Jumat, 31 Januari 2025

Silsillah Ilmiyyah 1 : Halaqoh 20 - Riya

Kajian        : HSI Edu
Sifat           : Online - Intern - SI01.H20. Judul
Pemateri    : Ustad Abdullah Roy
Tanggal      : Jumat, 31 Januari 2025



Riya adalah seorang mengamalkan sebuah ibadah bukan karena ingin mendapat pahala dari Allah SWT akan tetapi ingin dilihat oleh manusia dan dipuji. Riya hukumnya haram dan dia termasuk syirik kecil yang samar yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam.
Riya adalah di antara sebab tidak diterimanya amal ibadah seseorang bagaimanapun besar amalan tersebut.

Rasulullah SAW bersabda, "Allah berfirman, "Aku adalah Dzat yang paling tidak butuh dengan syirik. Barangsiapa yang mengamalkan sebuah amalan dia menyekutukan Aku bersama yang lain di dalam amalan tersebut maka Aku akan meninggalkannya dan juga kesyirikannya." (HR. Muslim No.2985)

Sebagian ulama berpendapat bahwa syirik kecil tidak ada harapan untuk diampuni Allah SWT. Artinya dia harus diazab supaya bersih dari dosa riya tersebut. Berbeda dengan dosa besar yang ada di bawah kehendak Allah SWT yang kalau Allah SWT menghendaki maka akan diampuni langsung dan kalau Allah SWT menghendaki maka mereka akan diazab.

Mereka berdalil dengan keumuman ayat, "Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang lain bagi siapa yang dikehendaki." (QS. An-Nisa [4] : 48)

Tahukah kita siapa orang yang pertama kali nanti akan dinyalakan api neraka dengan mereka? Mereka bukanlah preman-preman di jalan atau pembunuh yang kejam tetapi mereka justru adalah orang-orang yang beramal sholeh.

Mereka adalah orang yang mengajarkan AL-Quran supaya dikatakan sebagai seorang qari, yaitu seorang yang suka membaca Al-Quran, seorang yang mahir membaca Al-Quran dan juga orang yang berinfaq supaya dikatakan dermawan dan berjihad supaya dikatakan sebagai pemberani. Beramal bukan karena Allah SWT sebagaimana hal ini telah dikabarkan oleh nabi SAW di dalam hadist yang shahih yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.

Oleh karena itu saudara, sekalipun ikhlas di dalam beramal dan ikhlas adalah barang yang sangat berharga, para salaf kita, merekapun merasa atau merasakan betapa beratnya memperbaiki hati mereka. Dan hanya kepada Allah SWT kita meminta keikhlasan di dalam beramal. Menjauhkan kita dari riya, sum'ah, ujub dan berbagai penyakit hati. Marilah kita biasakan untuk meyembunyikan amal kita kecuali kalau memang ada maslahat yang lebih kuat.

[Bersambung]

Kamis, 30 Januari 2025

Silsillah Ilmiyyah 1 : Halaqoh 19 - Bersumpah Dengan Selain Nama Allah

Kajian        : HSI Edu
Sifat           : Online - Intern - SI01.H19. Judul
Pemateri    : Ustad Abdullah Roy
Tanggal      : Kamis, 30 Januari 2025



Sumpah adalah menguatkan perkataan dengan menyebutkan sesuatu yang diagungkan, baik oleh orang yang berbicara maupun yang diajak bicara. Dalam bahasa Arab maka menggunakan huruf wau, huruf ba, huruf ta. Adapun dalam bahasa Indonesia menggunakan kata "Demi".

Bersumpah hanya diperbolehkan dengan nama Allah SWT semata, misalnya mengatakan Wallahi, demi Rabb yang menciptakan langit dan bumi, demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, dan lain-lain.

Adapun makhluk bagaimanapun agungnya di mata manusia maka tidak boleh kita bersumpah dengan namanya, misal dengan mengatakan demi Rasulullah, demi Kabah, demi Jibril, demi langit dan bumi, demi bulan dan bintang, dan lain-lain. Ini semua termasuk jenis pengagungan terhadap makhluk yang terlarang.

Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang bersumpah dengan selain nama Allah maka sunggguh dia telah berbuat syirik." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani rahimahullah)

Syirik dalam hadist ini pada asalnya adalah syirik kecil yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam. Namun bisa sampai kepada syirik besar bila dia mengucapkan sumpah dengan makhluk disertai pengagungan seperti kalau dia mengagungkan Allah SWT, seperti sumpah yang dilakukan oleh orang-orang musyrik dengan mengatakan demi dewa fulan, demi lata, dan lain-lain.

[Bersambung]

Rabu, 29 Januari 2025

Silsillah Ilmiyyah 1 : Halaqoh 18 - Meramal Nasib Dengan Bintang

Kajian        : HSI Edu
Sifat           : Online - Intern - SI01.H18. Judul
Pemateri    : Ustad Abdullah Roy
Tanggal      : Rabu, 29 Januari 2025



Bintang adalah makhluk yang menunjukan kebesaran Allah penciptanya. Allah SWT telah mengabarkan di dalam Al-Quran bahwa bintang ini memiliki tiga faedah, sebagai berikut:
  1. Sebagai perhiasan langit
  2. Sebagai pelempar syetan
  3. Sebagai petunjuk manusia, seperti mengetahui arah utara/selatan/barat/timur, arah daerah, arah kiblat, atau mengetahui kapan datangnya musim menanam, musim panas/hujan, dan lain-lain.
Allah SWT tidak menciptakan bintang untuk perkara yang lain selain tiga perkara di atas.
Seorang salaf, Qotaddah bin Di'ammah As-Sadusi rahimahullah, seorang ulama yang meninggal kurang lebih pada tahun 110H. Beliau menjelaskan bahwa, "Barangsiapa yang meyakini bintang memiliki faedah yang lain (selain yang tiga di atas) maka dia telah bersalah dan berbicara tanpa ilmu." (HR. Bukhari di dalam shahih beliau)

Seperti meyakini bahwa terbit dan tenggelamnya bintang atau berkumpul dan berpisahnya beberapa bintang berpengaruh terhadap keberuntungan seseorang di masa yang akan datang baik dalam masalah rezeki, jodoh dan lain-lain. Sebagaimana kolom yang ditemukan dalam beberapa koran dan juga majalah, membaca dan mempercayai hal seperti itu adalah perbuatan haram dan termasuk dosa besar. Sebagian ulama mengatakan hukumnya sama seperti orang yang mendatangi dukun dan bertanya kepadanya. Ancamannya tidak diterima sholatnya selama 40 hari. 

Hendaknya kita semua takut kepada Allah SWT dan jangan sekali-kali mencoba membaca kolom-kolom tersebut serta jangan juga memasukkannya ke dalam rumah kita. Kita tutup segala pintu yang bisa merusak akidah kita dan keluarga kita karena akidah merupakan modal kita memasuki syurga Allah SWT dengan selamat.

[Bersambung]

Selasa, 28 Januari 2025

Silsillah Ilmiyyah 1 : Halaqoh 17 - At-Tathoyyur (Merasa Sial Dengan Sesuatu)

Kajian        : HSI Edu
Sifat           : Online - Intern - SI01.H17. Judul
Pemateri    : Ustad Abdullah Roy
Tanggal      : Selasa, 28 Januari 2025



Tathayyur adalah merasa akan mengalami nasib sial karena melihat atau mendengar kejadian tertentu seperti melihat tabrakan, orang yang berkelahi, atau semisalnya kemudian hal tersebut menyebabkan dia tidak jadi melaksanakan hajatnya seperti bepergian, berdagang dan lain-lain. At-Tathayyur termasuk syirik kecil apabila perasaan tersebut diikuti.

Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang At-Thiyarah menyebabkan dia tidak jadi melaksanakan hajatnya maka dia telah berbuat syirik." (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani rahimahullah)

Perasaan ini sebenarnya tidak akan mempengaruhi takdir sebagaimana hal ini dinafikan dan diingkari oleh Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW bersabda, "Dan tidak ada Thiyarah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Maksudnya Thiyarah ini adalah hanya sebuah perasaan saja dan tidak akan berpengaruh terhadap takdir Allah SWT. Oleh karena itu seorang muslim tidak boleh mengikuti was-was syaitan ini dan hendaknya dia memiliki keyakinan yang kuat bahwa semua yang terjadi di permukaan bumi berupa kebaikan dan keburukan adalah dengan takdir Allah SWT semata. Seorang mukmin hendaknya yakin bahwa tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Allah dan tidak ada yang melindungi dari keburukan kecuali Allah SWT. Hanya bertawakal kepada Allah semata dan berbaik sangka kepada Allah SWT.

Adapun At-Tafa'ul yaitu berbaik sangka kepada Allah SWT karena melihat atau mendengar sesuatu, diperbolehkan dalam agama kita. Dahulu nabi SAW sering ber-At-Tafa'ul seperti ketika terjadi perjanjian Hudaibiyah. Utusan Quraisy saat itu bernama Suhhail yang merupakan bentuk Tashghir (pengecilan) dari kata Sahl yang artinya mudah. Maka nabi SAW pun berbaik sangka kepada Allah SWT bahwa perjanjian ini akan membawa kemudahan dan kebaikan umat Islam. Maka benarlah persangkaan nabi SAW karena setelah perjanjian tersebut, Allah SWT membuka pintu-pintu kemudahan bagi umat Islam.

[Bersambung]

Senin, 27 Januari 2025

Silsillah Ilmiyyah 1 : Halaqoh 16 - Perdukunan

Kajian        : HSI Edu
Sifat           : Online - Intern - SI01.H16. Judul
Pemateri    : Ustad Abdullah Roy
Tanggal      : Senin, 27 Januari 2025



Dukun adalah orang yang mengaku mengetahui sesuatu yang ghaib yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia seperti mengetahui barang yang hilang dan pencurinya, mengetahui ramalan nasib, dan lain-lain. Dia mengaku mengetahui hal-hal tersebut dengan cara-cara tertentu seperti dengan melihat bintang, menggaris di tanah, melihat air di mangkok, dan lain-lain. Dengan cara ini para dukun memakan harta manusia. 

Ketahuilah bahwa perdukunan dengan namanya yang bermacam-macam adalah perkara yang diharamkan di dalam agama Islam. Ilmu ghaib yang mereka akui pada hakekatnya adalah kabar dari jin yang mereka mintai bantuan. Sedangkan cara-cara tersebut hanyalah untuk menutupi kedoknya sebagai orang yang meminta bantuan jin dan juga syetan.

Kita sudah bersama bahwa iblis sudah berjanji akan menyesatkan manusia dan menyeretnya mereka bersamanya ke dalam neraka. Iblis dan keturunannya tidak akan membantu sang dukun kecuali apabila dukun tersebut kafir kepada SWT. Oleh karena itu para ulama menghukumi dukun sebagai orang yang kafir dengan sebab ini. Adapun harta yang dia dapatkan dari pekerjaan ini adalah harta yang haram. Berkaitan dengan ramalan yang kadang benar maka sebagaimana yang digambarkan oleh nabi SAW di dalam hadist yang shahih bahwa para jin bekerja sama untuk mencuri kabar dari langit. Apabila mendengar sesuatu maka jin yang di atas akan mengabarkan kepada yang di bawahnya dan seterusnya sehingga sampai ke telinga dukun. Terkadang jin itu terkena lemparan bintang sebelum menyampaikan kabar yang ia dengar dan terkadang sempat menyampaikan sebelum akhirnya terkena lemparan bintang. Kabar sedikit yang sampai ini akan ditambah-tambahi oleh dukun tersebut dengan kedustaan yang banyak, apa yang benar terjadi sesuai dengan yang dia kabarkan, akan  dijadikan alat mencari pembenaran dan kepercayaan dari manusia. Orang Islam dilarang sekali-kali datang ke dukun dengan maksud meminta bantuan kepada dukun tersebut bagaimanapun susahnya keadaan dia. 

Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang mendatangi dukun, kemudian membenarkan apa yang dia ucapkan maka dia telah kufur terhadap apa yang diturunkam kepada Muhammad SAW." (HR Abu Daud,  At Tirmidzi dan Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani rahimahullah)

Di dalam hadist lain, nabi SAW mengatakan, "Barangsiapa mendatangi dukun kemudian bertanya kepadanya tentang sesuatu maka tidak diterima darinya solat selama 40 hari." (HR. Muslim)

Meskipun sebagian ulama berpendapat bahwa mendatangi dukun tidak sampai mengeluarkan seseorang dari Islam namun kedua hadist di atas cukup menunjukkan besarnya dosa orang yang mendatangi dukun.

Semoga Allah SWT menjadikan kita merasa cukup dengan yang halal dan menjauhkan kita dari yang haram. Aamiin yra.

[Bersambung]

Jumat, 24 Januari 2025

Silsillah Ilmiyyah 1 : Halaqoh 15 - Sihir

Kajian        : HSI Edu
Sifat           : Online - Intern - SI01.H15. Judul
Pemateri    : Ustad Abdullah Roy
Tanggal      : Jumat, 24 Januari 2025



Sihir bermacam-macam jenisnya, sihir yang merupakan kesyirikan adalah sihir yang terjadi dengan meminta pertolongan kepada syetan, padahal syetan tidak akan menolong seseorang kecuali setelah melakukan perkara yang dia ridhai yaitu kufur kepada Allah SWT dengan menyerahkan sebagian ibadah kepada syetan tersebut atau dengan menghina Al-Quran, atau dengan mencela agama dan sebagainya.

Allah SWT berfirman, "Dan bukanlah Sulaiman yang kafir akan tetapi syetan-syetanlah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia." (QS. Al-Baqarah [2] : 102)

Rasulullah SAW bersabda, "Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan." Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah apakah tujuh perkara tersebut?" 
Maka Rasulullah SAW menyebutkan tujuh perkara tersebut, yakni:
1. Syirik kepada Allah SWT.
2. Sihir
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hukuman bagi seorang jenis tukang sihir ini adalah hukuman mati bila dia tidak bertaubat sebagaimana yang dicontohkan para sahabat nabi SAW. Adapun yang berhak melakukan hukuman tersebut adalah pemerintah yang sah bukan individu-individu.

Mempelajari sihir termasuk perkara yang diharamkan bahkan sebagian ulama menghukumi pelakunya keluar dari Islam. Demikian pula meminta supaya disihirkan juga perbuatan yang haram karena Rasulullah SAW mengabarkan bahwa bukan termasuk pengikut beliau orang yang menyihir dan orang yang meminta disihirkan. 

Sebagaimana dalam sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar di dalam musnadnya dan dishahihlah oleh Syeikh Al-Albani rahimahullah, "Seorang muslim hendaknya mengambil sebab untuk membentengi diri dari sihir diantaranya adalah dengan menjaga dzikir-dzikir yang disyariatkan seperti dzikir pagi dan petang, dzikir-dzikir setelah sholat lima waktu, dzikir akan tidur, mau makan, masuk rumah, keluar rumah, masuk kamar kecil, keluar kamar kecil, dan lain-lain. Selain itu juga membersihkan diri dan rumah dari perkara-perkara yang membuat ridha syetan seperti jimat-jimat, musik, gambar-gambar makhluk bernyawa, dan lain-lain. Apabila qadarullah terkena sihir maka bersabar, merendahkan diri kepada Allah SWT, memohon dariNya kesembuhan dan berpegang pada rugyah-rugyah yang disyariatkan serta jangan sekali-kali berusaha menghilangkan sihir dengan meminta bantuan jin, baik secara langsung maupun lewat dukun, paranormal dan yang semisal dengan mereka."

Semoga Allah SWT melindungi kita dan keluarga kita dari semua kejelekan di dunia dan di akhirat. Aamiin yra. 

[Bersambung]

Kamis, 23 Januari 2025

Silsillah Ilmiyyah 1 : Halaqoh 14 - Berlebihan Terhadap Orang Shalih Pintu Kesyirikan

Kajian        : HSI Edu
Sifat           : Online - Intern - SI01.H14. Judul
Pemateri    : Ustad Abdullah Roy
Tanggal      : Kamis, 23 Januari 2025



Orang shaleh adalah orang yang baik karena mengikuti syariat Allah SWT baik di dalam hal akidah, ibadah, maupun muamalah, mereka memiliki derajat yang berbeda-beda di sisi Allah SWT. Sebagai seorang muslim kita diperintahkan untuk mencintai mereka, kita juga diperintahkan untuk mengikuti jejak mereka di dalam kebaikan. Berteman dan bermajelis dengan mereka adalah sebuah keberuntungan, membaca perjalanan hidup mereka bisa menambah keimanan dan meneguhkan hati, menghormati mereka adalah diperintahkan selama masih dalam batas-batas yang diizinkan agama, namun berlebih-lebihan terhadap orang sholeh seperti mendudukkan mereka di atas kedudukannya sebagai manusia atau menyifati mereka dengan sifat-sifat yang tidak pantas kecuali untuk Allah SWT maka ini hukumnya haram dan tidak diperbolehkan menurut agama karena hal ini dapat menjadi pintu kepada kesyirikan dan penyerahan sebagian ibadah kepada selain Allah SWT. 

Mencintai rasulullah SAW melebihi cinta kita kepada kedua orangtua, anak dan semua manusia adalah kewajiban agama sebagaimana disebutkan di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, "Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih dia cintai daripada orangtuanya, anaknya dan seluruh manusia." 

Namun beliau SAW melarang kita berlebih-lebihan terhadap beliau dengan mendudukan beliau di atas kedudukan beliau yang sebenarnya, namun beliau melarang kita berlebih-lebihan terhadap beliau yaitu dengan mendudukan beliau di atas kedudukan beliau yang sebenarnya sebagai seorang hamba Allah dan seorang rasulNya. Nabi SAW bersabda, "Janganlah kalian berlebih-lebihan terhadapku sebagaimana orang-orang nasrani berlebih-lebihan terhadap Isa bin Maryam, sesungguhnya aku adalah hambaNya maka katakanlah hamba Allah dan rasulNya." (HR. Bukhari)

Nabi SAW adalah seorang hamba maka tidak boleh disembah dan beliau adalah seorang rasul maka tidak boleh dicela dan diselisihi, maka apabila berlebih-lebihan terhadap sebaik-baik manusia saja yaitu rasulullah SAW tidak diperbolehkan maka bagaimana dengan yang lain. Di antara bentuk khulu yakni berlebih-lebihan terhadap orang-orang sholeh adalah meyakini bahwa mereka mengetahui ilmu ghaib, membangun di atas kuburan mereka, beribadah kepada Allah SWT di samping kuburan mereka, dan lain-lain, dan yang paling parah adalah menyerahkan sebagian ibadah kepada mereka.

Semoga Allah SWT melapangkan hati kita kepada kebenaran. Aamiin yra.

[Bersambung]

Rabu, 22 Januari 2025

Silsillah Ilmiyyah 1 : Halaqah 13 - Syafa'at

Kajian        : HSI Edu
Sifat           : Online - Intern - SI01.H13. Judul
Pemateri    : Ustad Abdullah Roy
Tanggal      : Rabu, 22 Januari 2025



Syafa'at adalah meminta kebaikan bagi orang lain di dunia maupun di akhirat. Allah SWT dan rasulNya telah mengabarkan kepada kita tentang adanya syafa'at pada hari kiamat. Di antara bentuknya adalah bahwasanya Allah SWT mengampuni seorang muslim dengan perantara doa orang yang telah Allah SWT izinkan untuk memberikan syafa'at.

Syafa'at akhirat ini harus kita imani dan kita berusaha untuk meraihnya. Dan modal utama untuk mendapatkan syafa'at akhirat adalah bertauhid dan bersihnya seseorang dari kesyirikan. Rasulullah SAW bersabda ketika beliau mengabarkan tentang bahwasanya beliau memiliki syafa'at pada hari kiamat, beliau mengatakan, "Syafaat itu akan didapatkan insyaallah oleh setiap orang yang mati dari umatku yang tidak menyekutukan Allah sedikitpun." (HR. Muslim)

Merekalah orang-orang yang Allah SWT ridhai karena ketauhidan yang mereka miliki. Allah SWT berfirman, "Dan mereka (yaitu para nabi, para malaikat, dan juga yang lain) tidak memberikan syafa'at kecuali bagi orang-orang yang Allah ridhai." (QS. Al-Anbiya [21] : 28)

Syafa'at di akhirat ini berbeda dengan syafa'at di dunia. Karena seseorang pada hari kiamat tidak bisa memberi syafa'at bagi orang lain, kecuali setelah diizinkan oleh Allah SWT sampai meskipun dia seorang nabi atau malaikat sekalipun, sebagaimana firman Allah SWT, "Tidaklah ada yang memberikan syafa'at di sisi Allah SWT kecuali dengan izinNya." (QS. Al-Baqarah [2] : 255)

Oleh karena itu permintaan syafa'at hanya ditujukan kepada Allah SWT Dzat yang memilikinya. Seperti seseorang mengatakan dalam doanya, "Ya Allah, aku meminta syafa'at nabiMu." Ini adalah cara meminta syafa'at yang diperbolehkan.

Bukan dengan meminta langsung kepada nabi Muhammad SAW seperti mengatakan, "Ya rasulullah, berilah aku syafa'atmu." Atau dengan cara menyerahkan sebagaian ibadah kepada makhluk dengan maksud meraih syafa'atnya, cara seperti ini adalah cara yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin di jaman dahulu.

Allah SWT berfirman, "Dan mereka menyembah kepada selain Allah sesuatu yang tidak memudharati mereka dan tidak pula memberikan manfaat dan mereka berkata, "Mereka adalah pemberi syafa'at bagi kami di sisi Allah. Katakanlah, apakah kalian akan mengabarkan kepada Allah sesuatu yang Allah tidak ketahui di langit maupun di bumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan." (QS. Yunus [10] : 18)

[Bersambung]

Yang Berlalu Biarlah Berlalu

Kajian        : Kajian Dhuha Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran
Sifat           : Offline/Online - Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran
Pemateri    : Ustad Subhan Bawazier
Tanggal      : Ahad, 19 Januari 2025


Bergulirnya waktu, manusia tidak luput dari namanya ujian. Banyak orang yang tidak mampu ketika diberikan ujian. Padahal janji Allah kepada manusia bahwa Allah tidak mungkin mendzolimi manusia dengan takdir berat yang manusia tidak mampu menjalani. Allah tidak mungkin menguji manusia di luar batas kemampuannya. Tanggung jawab kita adalah membuktikan bahwa ujian itu memang tidak mendzolimi kita, jika kita sampai merasa terdzolimi dengan ujian takdir yang Allah berikan maka ada yang salah dalam keseharian kita, kita, jangan-jangan kita orang yang nyaman dengan maksiat dan dosa, jangan-jangan kita tidak bisa membedakan Al-Maunnah (pertolongan Allah) dan Istiraj (kenikmatan semu yang sejatinya murka Allah).

Ujian yang berat itu ujian orang-orang sholeh. Dunia tempat bercocok tanam untuk akhirat sehingga memang tidak ada yang bercocok tanam kecuali merasakan kelelahan dan keletihan. Tiada kelezatan yang kita rasakan kecuali ketika dia melalui kesusahan dan keletihan.

Sikap orang berilmu ketika Ramadhan bahwa Ramadhan berkaitan dengan pahala yang banyak, mereka mempersiapkan berjuang di Ramadhan dengan kebaikan 11 bulan yang mereka lakukan. Maksudnya 11 bulan sebagai modal dan masuk Ramadhan sehingga dapat beribadah dengan khusyu. Sedangkan kita malah terbalik, Ramadhan sebagai modal untuk 11 bulan lainnya dengan harapan bulan-bulan lainnya kita dapat berbuat baik seperti ketika Ramadhan. Padahal syariatnya mempersiapkan diri ke bulan yang mulia (Ramadhan) karena tidak semua orang Allah panggil untuk bertemu Ramadhan. Banyak yang orang tidak tahu bahwa Ramadhan adalah bulannya umat yang di dalamnya begitu banyak kebaikan  seperti bulan Al-Quran, bulan yang ada Lailatul Qadr, bulan yang kita berbuat baik maka pahala berlipat ganda (1 kebaikan dibayar 10 dan 10 itu dibayar 700 kali lipat). Karena Allah mengatakan, "Hai orang yang beriman" berarti tanggung jawab kita untuk merapihkan iman dalam rangka masuk dalam rangka ritual bulan ibadah tersebut. Mari perbaiki diri, yag berlalu biarlah berlalu, persiapkan diri ke depannya lebih baik lagi.

Biasanya orang bisa terjebak keburukan dalam keseharian yang dia lakukan karena tidak merasa rontok dan gugur ke-Islam-annya. Kita harus mengetahui hal-hal yang membatalkan ke-Islam-an. Salah satu hal yang paling Allah suka yakni manusia yang memiliki bekas pada ibadah yang dia lakukan. Allah SWT mengatakan, "Setiap ibadah anak Adam kembali kepada pelakunya." Mau baik atau buruk semua berlaku untuk anak Adam, semuanya ada balasannya. Allah memerintahkan kita menangis jika mengingat dosa da jangan malah tersenyum/tertawa. Ulama menyampaikan hendaknya kita harus cek ke diri sendiri jangan-jangan kita berbuat syirik. Berawal dari riya (ibadahnya ingin dilihat), berawal dari sum'ah (ibadahnya ingin didengar), kemudian timbul ujub (takjub kepada diri sendiri), akhirnya menuhankan diri sendiri. Inilah syirik. Jangan terjebak oleh kesyirikan. Jauhi syirik karena dosa syirik tidak diampuni. Dalam QS. An-Nisa [4] : 116, artinya: "Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh, dia telah tersesat jauh sekali."

Yang mesti kita tinggalkan dari masa lalu kita, yakni:
  1. Toleransi yang berlebihan. Toleransi itu juga diatur Allah. Tidak menyelamati hari raya agama lain. Dalam QS. Al-Maidah [5] : 72, artinya: "Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam.” Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, “Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu."
  2. Terkadang kita terjebak di dalam pembatalan ke-Islam-an. Jika kita merasa kesulitan membutuhkan sesuatu, jangan meminta kepada selain Allah, namun mintalah langsung kepada Allah SWT, "Mintalah langsung maka Ku jawab." Nabi SAW bahkan membolehkan kita ber-tawassul yakni dengan perantara melalui orang-orang sholeh yang masih hidup, contoh meminta didoakan oleh orangtua, meminta dokter untuk merekomendasikan obat, asalkan ber-tawassul dengan kalimat-kalimat Allah.
  3. Orang yang tidak mengkafirkan orang kafir. Kadang kita merasa tidak enak untuk mengatakan bahwa orang kafir adalah kafir, padahal sesungguhnya memang mereka kafir. Jika kita enggan mengatakan bahwa orang kafir adalah kafir, dikhawatirkan ajaran kita dan mereka tercampur dengan kita, mengatakan bahwa mereka kafir sebagai pembeda. Jangan gampang terwarnai untuk mengiyakan kepada mereka yang berbuat kufur atau syirik. Dalam QS. Al-Baqarah [2] : 256, artinya: "Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui."
  4. Orang yang berkeyakinan bahwa ada kebenaran selain yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Jangan terjebak dengan apa yang tidak dicontohkan Rasulullah SAW (bidah). Mengajarkan manusia untuk menyembah Allah dan bagaimana cara beribadah. Jadikan Rasulullah SAW sebagai uswatun hasannah.
  5. Orang yang membenci sebagian yang dibawa oleh Rasulullah SAW walaupun orang tersebut melaksanakan syariat juga. Mereka memilih-milih dalil. Orang munafik melakukan ibadah tidak memakai contoh Rasulullah.  Dalam QS. Munafiqun [63] : 1, artinya: "Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Muhammad), mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa engkau adalah Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah menyaksikan bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta."
  6. Membenci sebagian dari yang dibawa Rasulullah SAW. Kadang orang seperti itu mengambil sunah yang enak-enaknya saja sementara yang tidak cocok baginya mereka membuangnya.
  7. Suka menghina sesuatu yang dibawa Rasulullah SAW. Dalam QS. Al-Mutafifin [83] : 29-30, artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang dahulu menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka (orang-orang yang beriman) melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya"
  8. Berobat dengan cara yang haram. Jangan berobat dengan cara yang haram. Jangan terkecoh pengobatan sihir yang dilabelin agama.
  9. Menolong orang kafir untuk menghadapi orang Islam. Sebaiknya tidak dilakukan karena mendzolimi orang Islam lain ancamannya Islam-nya batal. Dalam QS. Al-Maidah [5] : 51, artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia/pemimpin(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia/pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."
  10. Orang terkadang tidak sadar berpaling dari agama Allah karena tidak mau belajar sementara syurga dimasuki dengan ilmu.

Selasa, 21 Januari 2025

Silsillah Ilmiyyah 1 : Halaqoh 12 - Berdoa Kepada Selain Allah Termasuk Syirik Besar

Kajian        : HSI Edu
Sifat           : Online - Intern - SI01.H12. Judul
Pemateri    : Ustad Abdullah Roy
Tanggal      : Selasa, 21 Januari 2025



Berdoa kepada Allah adalah seseorang menghadap Allah SWT dengan maksud supaya Allah mewujudkan keinginannya baik dengan meminta atau dengan merendahkan diri mengharap dan takut kepada Allah SWT. Berdoa dengan makna di atas adalah ibadah.

Berkata An Nu'man Ibnu Basyirin RA, "Aku mendengar Nabi SAW bersabda, "Doa adalah ibadah." Kemudian Beliau membaca ayat, "Dan Rabb kalian telah berkata, "Berdoalah kalian kepadaKu, niscaya Aku akan mengabulkan kalian. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepadaKu, mereka akan masuk ke dalam neraka jahanam dalam keadaan terhina." (QS. Ghafir [40] : 60
(Hadist ini diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani rahimahullah)

Dan makna "beribadah kepadaKu" pada ayat ini adalah "Berdoa kepadaKu."

Apabila doa adalah ibadah yang merupakan hak Allah SWT semata, maka berdoa kepada selain Allah dengan merendahkan diri di hadapannya, mengharap dan juga takut kepadanya, sebagaimana ketika dia mengharap dan takut kepada Allah SWT adalah termasuk syirik besar.

Termasuk jenis doa adalah:
  1. Istighatsah, yaitu meminta dilepaskan dari kesusahan.
  2. Isti'adzah, yaitu meminta perlindungan.
  3. Isti'anah, yaitu meminta pertolongan.
Apabila di dalamnya ada perendahan diri, pengharapan dan takut  maka ini adalah ibadah yang hanya boleh diserahkan kepada Allah SWT semata. 
Namun perlu diketahui bahwasanya boleh seseorang ber-istighatsah, ber-isti'adzah dan ber-isti'anah kepada makhluk dengan 4 syarat berikut:
  1. Makhluk tersebut masih hidup.
  2. Dia berada di depan kita atau bisa mendengar ucapan kita.
  3. Dia mampu sebagai makhluk untuk melakukannya.
  4. Makhluk tersebut diyakini hanya sebagai sebab sehingga tidak boleh bertawakal kepada sebab tersebut, akan tetapi bertawakal kepada Allah SWT yang menciptakan sebab tersebut.
Orang yang ber-istighatsah, ber-isti'adzah dan ber-isti'anah kepada orang yang sudah mati atau kepada orang yang masih hidup akan tetapi tidak berada di depan kita, atau tidak mendengar ucapan kita,  atau meminta kepada makhluk perkara yang tidak mungkin bisa melakukannya kecuali Allah SWT, maka ini termasuk syirik besar.

[Bersambung]

Senin, 20 Januari 2025

Silsillah Ilmiyyah 1 : Halaqoh 11 - Ar-Rugyah (Jampi-Jampi)

Kajian        : HSI Edu
Sifat           : Online - Intern - SI01.H11. Judul
Pemateri    : Ustad Abdullah Roy
Tanggal      : Senin, 20 Januari 2025



Ar-Ruqyah yaitu bacaan yang dibacakan kepada orang yang sakit supaya sembuh. Bacaan ini diperbolehkan selama tidak ada kesyirikannya.

Diriwayatkan dari Auf bin Malik RA, beliau berkata, "Kami dahulu meruqyah di jaman jahiliyah maka kami bertanya kepada rasulullah SAW, Ya rasulullah apa pendapatmu tentang ruqyah ini? Rasulullah SAW bersabda, Perlihatkanlah kepadaku ruqyah-ruqyah kalian, sesungguhnya ruqyah tidak mengapa selama tidak ada kesyirikan." (HR. Muslim)

Ruqyah yang tidak ada kesyirikan adalah seperti ruqyah dari ayat-ayat Al-Quran, dari doa-doa yang diajarkan nabi Muhammad SAW (yang ini lebih utama), atau dari doa-doa yang yang lain yang diketahui kebenaran maknanya baik dalam bahasa Arab maupun dengan selain bahasa Arab. Kemudian hendaknya orang meruqyah ataupun orang yang diruqyah meyakini bahwasanya ruqyah hanyalah sebab semata tidak berpengaruh dengan sendirinya dan tidak boleh seseorang bertawakal kepada sebab tersebut, seorang muslim mengambil sebab dan bertawakal kepada Dzat yang menciptakan sebab tersebut, yaitu Allah SWT.

Ruqyah yang mengandung kesyirikan adalah jampi-jampi atau bacaan yang mengandung permohonan kepada selain Allah SWT, baik kepada jin, wali, dan sebagainya, biasanya disebutkan nama-nama mereka, tidak jarang jampi-jampi seperti ini dicampur dengan ayat-ayat Al-Quran atau dengan nama-nama Allah SWT, atau dengan kalimat yang berasal dari bahasa Arab dengan tujuan untuk mengelabui orang-orang yang jahil dan tidak tahu.

Ruqyah yang mengandung kesyirikan telah dijelaskan oleh rasulullah SAW di dalam sabda beliau, "Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat, dan pelet adalah syirik." (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani)

[Bersambung]

Jumat, 17 Januari 2025

Silsillah Ilmiyyah 1 : Halaqoh 10 - Termasuk Syirik Besar Bernadzar Untuk Selain Allah

Kajian        : HSI Edu
Sifat           : Online - Intern - SI01.H10. Judul
Pemateri    : Ustad Abdullah Roy
Tanggal      : Jumat, 17 Januari 2025



Bernadzar untuk Allah adalah seseorang mengatakan, "Wajib bagi saya melakukan ibadah ini dan itu untuk Allah" atau dengan mengatakan, "Saya bernadzar untuk Allah bila terlaksana hajat saya."

Bernadzar adalah ibadah dan sebuah bentuk pengagungan, karenanya bernadzar tidak diperkenankan kecuali untuk Allah semata seperti orang yang bernadzar untuk berpuasa satu hari jika lulus ujian, atau bernadzar untuk Allah akan mengadakan umrah jika sembuh dari penyakitnta dan lain-lain.

Allah berfirman, "Dan apa yang kalian infakkan atau yang kalian nadzarkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang dzalim." (QS. Al-Baqarah [2] : 270)

Di dalam ayat ini Allah menggambarkan bahwa Allah mengetahui nadzar para hambaNya dan akan membalas dengan balasan yang baik. Ini menunjukkan bahwasanya nadzar adalah ibadah  yang seorang muslim akan berikan atas pahala nadzar tersebut. Menunaikan nadzar apabila dalam ketaatan hukumnya adalah wajib. 

Berdasarkan firman Allah, "Dan supaya mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka."(QS. Al-Hajj [22] : 29)

Sabda nabi SAW, "Barangsiapa yang bernadzar untuk menaati Allah maka hendaknya menaatinya, dam barangsiapa yang bernadzar untuk memaksiati Allah maka janganlah dia memaksiatiNya." (HR. Bukhari)

Bernadzar untuk selain Allah termasuk syiril besar yang mengeluarkan seseorang dari Islam seperti seseorang bernadzar apabila sembuh dari penyakit maka akan menyembelih untuk wali fulan atau berpuasa untuk syeikh fulan dan lain-lain. 

Semoga  Allah melindungi kita dan keturunan kita dari perbuatan syirik. Aamiin yra.

[Bersambung]

Kamis, 16 Januari 2025

Silsillah Ilmiyyah 1 : Halaqoh 9 - Termasuk Syirik Besar Menyembelih Untuk Selain Allah

Kajian        : HSI Edu
Sifat           : Online - Intern - SI01.H09. Judul
Pemateri    : Ustad Abdullah Roy
Tanggal      : Kamis, 16 Januari 2025



Menyembelih termasuk ibadah yang agung di dalam agama Islam, di dalamnya ada pengagungan terhadap Allah Rabb semesta alam. Di antara wujud cinta kepada Allah adalah dengan mengorbankan sebagian harta kita untukNya, seperti ibadah kurban di hari Raya Idul Adha, aqiqah dan hadyu bagi sebagian jamaah haji.

Allah telah memerintahkan kita menyerahkan ibadah yang mulia ini hanya untukNya semata sebagaimana firman Allah, "Maka shalatlah dan menyembelihlah untuk Tuhanmu." (QS. Al-Kautsar [108] : 2)

"Barangsiapa yang menyerahkan ibadah menyembelih ini untuk selain Allah dalam rangka mengagungkan dan mendekatkan diri kepada selain Allah baik kepada nabi, wali, jin atau selainnya, maka dia telah terjatuh dalam syirik besar yang mengeluarkan seseorang dari Islam, membatalkan amalannya dan terkena ancaman laknat dari Allah, sebagaimana sabda nabi SAW, "Allah melaknat seseorang yang menyembelih untuk selain Allah." (HR. Muslim)

Makna laknat adalah dijauhkan dari rahmat Allah. Oleh karenanya, janganlah sekali-kali kita sebagai seorang muslim berkorban dan menyembelih untuk selain Allah sedikitpun, meskipun dengan seekor lalat dengan harapan untuk mendapatkan manfaat atau terhindar mudharat. Kita harus yakin sebagai seorang muslim bahwa manfaat dan juga mudharat di tangan Allah semata. Dan hanya kepadaNya-lah seorang muslim bertawakal.

[Bersambung]

Rabu, 15 Januari 2025

Silsillah Ilmiyyah 1 : Halaqoh 8 - Bertabarruk (Mencari Barakah)

Kajian        : HSI Edu
Sifat           : Online - Intern - SI01.H08. Judul
Pemateri    : Ustad Abdullah Roy
Tanggal      : Rabu, 15 Januari 2025



Barakah adalah banyaknya kebaikan dan langgengnya.
Allah adalah Dzat yang berbarakah, artinya Dzat yang banyak kebaikanNya.

Allah berfirman, "Dialah Allah yang banyak barakahnya, Rabb semesta alam." (QS. Al-Araaf [7] : 54)

Allah jugalah Dzat yang memberikan keberkahan atau kebaikan kepada sebagian makhlukNya sehingga makhluk tersebut menjadi makhuk yang berbarakah dan banyak kebaikannya.

Allah berfirman, "Sesungguhnya rumah yang pertama yang diletakkan bagi manusia untuk beribadah adalah rumah yang ada di Mekah yang berbarakah dan petunjuk bagi seluruh alam." (QS. Ali-Imran [3] : 96)

Kabah diberikan barakah oleh Allah dan cara mendapatkan barakahnya adalah dengan melakukan ibadah di sana.

Allah berfirman, "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam yang berbarakah. Sesungguhnya Kami memberi peringatan." (QS. Ad-Dukhan [44] : 3)

Malam lailatul qadr adalah malam berbarakah dan cara mendapatkan barakah dan kebaikannya adalah dengan melakukan ibadah di malam tersebut. 

Seorang ulama berbarakah dengan ilmunya dan dakwahnya. Cara mendapatkan keberkahannya dan juga kebaikannya adalah dengan menimba ilmu darinya. Di sana ada barakah yang bersifat dzatiyah yaitu dzatnya yang berbarakah, di mana barakah seperti ini bisa berpindah. Barakah jenis ini hanya Allah berikan kepada nabi san rasul. Oleh karena itu dahulu para sahabat nabi bertabarruk dengan bekas air wudhu beliau, rambut beliau, keringat beliau dan lain-lain. Sepeninggal beliau SAW, mereka tidak melakukan hal ini kepada Abu Bakar dan Umar serta para sahabat mulia yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa beliau ini adalah kekhususan para nabi dan rasul.

Meminta barakah hanya kepada Allah dengan cara yang disyariatkan, adapun meminta barakah dari Allah dengan sebab yang tidak disyariatkan seperti mengusap dinding masjid tertentu atau mengambil tanah kuburan tertentu, dan lain-lain maka ini termasyk syirik kecil.
Semoga Allah memberkahi kita dan keluarga kita. Aamiin yra.

[Besambung]

Selasa, 14 Januari 2025

Silsillah Ilmiyyah 1 : Halaqoh 7 - Termasuk Syirik Memakai Jimat

Kajian        : HSI Edu
Sifat           : Online - Intern - SI01.H07. Judul
Pemateri    : Ustad Abdullah Roy
Tanggal      : Selasa, 14 Januari 2025


Allah adalah Dzat yang memberikan manfaat dan mudharat. Kalau Allah meghendaki untuk memberikan manfaat kepada seseorang, maka tidak akan ada yang bisa mencegahnya. Demikian pula sebaliknya ketika Allah menghendaki untuk menimpakan musibah kepada seseorang, maka tidak ada yang bisa menolaknya.

Keyakinan tersebut melazimkan kita sebagai seorang muslim untuk hanya bergantung kepada Allah semata dan merasa cukup dengan Allah di dalam usaha untuk mendapatkan manfaat dan menghindari mudharat seperti di dalam mencari rezeki, mencari keselamatan, kesembuhan dari penyakit dan lain-lain. Serta tidak bergantung sekali-kali kepada benda-benda yang dikeramatkan seperti jimat, wafaq, susuk, dan sejenisnya.

Rasulullah mengingatkan, "Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat dan semisalnya) maka sungguh dia telah berbuat syirik." (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani rahimahullah)

Apabila seseorang meyakini bahwa barang tersebut adalah sebab saja maka hal itu termasuk syirik kecil, karena dia telah mejadikan sesuatu yang buka sebab sebagai sebab padahal yang berhak menentukan sesuatu sebagai sebab atau tidak adalah Dzat yang menciptakannya, yaitu Allah.

Perlu diketahui bahwa dosa syirik kecil tidak bisa disepelekan karena dosa syirik kecil tetap lebih besar daripada dosa-dosa besar seperti dosa zina, dosa membunuh, dan lain-lain.

Kemudian apabila seseorang meyakini bahwa barang tersebut dengan sendirinya memberikan manfaat dan memberikan mudharat maka hal itu termasuk syirik besar yang bisa mengeluarkan seseorang dari Islam.

Semoga Allah memudahkan kita dan juga saudara-saudara kita untuk meninggalkan perbuatan syirik yag sudah tersebar ini dan menjadikan ketergantungan hati kita dan mereka hanya kepada Allah.

[Bersambung]

Senin, 13 Januari 2025

Silsillah Ilmiyyah 1 : Halaqoh 6 - Apa Itu Tauhid

Kajian        : HSI Edu
Sifat           : Online - Intern - SI01.H06. Judul
Pemateri    : Ustad Abdullah Roy
Tanggal      : Senin, 13 Januari 2025



Tauhid secara bahasa adalah mengesakan. Adapun secara istilah maka tauhid adalah mengesakan Allah didalam beribadah. 

Seseorang tidak dinamakan bertauhid sehingga meninggalkan peribadatan kepada selain Allah, seperti:
  • Berdoa kepada selain Allah
  • Bernadzar untuk selain Allah
  • Menyembelih untuk selain Allah
  • dan lain-lain
Apabila seseorang beribadah kepada Allah dan menyerahkan sebagian ibadah kepada selain Allah, siapapun dia, baik kepada seorang nabi, malaikat, atau selainnya maka inilah yang dinamakan dengan syirik, syirik yaitu menyekutukan Allah dalam beribadah. 

Allah berfirman, "Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang telah kalian sembah kecuali Dzat yang telah menciptakanku." (QS. Az-Zukhruf [43]: 26-27)

Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang mengatakan Laa illaha illallah, dan mengingkari segala sesuatu yang disembah selain Allah, maka haram harta dan darahnya (yaitu tidak boleh diganggu) dan perhitungannya atas Allah." (HR. Muslim)

Oleh karena itu rukun kalimat tauhid Laa illaha illallah ada dua, yaitu:
  1. Nafi (pengingkaran) yaitu pada kalimat Laaillaha yang artinya tidak ada Tuhan yang berhak disembah. Ini adalah kalimat pengingkaran yakni mengingkari tuhan-tuhan selain Allah.
  2. Isbat (penetapan) pada kalimat illallah artinya kecuali Allah. Ini adalah kalimat penetapan yakni menetapkan Allah sebagai satu-satunya sesembahan.

[Bersambung]

Jumat, 10 Januari 2025

Silsillah Ilmiyyah 1 : Halaqoh 5 - Taubat Dari Kesyirikan

Kajian        : HSI Edu
Sifat           : Online - Intern - SI01.H05. Judul
Pemateri    : Ustad Abdullah Roy
Tanggal      : Jumat, 10 Januari 2025



Orang yang berbuat syirik dan meninggal dunia tanpa bertaubat kepada Allah maka dosa syiriknya tidak akan diampuni. Namun apabila dia bertaubat sebelum meninggal, maka Allah akan mengampuni dosanya bagaimanapun besar dosa tersebut. 

Taubat nasuha adalah taubat yang terpenuhi di dalamnya 3 syarat berikut, yakni:
  1. Menyesal.
  2. Meninggalkan perbuatan tersebut.
  3. Bertekad kuat untuk tidak mengulangi lagi.
Allah berfirman, "Katakanlah wahai hamba-hambaKu yang telah melampaui batas terhadap dirinya sendiri (dengan berbuat dosa), janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar [39] : 53)

Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama ruh belum sampai tenggorokan." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari Abdullah Ibn Umar RA dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah)

Para sahabat nabi tidak semua lahir dalam keadaan Islam bahkan banyak di antara mereka yang masuk Islam ketika sudah besar dan sebelumnya bergelimang dengan kesyirikan. Supaya tidak terjerumus kembali ke dalam kesyirikan maka seseorang harus mempelajari tauhid dan memahaminya dengan baik serta mengetahui jenis-jenis kesyirikan sehingga bisa menjauhinya.

[Bersambung]

Kamis, 09 Januari 2025

Silsillah Ilmiyyah 1 : Halaqoh 4 - Syirik Membatalkan Amal

Kajian        : HSI Edu
Sifat           : Online - Intern - SI01.H04. Judul
Pemateri    : Ustad Abdullah Roy
Tanggal      : Kamis, 9 Januari 2025



Syirik adalah dosa besar yang bisa membatalkan amal seseorang (sebelumnya). 

Allah berfirman, "Dan sungguh-sungguh telah diwahyukan kepadamu wahai Muhammad dan orang-orang sebelummu bahwa apabila kamu berbuat syirik maka sungguh akan batal amalanmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Maka sembahlah Allah saja dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur." (QS. Az-Zumar [39] : 65-66)

Di dalam ayat ini disebutkan seorang nabi pun akan batal amalannya apabila dia berbuat syirik. Oleh karena itu, jagalah amalan yang sudah anda tabung bertahun-tahun. Jangan biarkan amalan tersebut hilang begitu saja karena kejahilan anda terhadap tauhid dan syirik.

Terkadang sebuah perbuatan yang kita anggap biasa bisa menghancurkan amalan sebesar gunung dan belum tentu ada waktu lagi untuk menabung kembali.

[Bersambung]

Rabu, 08 Januari 2025

Silsilah Ilmiyyah 1 : Halaqoh 3 - Bahaya Kesyirikan

Kajian        : HSI Edu
Sifat           : Online - Intern - SI01.H03. Judul
Pemateri    : Ustad Abdullah Roy
Tanggal      : Rabu, 8 Januari 2025



Tauhid adalah amalan yang paling Allah cintai, sebaliknya syirik (yaitu menyekutukan Allah dalam beribadah) adalah amalan yang sangat Allah murkai. 

Allah memang Maha Pengampun, akan tetapi apabila seseorang meninggal dunia dalam keadaan berbuat syirik besar kepada Allah, maka Allah tidak akan mengampuni dosa syirik tersebut. Akibatnya dia kekal di dalam neraka selama-lamanya dan tidak ada harapan baginya untuk masuk ke dalam syurga Allah. Sungguh, ini adalah kerugian yang tidak ada kerugian yang lebih besar daripada kerugian tersebut.

Allah berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan masih mengampuni dosa yang lain bagi siapa yang dikehendaki." (QS. An-Nisa [4] : 48)

Allah juga berfirman, "Sesungguhnya, barangsiapa yang menyekutukan Allah, maka Allah mengharamkan baginya syurga dan tempat kembalinya adalah neraka dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang dzalim." (QS. Al-Maidah [5] : 72)

Oleh karena itu, hati-hatilah saudaraku terhadap dosa yang satu ini. Terkadang seseorang terjerumus ke dalamnya sedangkan dia tidak menyadarinya. 

Bentengilah dirimu dengan perisai ilmu agama. Belajarlah dan berdoalah kepada Allah dengan sejujur-jujurnya. Semoga Allah melindungi kita dan keluarga kita dari perbuatan syirik.

[Bersambung]

Selasa, 07 Januari 2025

Silsilah Ilmiyyah 1 : Halaqoh 2 - Tauhid Syarat Mutlak Masuk Syurga

Kajian        : HSI Edu
Sifat           : Online - Intern - SI01.H02. Judul
Pemateri    : Ustad Abdullah Roy
Tanggal      : Selasa, 7 Januari 2025



Orang yang menginginkan kebahagian di syurga maka dia harus memiliki modal yang satu ini, yaitu "Tauhid". Tidak akan masuk syurga kecuali orang-orang yang bertauhid. Orang-orang yang bertauhid pasti akan masuk syurga meskipun mungkin sebelumnya dia diazab terlebih dahulu di dalam neraka karena dosa-dosa yang pernah dia lakukan. 

Nabi SAW bersabda, "Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhaq disembah kecuali Allah, tidak ada sekutu bagiNya, dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, dan bahwasanya Isa adalah hamba Allah dan rasulNya, dan kalimatNya yang Dia tiupkan kepada Maryam dan ruh dariNya, dan dia bersaksi bahwa syurga benar adanya dan neraka benar adanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam syurga bagaimanapun amalan yang telah dia amalkan." (HR. Bukhari dan Muslim). 

Di dalam hadist yang lain Nabi SAW bersabda, "Maka sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka bagi orang-orang yang mengatakan Laa illaha illa Allah (tidak ada sesembahan yang berhaq disembah kecuali Allah), yang mengharap dengannya wajah Allah." (HR. Bukhari dan Muslim) 

Oleh karena itu  tidak heran jika prioritas dakwah para rasul dan orang-orang yang mengikuti mereka adalah "Tauhid". Ini menunjukkan kepada kita bahwasanya modal utama untuk mendapatkan syurga Allah adalah dengan bertauhid. 

[Bersambung]

Senin, 06 Januari 2025

Silsilah Ilmiyyah 1 : Halaqoh 1 - Belajar Tauhid - Mengapa Kita Wajib Belajar Tauhid

Kajian        : HSI Edu
Sifat           : Online - Intern - SI01.H01. Judul
Pemateri    : Ustad Abdullah Roy
Tanggal      : Senin, 6 Januari 2025


Mengapa harus mempelajari tauhid? 

Mempelajari tauhid merupakan kewajiban muslim baik laki-laki maupun wanita karena Allah menciptakan manusia dan jin adalah hanya untuk bertauhid, yaitu mengesakan ibadah kepada Allah SWT. 

Allah SWT berfirman pada QS. Adz-Dzariyat [60] : 56, artinya : "Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu."
Oleh karena itu Allah SWT mengutus para rasul kepada setiap umat dengan tujuan untuk mengajak mereka kepada tauhid.

Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nahl [16] : 36, artinya : "Dan sungguh-sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang rasul yang berkata kepada kaumnya, "Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut." 
Makna thaghut adalah segala sesembahan selain Allah SWT. 
Oleh karena itu, seorang muslim yang tidak memahami tauhid yang merupakan inti ajaran Islam maka sebenarnya dia tidak memahami agamanya meskipun telah mengaku mempelajari ilmu-ilmu yang banyak.

[Bersambung]

Jumat, 03 Januari 2025

Silsilah Pengagungan Terhadap Ilmu - Bagian 5 End

Kajian        : HSI Edu
Sifat           : Online - Intern - PTI.H05. Judul
Pemateri    : Ustad Abdullah Roy
Tanggal      : Jumat, 3 Januari 2025

[Lanjutan]

Menurut Syaikh DR. Shalih bin Abdillah Ibnu Ahmad Al-Husaini hafidzahullah 20 perkara yang merupakan bentuk pengagungan terhadap ilmu, yakni:
  1. Membersihkan tempat ilmu, yaitu hati.
  2. Mengikhlaskan niat karena Allah di dalam menuntutnya.
  3. Mengumpulkan tekad untuk menuntutnya.
  4. Memusatkan semangat untuk mempelajari Al-Quran dan Al-Hadist.
  5. Menempuh jalan yang benar di dalam menuntut ilmu agama.
  6. Mendahulukan ilmu yang paling penting kemudian yang setelahnya dan setelahnya.
  7. Bersegera untuk mendapatkan ilmu dan memanfaatkan waktu muda.
  8. Pelan-pelan di dalam menuntut ilmu.
  9. Sabar dalam menuntut ilmu dan menyampaikan ilmu.
  10. Memperhatikan adab-adab ilmu. Ilmu yang bermanfaat didapatkan diantaranya dengan memperhatikan adab. 
  11. Menjaga ilmu dari apa yang menjelekkannya. 
  12. Memilih teman yang sholeh. 
  13. Berusaha keras di dalam menghapal ilmu, bermudzakarah (mengulang kembali bersama teman) dan bertanya. 
  14. Menghormati ahli ilmu. 
  15. Mengembalikan sebuah permasalahan kepada ahlinya. 
  16. Menghormati majelis ilmu dan kitab. 
  17. Membela ilmu dan menolongnya. Ilmu memiliki kehormatan yang mengharuskan penuntutnya dan ahlinya untuk membela dan menolongnya bila ada yang berusaha untuk merusaknya. Oleh karena itu para ulama membantah orang yang menyimpang bila jelas penyimpangannya dari syariat siapapun dia. Yang demikian untuk menjaga agama dan menasehati kaum muslimin. Mereka memboikot seorang mubtadi', yaitu orang yang membuat bid'ah dalam agama, tidak mengambil ilmu dari mereka kecuali dalam keadaan terpaksa dan lain-lain. Semuanya dilakukan untuk menjaga ilmu dan membelanya.
  18. Berhati-hati dalam bertanya kepada para ulama. Seorang penuntut ilmu hendaknya memperhatikan 4 perkara di dalam bertanya, yakni:
    1. Bertanya untuk belajar, bukan ingin mengeyel, karena orang yang niatnya tidak baik di dalam bertanya akan dijauhkan dari berkah ilmu itu sendiri.
    2. Bertanya tentang sesuatu yang bermanfaat.
    3. Melihat keadaan gurunya, tidak bertanya kepada sang guru apabila guru dalam keadaan tidak kondusif untuk menjawab pertayaan.
    4. Memperbaiki cara bertanya seperti menggunakan kata-kata yang baik, mendoakan untuk sang guru, sebelum bertanya menggunakan panggilan penghormatan, dan lain-lain
  19. Cinta yang sangat kepada ilmu. Tidak mungkin seseorang mencapai derajat ilmu kecuali apabila kelezatan ia yang paling besar ada di dalam ilmu dan kelezatan ilmu bisa didapatkan dengan 3 perkara, yakni:
    1. Mengeluarkan segenap tenaganya dan kesungguhannya untuk belajar.
    2. Kejujuran di dalam belajar.
    3. Keikhlasan niat.
  20. Menjaga waktu di dalam ilmu. Seorang penuntut ilmu tidak menyia-nyiakan waktunya sedikitpun, menggunakan waktu untuk beribadah dan mendahulukan yang afdhal di antara amalan-amalan. Sebagian salaf dahulu ada yang muridnya membaca kitab kepada beliau sedangkan beliau dalam keadaan makan, yang demikian adalah untuk menjaga waktunya jangan sampai tersia-sia dari menuntut ilmu.
[Selesai]

Kamis, 02 Januari 2025

Silsilah Pengagungan Terhadap Ilmu - Bagian 4

Kajian        : HSI Edu
Sifat           : Online - Intern - PTI.H04. Judul
Pemateri    : Ustad Abdullah Roy
Tanggal      : Kamis, 2 Januari 2025

[Lanjutan]

Menurut Syaikh DR. Shalih bin Abdillah Ibnu Ahmad Al-Husaini hafidzahullah 20 perkara yang merupakan bentuk pengagungan terhadap ilmu, yakni:
  1. Membersihkan tempat ilmu, yaitu hati.
  2. Mengikhlaskan niat karena Allah di dalam menuntutnya.
  3. Mengumpulkan tekad untuk menuntutnya.
  4. Memusatkan semangat untuk mempelajari Al-Quran dan Al-Hadist.
  5. Menempuh jalan yang benar di dalam menuntut ilmu agama.
  6. Mendahulukan ilmu yang paling penting kemudian yang setelahnya dan setelahnya.
  7. Bersegera untuk mendapatkan ilmu dan memanfaatkan waktu muda.
  8. Pelan-pelan di dalam menuntut ilmu.
  9. Sabar dalam menuntut ilmu dan menyampaikan ilmu.
  10. Memperhatikan adab-adab ilmu. Ilmu yang bermanfaat didapatkan diantaranya dengan memperhatikan adab. 
  11. Menjaga ilmu dari apa yang menjelekkannya. 
  12. Memilih teman yang sholeh. 
  13. Berusaha keras di dalam menghapal ilmu, bermudzakarah (mengulang kembali bersama teman) dan bertanya. Belajar dari seorang guru tidak banyak manfaatnya jika tidak menghapal, bermudzakarah dan bertanya. Menghapal berkaitan dengan diri sendiri. Bermudzakarah adalah mengulang kembali bersama teman. Bertanya maksudnya bertanya kembali kepada sang guru. Berkata Syaikh Utsaimin rahimahullah, "Kami menghapal sedikit dan membaca banyak, maka kami mengambil manfaat dari apa yang kami hapal lebih banyak daripada apa yang kami baca dan dengan bermudzakarah akan hidup ilmu di dalam jiwa dan dengan bertanya akan terbuka perbendaharaan ilmu".
  14. Menghormati ahli ilmu. Rasulullah SAW bersabda, "Bukan termasuk umatku orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan yang menyayangi yang lebih muda dan mengetahui hak bagi seorang alim." (Hadist Hasan, HR. Al-Imam Ahmad di dalam musnad beliau). Maka seorang murid harus memiliki rasa tawadhu kepada gurunya. Menghadap beliau dan tidak menoleh. Menjaga adab berbicara. Tidak berlebih-lebihan di dalam memuji beliau. Mendoakan beliau. Mengucapkan "Terimakasih" kepada beliau atas pengajaran beliau. Menampakkan rasa butuhnya terhadap ilmu beliau. Tidak menyakiti beliau dengan ucapan dan perbuata. Serta berlemah lembut ketika mengingatkan kesalahan beliau. Di sana ada 6 perkara yang harus dia jaga apabila melihat kesalahan seorang guru:
    1. Meneliti terlebih dahulu apakah benar kesalahan tersebut keluar dari seorang guru.
    2. Meneliti apakah itu memang sebuah kesalahan, dan ini adalah tugas ahlul ilmu.
    3. Tidak boleh mengikuti kesalahan tersebut.
    4. Memberikan udzur kepada sang guru dengan alasan yang benar.
    5. Memberikan nasihat dengan lembut dan rahasia.
    6. Menjaga kehormatan seorang guru di hadapan kaum muslimin yang lain.
  15. Mengembalikan sebuah permasalahan kepada ahlinya. Orang yang mengagungkan ilmu mengembalikan sebuah permasalahan kepada ahli ilmu dan tidak memaksakan dirinya atas sesuatu yang tidak mampu, karena dikhawatirkan takut berbicara tanpa ilmu, khususnya peristiwa-peristiwa yang besar yang terjadi berkaitan dengan urusan umat dan orang banyak. Mereka para ulama memiliki ilmu dan berpengalaman, maka hendaklah kita berhusnudzon kepada mereka dan apabila ulama berselisih, maka lebih hati-hatinya seorang mengambil ucapan mayoritas mereka.
  16. Menghormati majelis ilmu dan kitab. Hendaklah beradab ketika bermajelis. Melihat kepada gurunya dan tidak menoleh tanpa keperluan. Tidak banyak bergerak dan memainkan tangan dan kakinya. Tidak bersandar di hadapan seorang guru. Tidak bersandar dengan tangannya. Tidak berbicara dengan orang yang ada di sampingnya. Apabila bersin berusaha untuk merendahkan suaranya. Apabila menguap berusaha untuk meredamnya atau menutup dengan mulutya. Hendaknya juga menjaga kitab dan memuliakannya. Tidak menjadikan kitab sebagai tempat simpanan barang-barang. Tidak bersandar di atas kitab. Tidak meletakkan kitab di kakinya dan apabila dia membaca kitab di hadapan seorang guru hendaknya dia mengangkat kitab tersebut dan tidak meletakkan kitab tersebut dan tidak meletakkan kitab tersebut di tanah.
  17. [Bersambung]

Rabu, 01 Januari 2025

Silsilah Pengagungan Terhadap Ilmu - Bagian 3

Kajian        : HSI Edu
Sifat           : Online - Intern - PTI.H03. Judul
Pemateri    : Ustad Abdullah Roy
Tanggal      : Selasa, 31 Desember 2024

[Lanjutan]

Menurut Syaikh DR. Shalih bin Abdillah Ibnu Ahmad Al-Husaini hafidzahullah 20 perkara yang merupakan bentuk pengagungan terhadap ilmu, yakni:
  1. Membersihkan tempat ilmu, yaitu hati.
  2. Mengikhlaskan niat karena Allah di dalam menuntutnya.
  3. Mengumpulkan tekad untuk menuntutnya.
  4. Memusatkan semangat untuk mempelajari Al-Quran dan Al-Hadist.
  5. Menempuh jalan yang benar di dalam menuntut ilmu agama.
  6. Mendahulukan ilmu yang paling penting kemudian yang setelahnya dan setelahnya.
  7. Bersegera untuk mendapatkan ilmu dan memanfaatkan waktu muda.
  8. Pelan-pelan di dalam menuntut ilmu.
  9. Sabar dalam menuntut ilmu dan menyampaikan ilmu. Menghapal membutuhkan kesabaran. Memahami membutuhkan kesabaran. Menghadiri majelis ilmu membutuhkan kesabaran. Demikian pula menjaga hak seorang guru membutuhkan kesabaran. Berkata Yahya Ibnu Abi Katsir, "Tidak didapatkan ilmu dengan badan yag berleha-leha." Demikian pula menyampaikan dan mengajarkan perlu kesabaran. Duduk bersama para penuntut ilmu perlu kesabaran. Memahamkan mereka perlu kesabaran. Menghadapi kesalahan-kesalan mereka juga penuh kesabaran.
  10. Memperhatikan adab-adab ilmu. Ilmu yang bermanfaat didapatkan diantaranya dengan memperhatikan adab. Adab di sini mencakup adab terhadap diri di dalam pelajaran. Adab terhadap guru, teman, dan lain-lain. Orang yang beradab di dalam ilmu berarti dia mengagungkan ilmu maka dia dipandang sebagai seorang yang berhak untuk mendapatkan ilmu tersebut. Adapun orang yang tidak beradab maka dikhawatirkan ilmu akan sia-sia jika disampaikan kepadanya. Berkata Ibnu Sirin, "Dahulu mereka mempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu." Bahkan sebagaian salaf mendahulukan mempelajari adab sebelum mempelajari ilmu dan banyak diantara penuntut ilmu yang tidak mendapatkan ilmu karena dia menyia-nyiakan adab.
  11. Menjaga ilmu dari apa yang menjelekkannya. Hendaknya seorang penuntut ilmu menjaga wibawanya karena apabila dia melakukan sesuatu yang merusak wibawanya sebagai seorang penuntut ilmu, berarti dia telah merendahkan ilmu, seperti terlalu banyak menoleh di jalan, berteman akrab dengan orang-orang yang fasik dan lain-lain.
  12. Memilih teman yang sholeh. Seorang penuntut ilmu perlu teman yang membantu untuk mendapatkan ilmu dan bersungguh-sungguh. Teman yang tidak baik akan memberi pengaruh yang tidak baik. Rasulullah SAW bersabda, "Seseorang berada di atas agama teman akrabnya maka hendaklah salah seorang diantara kalian melihat dengan siapa dia berteman akrab." (Hadist Hasan, HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
  13. [Bersambung]