Kajian : HSI Edu
Sifat : Online - Intern - PTI.H03. Judul
Sifat : Online - Intern - PTI.H03. Judul
Pemateri : Ustad Abdullah Roy
Tanggal : Selasa, 31 Desember 2024
[Lanjutan]
Menurut Syaikh DR. Shalih bin Abdillah Ibnu Ahmad Al-Husaini hafidzahullah 20 perkara yang merupakan bentuk pengagungan terhadap ilmu, yakni:
- Membersihkan tempat ilmu, yaitu hati.
- Mengikhlaskan niat karena Allah di dalam menuntutnya.
- Mengumpulkan tekad untuk menuntutnya.
- Memusatkan semangat untuk mempelajari Al-Quran dan Al-Hadist.
- Menempuh jalan yang benar di dalam menuntut ilmu agama.
- Mendahulukan ilmu yang paling penting kemudian yang setelahnya dan setelahnya.
- Bersegera untuk mendapatkan ilmu dan memanfaatkan waktu muda.
- Pelan-pelan di dalam menuntut ilmu.
- Sabar dalam menuntut ilmu dan menyampaikan ilmu. Menghapal membutuhkan kesabaran. Memahami membutuhkan kesabaran. Menghadiri majelis ilmu membutuhkan kesabaran. Demikian pula menjaga hak seorang guru membutuhkan kesabaran. Berkata Yahya Ibnu Abi Katsir, "Tidak didapatkan ilmu dengan badan yag berleha-leha." Demikian pula menyampaikan dan mengajarkan perlu kesabaran. Duduk bersama para penuntut ilmu perlu kesabaran. Memahamkan mereka perlu kesabaran. Menghadapi kesalahan-kesalan mereka juga penuh kesabaran.
- Memperhatikan adab-adab ilmu. Ilmu yang bermanfaat didapatkan diantaranya dengan memperhatikan adab. Adab di sini mencakup adab terhadap diri di dalam pelajaran. Adab terhadap guru, teman, dan lain-lain. Orang yang beradab di dalam ilmu berarti dia mengagungkan ilmu maka dia dipandang sebagai seorang yang berhak untuk mendapatkan ilmu tersebut. Adapun orang yang tidak beradab maka dikhawatirkan ilmu akan sia-sia jika disampaikan kepadanya. Berkata Ibnu Sirin, "Dahulu mereka mempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu." Bahkan sebagaian salaf mendahulukan mempelajari adab sebelum mempelajari ilmu dan banyak diantara penuntut ilmu yang tidak mendapatkan ilmu karena dia menyia-nyiakan adab.
- Menjaga ilmu dari apa yang menjelekkannya. Hendaknya seorang penuntut ilmu menjaga wibawanya karena apabila dia melakukan sesuatu yang merusak wibawanya sebagai seorang penuntut ilmu, berarti dia telah merendahkan ilmu, seperti terlalu banyak menoleh di jalan, berteman akrab dengan orang-orang yang fasik dan lain-lain.
- Memilih teman yang sholeh. Seorang penuntut ilmu perlu teman yang membantu untuk mendapatkan ilmu dan bersungguh-sungguh. Teman yang tidak baik akan memberi pengaruh yang tidak baik. Rasulullah SAW bersabda, "Seseorang berada di atas agama teman akrabnya maka hendaklah salah seorang diantara kalian melihat dengan siapa dia berteman akrab." (Hadist Hasan, HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
- [Bersambung]