maka hal ini diperbolehkan selama tidak melebihi cinta kita kepada Allah SWT. Apabila seseorang mencintai perkara-perkara tersebut melebihi cintanya kepada Allah SWT maka dia telah melakukan dosa besar.

Allah SWT berfirman, "Katakanlah. Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya dan juga rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai itu semua lebih kalian cintai daripada Allah SWT dan rasulNya dan juga berjihad di jalan Allah, maka tunggulah sampai Allah SWT mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (QS. At-Taubah [9] : 24)

Ketika terjadi pertentangan antara dua kecintaan maka di sini akan nampak siapa yang lebih dia cintai. Dan akan nampak siapa yang cintanya benar dan siapa yang cintanya hanya sebatas ucapan saja.

Di antara cara untuk memupuk rasa cinta kita kepada Allah adalah dengan:
  1. Mentadaburi (memperhatikan) ayat-ayat Al-Quran.
  2. Memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT di alam semesta.
  3. Mengingat-ingat berbagai kenikmatan yang Allah SWT berikan.

[Bersambung]