Sabtu, 21 Februari 2026

Sedikit Tapi Dipilih

Sedikit Tapi Dipilih
Ust. Naji Mufid Mar'ie
Masjid Al Fatah Jatinegara, 20 Februari 2026 

Perang Badar terjadi tahun 2H pada bulan ramadhan.
Kaum muslimin sekitar 300 orangg sedangkan orang musryikin sekitar 1000 lebih pasukannya tetapi atas izin Allah, Allah memberikan kemenangan di tangan kaum muslimin. 

Dari peristiwa tersebut dapat diambil pelajaran:
1. Pentingnya keimanan yang luar biasa.
Akan merasakan:
a. manisnya keimanan dia yang telah ridho kepada Allah,
b. dia telah ridho terhadap islam sebagai agamanya, 
c. dan mereka pun ridho terhadap nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul. 

"Akan merasakan manisnya iman, orang yang ridho Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai Rasul-Nya." (HR. Muslim)  

2. Semakin dalam keimanan kepada Allah maka akan semakin mudah pula pertolongan dari Allah. 

QS. Al-Baqarah:153, 
"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." 

Ayat ini memerintahkan mukmin menjadikan sabar (menahan diri) dan shalat (penghubung hamba-Allah) sebagai kunci pertolongan dalam menghadapi ujian dunia dan akhirat. 

Kesabaran ada 3 bentuk:
- Sabar dalam menjalankan perintah Allah
- Sabar ketika berhadapan dengan maksiat
- Sabar terhadap yang tidak ia sukai
Tiga jenis ini ada di ibadah puasa. 

3. Semakin dalam keimanan seorang hamba maka ia smakin ringan melaksanakan perintah agama. 

Jihad yang paling afdol adalah menyelisihi yang namanya hawa nafsu. 

4. Pentingnya kita berdoa 

QS. Al-Baqarah:186, 

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ  

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”  

Orang yang paling lemah adalah orang yang lemah dalam berdoa ketika berdoa kepada Allah padahal Allah Maha Mengabulkan. 

5. Sedikit bukan semata-mata lemah 

Yang menentukan kualitas bukan kuantitas. Ketika kita hidup di suatu jaman ketika orang-orang fokus yang memperbanyak amal ibadah jangan lupa kita harus sibuk memperbaiki amal ibadah kita. Yang terpenting amal ibadah wajib setelah itu baru sunnah. 

Jika kita ingin istiqomah dengan amal ibadah maka lakukanlah dengan yang jumlahnya sedikit terlebih dahulu. Ini adalah cara yg tepat. 

HR. Bukhari dan Muslim, "Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dikerjakan secara rutin walaupun sedikit".  

6. Ramadhan bukan bulan untuk bermalas-malasan. 

7. Semakin berat suatu amalan maka semakin besar juga ganjarannya suatu amalan.

Jumat, 06 Februari 2026

Fiqih Manasik Haji 2 : 50 - Doa Dan Dzikir Di Arafah Dan Tempat-Tempat Yang Lain

Jumat, 6 Februari 2026

Doa dan dzikir di Arafah dan tempat-tempat yang lain: 

1. Ada beberapa tempat yang mustajab untuk berdo’a disana diantaranya: 

– Ketika di atas Shafa dalam keadaan Sai,
– Di atas Marwa dalam keadaan Sai,
– Ketika Wukuf di Arafah,
– Ketika di Musdalifah setelah shalat subuh sampai menjelang matahari terbit
– Setelah melempar Jumroh Shughro
– Dan juga setelah melempar Jumroh Wustho. 

2. Seorang yang melakukan ibadah haji melakukan doa sesuai dengan kemampuan, namun seseorang berusaha mengambil doa yang telah datang di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, karena apa yang ada di dalamnya termasuk Jawami’ul Kalim (yaitu ucapan yang sedikit lafadznya dan dalam maknanya). Juga karena yang datang di dalam Al-Quran dan As-Sunnah lebih selamat dari kesalahan. 

3. Boleh seseorang berdoa dengan doa yang ada di dalam Al-Quran di dalam sujudnya dan sebelum salam, karena keumuman. 

Hadits Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, 

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ 

“Keadaan yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika dia sujud maka hendaklah kalian memperbanyak doa.” (HR. Muslim) 

Dan di dalam sebuah hadits ketika Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam menyebutkan sifat tasyahud, Beliau berkata di akhirnya, “Kemudian hendaklah dia memilih diantara doa-doa yang paling dia cintai kemudian berdoa dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) 

Adapun sabda Nabi Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, “Ketahuilah sesunggguhnya aku dilarang untuk membaca Al-Qur’an ketika dalam keadaan rukuk atau sujud.” (HR. Muslim) 

Maka makna hadits ini maka larangan membaca Al-Quran di dalam rukuk/sujud yang ada di dalam hadits ini adalah bagi orang yang membaca doa tersebut di dalam sujudnya dengan niat membaca Al-Quran. Adapun yang niatnya adalah membaca doa maka hal ini tidak masalah. 

Guru kami Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al Abad al Badr hafidzahullah telah menyebutkan di dalam kitab beliau Tabshiirun Naasik bi Ahkamil Manaasik ‘ala Dhau-i al Kitaabi wa Sunnah wal Ma’tsuuri ‘ani Shahaabah, beberapa doa dan dzikir dari Al-Quran dan As-Sunnah yang bisa digunakan untuk berdoa di Arafah dan selain Arafah, Beliau mengumpulkan 74 dzikir dan doa. 

Akhirnya semoga Allah memudahkan ibadah haji kaum muslimin, dan menjadikan haji mereka haji yang mabrur, dan mengampuni dosa-dosa kita dan dosa mereka. 

Selesai

Silsillah Ilmiyyah 6 : 25 - Buah Dan Manfaat Beriman Kepada Malaikat

Jumat, 6 Februari 2026

Diantara buah beriman dan manfaat beriman dengan malaikat-malaikat Allah di dunia dan di akhirat: 

⑴ Beriman kepada malaikat adalah bagian dari mewujudkan keimanan yang tersebut keutamaan-keutamaannya di dalam Al-Quran dan Hadits. 

Diantaranya adalah:
• Mendapatkan hidayah di dunia.
• Mendapatkan keamanan di akhirat.
• Masuk ke dalam surga.
• Dan lain-lain 

⑵ Semakin mengagungkan Allah. 

Karena seseorang ketika mendengar tentang sangat besarnya seorang malaikat, dia menyadari bahwa Allah yang menciptakan malaikat tersebut, lebih besar. Dan seseorang apabila dia mendengar bahwa Allah memiliki hamba-hamba yang sangat banyak, pasukan-pasukan, yang tidak mengetahui jumlahnya kecuali Allah maka dia menyadari bahwa Allah: Dialah Raja Yang Haq, Yang Berkuasa, Yang Maha Tinggi, Yang Maha Besar, Yang Mengatur seluruh perkara. Maka keyakinan ini membawa dia untuk hanya menyembah kepada Allah dan meninggalkan penyembahan kepada selain Allah. 

⑶ Menjadikan seseorang tawadhu’ dan jauh dari sifat sombong di dalam ibadahnya. 

Karena dia mengetahui bahwa di sana ada para malaikat yang jauh lebih banyak ibadahnya kepada Allāh dan mereka tidak memaksiati Allah. 

⑷ Mengetahui rahasia-rahasia alam yang sangat teratur dan kejadian-kejadian yang ada di dalamnya. 

Dan bahwasanya di sana ada malaikat-malaikat yang Allah tugaskan dengan amalan-amalan yang berkaitan dengan alam semesta dan manusia. 

⑸ Mencintai amal shalih. 

Karena di sana ada malaikat yang menulis amal kebaikan dan di sana ada malaikat-malaikat yang mendo’akan dengan kebaikan bagi orang yang melakukan beberapa jenis amal shalih. 

⑹ Membenci kemaksiatan dan menjauhinya. 

Karena di sana ada malaikat-malaikat yang mencatat ucapan dan perbuatannya dan di sana ada malaikat-malaikat yang mendo’akan dengan kejelekan dan laknat bagi orang yang melakukan beberapa jenis kemaksiatan. 

⑺ Meniru dan meneladani para malaikat di dalam beribadah, keta’atan dan rasa takut mereka kepada Allah. 

⑻ Bersyukur kepada Allah atas kenikmatan yang besar ini. 

Di mana Allah menugaskan kepada malaikat untuk melakukan beberapa amalan yang berkaitan dengan alam semesta dan manusia. 

Selesai

Kamis, 05 Februari 2026

Fiqih Manasik Haji 2 : 49 - Masalah Penyembelih Hadyu Tamattu, Melempar 3 Jumroh, Sholat Jumat Dan Sholat Hari Raya Bagi Para Jamaah Haji

Kamis, 5 Februari 2026

Masalah Penyembelih Hadyu Tamattu, Melempar 3 Jumroh, Sholat Jumat Dan Sholat Hari Raya Bagi Para Jamaah Haji.

Bolehkah Menyembelih Hadyu Tammatu sebelum tanggal 10?
Bolehkah Melempar 3 Jumroh sebelum tergelincir matahari pada tanggal 11, 12 dan 13? 
Dan hukum sholat Jumat dan sholat hari raya bagi para jama’ah haji?

1. Hukum menyembelih Hadyu Tammattu sebelum tanggal 10. 

Para ulama berselisih pendapat tentang ini dan mayoritas Ulama Hanafiyah, Malikiyah, Hanabilah mereka mengatakan tidak boleh menyembelih hadyu tammatu sebelum datangnya subuh tanggal 10 Dzulhijjah. 

Adapun ulama Syafi’iah maka mereka berbeda pendapat tentang menyembelih setelah selesai umroh sebelum melakukan ihrom Haji, dan yang shahih di dalam madzhab Syafi’i adalah boleh. 

Pendapat yang lebih kuat wallahu ta’ala a’lam adalah pendapat mayoritas ulama karena beberapa alasan: 

– Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam tidak menyembelih hadyu beliau sebelum tanggal 10, dan beliau telah memerintahkan kita untuk mengikuti beliau didalam manasik haji.
– Para khulafa ur-Rasyidin tidak menyembelih hadyu mereka sebelum tanggal 10 dan Nabi telah memerintahkan kita untuk berpegang teguh dengan sunnah beliau dan sunnah para Khulafa ur-Rasyidin.
– Qiyas kepada hewan kurban yang tidak boleh disembelih sebelum tanggal 10. 

2. Hukum melempar 3 jumroh sebelum tergelincir matahari pada tanggal 11, 12 dan 13. 

Telah berlalu dalil-dalil bahwa melempar jumroh pada hari-hari tasyrik adalah setelah tergelincirnya matahari atau datangnya waktu dzuhur, dan ini adalah pendapat 4 Imam: Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i dan juga Ahmad Ibnu Hambal. 

Berkata al-Imam al-Mawardi dan beliau adalah termasuk ulama di dalam madzhab Asy-Syafi’i, meninggal pada tahun 450H, “Dan waktu melempar pada 3 hari ini adalah setelah tergelincirnya matahari. Apabila ia melempar sebelumnya maka tidak mencukupi.” (Kitab al-Hawwi al-Kabir jilid ke-4 halaman 194) 

Dan berkata al-Imam an-Nawawi seorang ulama besar dalam madzhab Syafi’I yang meninggal pada tahun 676H, “Dan tidak boleh melempar pada 3 hari ini kecuali setelah tergelincirnya matahari.” (Kitab al Majmu Syarhul Muhadzhab jilid ke-8 halaman 235). 

3. Hukum shalat Jumat dan shalat Hari Raya pada Jamaah Haji. 

Jama’ah Haji tidak diwajibkan shalat Jumat dan shalat hari raya Idul Adha. Namun barangsiapa diantara mereka yang sholat bersama kaum muslimin yang disyariatkan melakukan shalat Jumat dan shalat hari raya seperti penduduk Mekkah, maka shalat Jumat dan shalat hari raya mereka lakukan adalah SAH. 

Bersambung

Silsillah Ilmiyyah 6 : 24 - Beberapa Penyimpangan Dalam Hal Iman Dengan Malaikat-Malaikat Allah Dan Penjelasan Tentang Beberapa Hak Malaikat

Kamis, 5 Februari 2026

PENYIMPANGAN DALAM HAL BERIMAN DENGAN MALAIKAT-MALAIKAT ALLAH. 

Diantara penyimpangan dalam hal iman dengan malaikat-malaikat Allah adalah: 

⑴ Mengingkari keberadaan malaikat.
⑵ Mengingkari sebagian malaikat dan amalannya.
⑶ Menyamakan antara jin dan malaikat.
⑷ Menyembah para malaikat.

Di dalam Al-Quran, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلائِكَةِ أَهَؤُلاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ (٤٠) قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ (٤١) 

“Dan hari dimana Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berkata kepada para malaikat, "Apakah mereka dahulu menyembah kalian?" Para malaikat berkata, "Maha Suci Engkau, Engkaulah wali kami selain mereka, akan tetapi mereka dahulu menyembah jin, sebagian mereka beriman dengan jin-jin tersebut.” (QS. Saba:40-41) 

⑸ Memusuhi mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ 

“Barangsiapa yang memusuhi Allah, malaikat-malaikatNya, rasul-rasulNya, Jibril & Mikail maka sesungguhnya Allāh musuh bagi orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah:98) 

⑹ Meyakini bahwa malaikat berjenis kelamin wanita dan bahwasanya malaikat adalah anak wanita Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

فَاسْتَفْتِهِمْ أَلِرَبِّكَ الْبَنَاتُ وَلَهُمُ الْبَنُونَ (١٤٩) أَمْ خَلَقْنَا الْمَلَائِكَةَ إِنَاثاً وَهُمْ شَاهِدُونَ (١٥٠) 

“Maka tanyakanlah kepada mereka, "Apakah anak-anak wanita itu untuk Tuhanmu sedangkan untuk mereka anak-anak laki-laki? Ataukah Kami menciptakan malaikat-malaikat dengan jenis kelamin wanita sedangkan mereka menyaksikan?” (QS. Ash-Shaffat:149-150) 

HAK MALAIKAT ATAS KITA 

Adapun hak malaikat atas kita yang harus kita lakukan, maka diantaranya adalah: 

⑴ Mewujudkan beriman dengan 4 point yang sudah kita sampaikan.
⑵ Mencintai mereka dan menghormati mereka karena Allah karena mereka adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan dan tidak memaksiati Allah.
⑶ Tidak mengejek dan menghina mereka atau menjadikan mereka sebagai bahan bercanda karena hal ini bisa mengeluarkan seseorang dari Islam.
⑷ Menghindari apa yang dibenci oleh malaikat, seperti gambar dan patung makhluk yang bernyawa dan memelihara anjing di rumah. 

Di dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, 

لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةُ 

“Malaikat tidak memasuki sebuah rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar.” (HR. Bukhari & Muslim)

Dan diantara yang dibenci malaikat adalah memakan makanan yang membuat bau mulut tidak sedap seperti bawang merah dan bawang putih dalam keadaan mentah. 

Dalam sebuah hadits dari Jabir radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata, 

نهى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عن أكل البصل والكراث، فغلبتنا الحاجة فأكلنا منها، فقال: من أكل من هذه الشجرة المنتنة فلا يقربن مسجدنا، فإن الملائكة تتأذى مما يتأذى منه الإنس 

“Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam melarang dari memakan bawang merah dan kurrats (bawang bakung). Maka suatu saat kami sangat butuh dan kamipun makan darinya. Kemudian Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, "Barangsiapa yang memakan dari tanaman yang berbau ini maka janganlah dia mendekati masjid kami karena sesungguhnya malaikat merasa terganggu dengan apa yang merasa terganggu dengannya manusia.” (HR Bukhari dan Muslim)

Demikian pula dihindari meludah ke kanan ketika shalat maupun di luar shalat.

Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

إذا قام أحدكم إلى الصلاة، فلا يبصق أمامه، فإنما يناجي الله ما دام في مصلاه، ولاعن يمينه؛ فإن عن يمينه ملكاً، وليبصق عن يساره، أو تحت قدمه فيدفنها 

“Apabila salah seorang diantara kalian berdiri untuk shalat maka janganlah meludah ke depan karena sesungguhnya dia sedang menghadap Allah selama masih di tempat shalatnya dan jangan pula meludah ke kanan karena di sebelah kanan ada malaikat dan hendaknya meludah ke kiri atau meludah ke bawah kakinya kemudian memendamnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) 

Maksud dari meludah ke kiri atau ke bawah kakinya di sini adalah adalah apabila di luar masjid. Dan maksud memendamnya adalah apabila lantai masjid berupa tanah. 

Bersambung

Rabu, 04 Februari 2026

Fiqih Manasik Haji 2 : 48 - Beberapa Hukum Yang Berkaitan Dengan Safar Dan Miqot Jeddah

Rabu, 4 Februari 2026

Beberapa hukum berkaitan dengan safar dan miqot Jeddah: 

1. Hendaklah seseorang yang melakukan Ibadah Haji memperhatikan adab-adab safar dan mempelajari hukum-hukum yang berkaitan dengan safar seperti doa-doa yang dibaca ketika akan safar, naik kendaraan, memasuki daerah baru, dan beberapa hukum yang berkaitan dengan Jamak Qoshor dan lain-lain. 

2. Pendapat mayoritas ulama bahwa Musafir yang singgah di sebuah tempat lebih dari 4 hari atau lebih dari 20x shalat fardhu dan mengetahui jadwal meninggalkan daerah tersebut maka dia mengambil hukum orang yang Mukim, ia tetap menyempurnakan shalatnya dan tidak menqoshor, melakukan puasa Ramadhan, mengerjakan shalat pada waktunya dan tidak menjamak kecuali ada keperluan, melaksanakan shalat rawatib dan lain-lain, seperti orang yang singgah di Mekah dan Madinah selama lebih dari 4 hari dan ia mengetahui kapan meninggalkan kota Mekah dan kota Madinah. 

3. Pendapat yang lebih shahih dari dua pendapat yang ada, apabila seorang Musafir shalat Jumat maka tidak boleh menjamaknya dengan shalat Ashar, karena terdapat perbedaan yang banyak antara shalat dzuhur dengan shalat Jumat seperti shalat dzuhur sirriyyah (bacaan dilirihkan) dan shalat Jumat dijaharkan, shalat dzuhur 4 rakaat sedangkan shalat Jumat 2 rakaat, shalat Jumat didahului dengan 2 khotbah sedangkan shalat Dzuhur tidak ada khotbahnya. 

4. Tentang Miqot Jeddah, apakah Jeddah adalah Miqot bagi orang yang melakukan ihrom Umroh dan Haji? Kita katakan, kota Mekkah dikelilingi oleh Miqot-miqot. Tidak ada orang yang ke Mekkah kecuali akan melewati Miqot-miqot tersebut atau tempat yang sejajar dengan miqot-miqot tersebut, dan Jeddah posisinya dibawah Miqot, maksudnya antara kota Mekah dan Miqot atau yang sejajar dengannya, sehingga orang yang turun di Jedah berarti dia pasti melewati Miqot atau yang sejajar dengannya. 

Mungkin dia melewati Yalamlam (miqot penduduk Yaman) atau yang sejajar dengannya, atau dia melewati al-Juhfah (miqot penduduk Syam) atau yang sejajar dengannya, sebelum dia turun ke Jedah. 

Sehingga orang yang demikian harus berihrom atau niat dari Miqot tersebut dan dia di atas pesawat. 

Jika tidak berarti dia telah melewati Miqot tanpa ihrom, dan orang yang melewati Miqot tanpa ihrom berarti dia meninggalkan kewajiban dan diharuskan membayar dam, menyembelih seekor kambing di tanah haram kota Mekkah, dibagikan dagingnya untuk fakir miskin di kota Mekkah dan tidak boleh sedikitpun dia mengambil dari dagingnya. 

5. Jeddah adalah miqot bagi penduduknya dan orang yang mampir ke Jeddah kemudian baru timbul niat haji dan umrohnya di Jeddah. 

Bersambung

Silsillah Ilmiyyah 6 : 23 - Beriman Dengan Amalan-Amalan Malaikat Bagian 12 Dari 12

Rabu, 4 Februari 2026

⑺ MENGHADIRI MAJLIS DZIKIR & MAJLIS ‘ILMU 

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, 

.مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ 

“Dan tidaklah berkumpul sebuah kaum di rumah di antara rumah-rumah Allah, mereka membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka kecuali akan turun atas mereka, ketenangan, akan menyelimuti mereka rahmat, menaungi mereka malaikat-malaikat, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat yang ada di sisiNya.” (HR. Muslim) 

⑻ MENCATAT ORANG-ORANG YANG HADIR SHALAT JUM’AT 

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, 

إذا كان يوم الجمعة وقفت الملائكة على باب المسجد يكتبون الأول فالأول ومثل المهجر كمثل الذي يهدي بدنة ثم كالذي يهدي بقرة ثم كبشا ثم دجاجة ثم بيضة فإذا خرج الإمام طووا صحفهم ويستمعون الذكر 

“Apabila datang hari Jum’at berdiri para malaikat di pintu masjid menulis siapa yang pertama datang dan yang selanjutnya. 
Dan permisalan orang yang berpagi-pagi datang seperti orang hadyu berupa unta.
Kemudian yang selanjutnya seperti orang yang menyembelih hadyu berupa sapi.
Kemudian yang selanjutnya seperti orang yang menyembelih hadyu berupa kambing.
Kemudian yang selanjutnya seperti orang yang menyembelih hadyu berupa ayam.
Kemudian yang selanjutnya orang yang membayar hadyu berupa telur. 
Kemudian apabila keluar imam malaikat-malaikat tersebut melipat lembaran-lembaran catatan dan mendengarkan dzikir.” (HR. Bukhari) 

Yang dimaksud dengan hadyu adalah sesuatu yang dikirim ke tanah haram (kota Mekkah) dalam rangka beribadah kepada Allah. Ada di antaranya yang hukumnya wajib dan ada di antaranya yang hukumnya sunnah. 

⑼ MENCABUT NYAWA MANUSIA

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ 

“Katakanlah, akan mewafatkan kalian malaikat maut yang telah ditugaskan kepada kalian kemudian kalian akan dikembalikan kepada Rabb kalian.” (QS. As-Sajdah:11) 

Di dalam hadits Bara Ibnu ‘Adzib yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Dawud, Nasai dan haditsnya shahih, malaikat maut akan dibantu oleh malaikat-malaikat yang lain. Setelah malaikat maut mengeluarkan nyawa dari badan maka langsung diterima oleh malaikat-malaikat lain yang bertugas membawanya ke atas.

Ada di antara manusia tersebut yang baik dan shalih dan dibawa oleh malaikat-malaikat rahmat. Dan ada manusia yang menzhalimi dirinya sendiri maka dibawa oleh malaikat-malaikat adzab. 

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلآئِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ 

“Orang-orang yang diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan menzhalimi diri mereka sendiri.” (QS. An-Nahl:28) 

Dan Allah berfirman, 

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ ۙ 

“Orang-orang yang diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan mereka baik.” (QS. An-Nahl:32) 

⑽ MENANYAI MANUSIA DI ALAM KUBUR, MEMBERI NIKMAT KUBUR DAN ADZAB KUBUR 

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Seorang hamba apabila diletakkan di kuburnya ditinggalkan dan pergi para sahabatnya, sampai-sampai dia mendengar suara sandal mereka. Maka datanglah 2 malaikat dan mendudukkannya kemudian berkata, "Apa yang kalian katakan tentang laki-laki ini (Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam)?" Dia berkata, "Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan RasulNya." Maka dikatakan kepadanya, "Lihat tempatmu di neraka, sungguh Allah telah menggantikannya untukmu sebuah tempat di surga." Berkata Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, "Maka orang tersebut melihat ke-2 tempat semuanya." Dan adapun orang yang kafir atau munafiq maka dia berkata, "Aku tidak tahu, aku dahulu mengatakan apa yang dikatakan manusia." Maka dikatakan kepadanya, "Kamu tidak tahu dan tidak mengikuti." Kemudian dipukul dengan palu dari besi dengan sebuah pukulan di antara 2 telinganya maka dia berteriak dengan sebuah teriakan yang di dengar oleh apa yang ada di sekitarnya kecuali jin dan manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim) 

⑾ BERPERANG BERSAMA ORANG-ORANG YANG BERIMAN 

Allah menceritakan pertolonganNya kepada orang-orang yang beriman pada saat Perang Badr di dalam firmanNya, 

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُم بِأَلْفٍ مِّنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ 

“Ingatlah ketika kalian meminta pertolongan kepada Rabb kalian maka Allah mengabulkan do’a kalian. Sesungguhnya Aku mengirimkan kepada kalian 1000 malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. Al-Anfal:9) 

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam sendiri melihat Jibril saat itu dan bersabda, 

هَذَا جِبْرِيلُ آخِذٌ بِرَأْسِ فَرَسِهِ عَلَيْهِ أَدَاةُ الْحَرْبِ 

“Ini adalah Jibril memegang kepala kudanya memakai alat-alat perang.” (HR. Bukhari) 

Itulah sebagian amalan malaikat yang bisa kita sebutkan. Kewajiban kita adalah beriman dengan apa yang datang dari Allah dan RasulNya. 

Dengan demikian kita sudah menyelesaikan 4 point cara beriman dengan malaikat yang telah kita sebutkan di halaqah yang pertama. 

Bersambung

Selasa, 03 Februari 2026

Fiqih Manasik Haji 2 : 47 - Ziarah Masjid Nabawi

Selasa, 3 Februari 2026

Ziarah Masjid Nabawi atau Masjid Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam: 

1. Disunnahkan bagi seorang Muslim ziarah ke Masjid Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, “Tidak boleh berpayah-payah bepergian ke sebuah tempat kecuali ke-3 masjid, Masjidil Haram, Masjid Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam dan Masjidil Aqsa.” (HR. Bukhari dan Muslim) 

Demikian juga hadits Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam, “Shalat sekali di masjidku ini lebih baik 1000x daripada shalat yang dilakukan di selainnya, kecuali Masjidil Haram.” (HR. Bukhari dan Muslim) 

2. Setelah seseorang melakukan shalat di masjid Rasulullah maka dia melakukan yang disyariatkan untuk diziarahi di Kota Madinah yaitu, Masjid Kuba, Kuburan Nabi Shalallahu Dan 2 orang Sahabatnya (Abu Bakar dan Umar radiyallahu anha) kemudian Kuburan Baqi’ dan Kuburan Syuhada Uhud. 

3.Di kota Madinah tidak ada Masjid yang memiliki keutamaan khusus selain Masjid Nabawi dan Masjid Qubaa. 

4. Ketika berziarah kubur maka hendaknya melakukan ziarah yang disyariatkan, yaitu ziarah yang dilakukan dengan tujuan untuk mengingat kematian dan mendoakan kebaikan bagi orang yang dikuburkan. Nabi bersabda, “Hendaklah kalian berziarah kubur karena ziarah kubur mengingatkan kalian kepada kematian.” (HR. Muslim) 

Dan dahulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam berziarah ke kuburan Baqi’ dan mendoakan penghuninya. 

Dan diantara doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ketika berziarah kubur adalah, 

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ لَلاَحِقُوْنَ نَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ 

"Semoga keselamatan atas kalian wahai penduduk negeri dari kalangan orang yang beriman dan orang yang Islam, dan sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian. Aku memohon kepada Allah untuk kami dan juga untuk kalian al a’afiyah/keselamatan.” (HR. Muslim) 

5. Hendaknya waspada dari cara berziarah yang tidak disyariatkan seperti berziarah kubur dengan tujuan berdoa dan meminta kepada penghuninya. Karena doa adalah ibadah dan berdoa kepada selain Allah adalah syirik. 

6. Seseorang yang Haji dan Umroh tidak harus melakukan ziarah ke Masjid Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, dan orang yang berziarah ke masjid Nabawi juga tidak harus melakukan Haji dan Umroh. Masing-masing adalah ibadah yang bisa berdiri sendiri. 

Bersambung

Silsillah Ilmiyyah 6 : 22 - Beriman Dengan Amalan-Amalan Malaikat Bagian 11 Dari 12

Selasa, 3 Februari 2026

⑶ MENGATUR RAHIM 

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, 

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ وَكَّلَ بِالرَّحِمِ مَلَكًا ، يَقُولُ : يَاْ رَبِّ نُطْفَةٌ، يَا رَبِّ عَلَقَةٌ، يَا رَبِّ مُضْغَةٌ، فَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَقْضِيَ خَلْقه، قَالَ : أَذَكَرٌ أَمْ أُنْثَى ؟ شَقِيٌّ أَمْ سَعِيدٌ ؟ فَمَا الرِّزْقُ وَ الْأَجَلُ ؟ فَيُكْتَبُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ 

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menugaskan seorang malaikat untuk rahim. Malaikat berkata, "Wahai Rabbku, setetes air mani. Wahai Rabbku, segumpal darah. Wahai Rabbku, segumpal daging." Maka apabila Allah berkehendak untuk menyempurnakan penciptaanNya, malaikat berkata, "Ya Allah, apakah laki-laki atau wanita? Celaka atau bahagia? Kemudian, apa rezeki dan apa ajalnya?" Maka ditulislah semua itu ketika seseorang di perut ibunya.” (HR. Bukhari dan Muslim) 

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam juga bersabda, 

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ في بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ في ذلك عَلَقَةً مِثْلَ ذلك ثُمَّ يَكُونُ في ذلك مُضْغَةً مِثْلَ ذلك ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فيه الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أو سَعِيدٌ 

“Sesungguhnya salah seorang diantara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya 40 hari. Kemudian berupa segumpal darah di dalamnya selama yang semisalnya (yaitu 40 hari). Kemudian menjadi segumpal daging di dalamnya selama yang semisalnya. Kemudian diutus seorang malaikat maka dia meniup ruh di dalamnya dan diperintah menulis 4 kalimat: ¹rizqinya, ²ajalnya, ³amalnya dan dia ⁴bahagia atau celaka.” (HR. Bukhari dan Muslim) 

⑷ MENJAGA MANUSIA DARI MARABAHAYA 

Allāh berfirman, 

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لا يُفَرِّطُونَ 

“Dan Dialah Dzat yang berkuasa di atas para hambaNya dan mengutus atas kalian para malaikat penjaga sehingga apabila kematian datang kepada salah seorang diantara kalian maka utusan-utusan Kami yang akan mewafatkannya dan mereka tidak akan menyia-nyiakan perintah Allah.” (QS. Al-An’am:61) 

Para malaikat itu menjaga manusia dari marabahaya, dari depan dan belakangnya. Dan apabila datang taqdir Allah maka mereka membiarkannya. 

Allah berfirman, 

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ 

“Setiap manusia memiliki malaikat-malaikat yang bergantian yang berada di depan dan belakangnya, yang bertugas menjaganya dengan perintah dari Allah.” (QS. Ar-Ra’d:11) 

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa malaikat yang mengikuti setiap manusia ada 4:
• 2 malaikat sebagai pencatat amal kanan dan di kiri.
• 2 malaikat sebagai penjaga dari bahaya di depan dan di belakang. 

Mereka ini bergantian dengan 4 malaikat yang lain setiap malam dan siang. 

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, 

يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلائِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلائِكَةٌ بِالنَّهَارِ , وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلاةِ الْفَجْرِ وَصَلاةِ الْعَصْرِ ، ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ : كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ , وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ 

“Bersama kalian ada malaikat-malaikat yang bergantian, beberapa malaikat di malam hari dan beberapa malaikat di siang hari. Dan mereka berkumpul ketika shalat Shubuh dan shalat ‘Ashar. Kemudian naiklah malaikat yang bermalam bersama kalian, maka Allah bertanya kepada mereka sedang Allah lebih tahu tentang mereka. "Bagaimana keadaan hamba-hambaKu ketika kalian meninggalkan mereka?" Maka mereka berkata, “Kami meninggalkan mereka sedangkan mereka dalam keadaan shalat dan kami mendatangi mereka sedangkan mereka dalam keadaan shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim) 

⑸ MENDORONG MANUSIA UNTUK BERBUAT BAIK 

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, 

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلا وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنَ الْجِنِّ وَقَرِينُهُ مِنَ الْمَلائِكَةِ. قَالُوا : وَإِيَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : ” وَإِيَّايَ ، إِلاَّ أَنَّ اللَّهَ أَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ ، فَلا يَأْمُرُنِي إِلا بِخَيْرٍ 

“Tidaklah ada diantara kalian seorangpun kecuali diberikan kepadanya qarin dari kalangan jin dan qarin dari malaikat. Para shahabat berkata, "Demikian pula engkau, wahai Rasulullah?" Beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam berkata, "Demikian pula aku, akan tetapi Allah telah menolongku kemudian jin itu masuk Islam maka dia tidak memerintahkanku kecuali kebaikan.” (HR. Muslim) 

⑹ MENYAMPAIKAN KEPADA RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAYHI WA SALLAM SALAM UMATNYA 

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam manusia, 

إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً سَيَّاحِينَ فِي الأَرْضِ يُبَلِّغُوْنَ مِنْ أُمَّتِيْ السَّلاَمَ 

“Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang senantiasa berjalan-jalan di permukaan bumi, menyampaikan salam untukku dari umatku.” (Hadits shahih riwayat Nasai) 

Bersambung

Senin, 02 Februari 2026

Fiqih Manasik Haji 2 : 46 - Beberapa Perkara Dan Hukum Berkaitan Dengan Amalan Tawaf Wada

Senin, 2 Februari 2026

Beberapa perkara dan hukum berkaitan dengan amalan thawaf Wada; 

1. Thawaf Wada adalah Thawaf yang dilakukan oleh Jamaah Haji ketika akan meninggalkan Mekkah setelah menyelesaikan hajinya. 

2. Hukumnya adalah wajib, dan tidak diberikah rukshoh/keringanan untuk meninggalkannya kecuali wanita yang haid dan nifas. 

3. Dianjurkan bagi orang yang umroh melakukan Thawaf Wada sebelum meninggalkan kota Mekkah dan tidak wajib menurut mayoritas Ulama. 

4. Barangsiapa yang Thawaf Wada sebelum melempar jumroh pada tanggal 12 maka Thawafnya tidak sah. Harus diulang thawafnya dan kalau tidak maka dia harus membayar dam. 

5. Orang yang diwakili dalam melempar jumroh pada tanggal 12 tidak boleh dia thawaf Wada kecuali jika yang mewakili sudah melempar Jumroh untuknya. 

6. Apabila jamaah haji mengakhirkan Thawaf Ifadhah ketika akan meninggalkan Mekkah kemudian safar setelahnya, maka itu sudah mencukupi dari Thawaf Wada, yaitu tidak perlu lagi melakukan thawaf Wada meskipun setelah thawaf Ifadhah dia melakukan Sa’i haji. 

7. Bila selesai Thawaf Wada maka dia berjalan kedepan seperti berjalan biasa, tanpa berjalan mundur kebelakang seperti yang dilakukan oleh sebagian. 

8. Setelah Thawaf Wada maka seseorang tidak tinggal di Mekkah kecuali karena keperluan mendadak, seperti karena sudah adzan/iqomah atau keperluan yang berkaitan dengan safar seperti membeli bekal safar, oleh-oleh, atau menunggu teman yang belum datang. 

Bersambung

Silsillah Ilmiyyah 6 : 21 - Beriman Dengan Amalan-Amalan Malaikat Bagian 10 Dari 12

Senin, 2 Februari 2026

Diantara amalan malaikat yang kita diperintahkan untuk beriman dengannya adalah amalan mereka yang berkaitan dengan manusia: 

⑴ Mulai dari awal penciptaan manusia di dalam perut ibunya,
⑵ Penulisan taqdir,
⑶ Penulisan ucapan & perbuatan dia selama di dunia,
⑷ Pencabutan ruh,
⑸ Dan seterusnya. 

Diantara amalan malaikat dam tugas mereka yang berkaitan dengan manusia: 

⑴ PERANTARA ANTARA ALLAH & ANTARA HAMBA-HAMBANYA DARI KALANGAN MANUSIA 

Diantara malaikat ada yang Allah berikan tugas menyampaikan wahyu kepada para Nabi dan Rasul. 

Ada diantara wahyu yang langsung diberikan oleh Allah kepada seorang Nabi dan ada diantaranya yang melalui malaikat. 

Allah berfirman, 

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِن وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ 

“Dan tidaklah Allah berbicara kepada manusia kecuali wahyu yang diwahyukan secara langsung atau berbicara kepadanya dari balik hijab atau Allah mengutus seorang malaikat utusan kemudian malaikat tersebut mewahyukan dengan izin Allah apa yang Allah kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” (QS. Asy-Syura:51) 

Jibril adalah yang paling sering melaksanakan tugas ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ 

“Katakanlah, "Barangsiapa yang menjadi musuh bagi Jibril maka sesungguhnya dia telah menurunkan Al-Quran atas hatimu dengan izin Allah, membenarkan apa yang sebelumnya, petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah:97) 

Dan terkadang selain Jibril juga turun membawa wahyu, sebagaimana ucapan ‘Abdullah Ibnu ‘Abbas, 

بَيْنَمَا جِبْرِيلُ قَاعِدٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم سَمِعَ نَقِيضًا مِنْ فَوْقِهِ، فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: هَذَا بَابٌ مِنْ السَّمَاءِ فُتِحَ الْيَوْمَ لَمْ يُفْتَحْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ، فَنَزَلَ مِنْهُ مَلَكٌ، فَقَالَ: هَذَا مَلَكٌ نَزَلَ إِلَى الْأَرْضِ لَمْ يَنْزِلْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ، فَسَلَّمَ، وَقَالَ: أَبْشِرْ بِنُورَيْنِ أُوتِيتَهُمَا، لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ: فَاتِحَةُ الْكِتَابِ، وَخَوَاتِيمُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ، لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلَّا أُعْطِيتَهُ 

“Ketika Jibril duduk bersama Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam tiba-tiba Jibril mendengar suara dari langit. Kemudian Beliau mengangkat kepalanya seraya berkata, "Ini adalah pintu di langit dibuka hari ini, belum pernah dibuka sebelumnya kecuali hari ini." Maka turunlah dari pintu tersebut seorang malaikat. Kemudian Jibril berkata, "Ini adalah malaikat turun ke bumi, dia belum pernah turun sebelumnya kecuali hari ini." Kemudian malaikat tersebut mengucapkan salam dan berkata kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, "Bergembiralah dengan 2 cahaya yang diberikan kepadamu, belum pernah diberikan kepada seorang Nabipun sebelummu, Fatihatul Kitab (yaitu Al-Fatihah) dan ayat-ayat terakhir surat Al-Baqarah. Tidaklah engkau membaca 1 huruf dari keduanya kecuali engkau akan diberi.” (HR. Muslim) 

⑵ MENULIS AMAL KEBAIKAN DAN KEJELEKAN MANUSIA 

Allah berfirman, 

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ (١٠) كِرَاماً كَاتِبِينَ (١١) 

“Dan sesungguhnya atas kalian ada malaikat penjaga yang mulia lagi menulis.” (QS. Al-Infithar:10-11) 

Jumlahnya ada 2 malaikat, kiri dan kanan untuk setiap manusia. 

Allah berfirman, 

إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (١٧) مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ (١٨) 

“Ketika 2 malaikat menulis di kanan dan di kiri senantiasa bersamanya, tidaklah ada ucapan kecuali ada malaikat yang mengawasi yang ditugaskan untuk itu.” (QS. Qaf:17-18) 

Mereka bertugas mencatat semua amalan manusia. 

Allah berfirman 

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا 

“Dan diletakkanlah kitab catatan maka engkau akan melihat orang-orang yang berbuat maksiat takut dengan apa yang ada di dalamnya dan mereka berkata, "Celaka kami, kitab ini tidak meninggalkan amalan yang kecil maupun yang besar kecuali ditulisnya." Dan mereka mendapatkan apa yang mereka amalkan hadir di depannya dan Rabbmu tidak menzhalimi seorangpun.” (QS. Al-Kahfi:49) 

Sampai niat dan kehendak yang ada di dalam hatipun, mereka tulis. 

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, 

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِذَا هَمَّ عَبْدِي بِسَيِّئَةٍ ، فَلَا تَكْتُبُوهَا عَلَيْهِ ، فَإِنْ عَمِلَهَا ، فَاكْتُبُوهَا سَيِّئَةً ، وَإِذَا هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا ، فَاكْتُبُوهَا حَسَنَةً ، فَإِنْ عَمِلَهَا ، فَاكْتُبُوهَا عَشْرًا 

“Allah ‘Azza wa Jalla berkata, "Apabila hambaKu berkehendak untuk melakukan kejelekan maka janganlah kalian tulis. Kemudian apabila dia melakukan kejelekan tersebut maka tulislah satu kejelekan. Dan apabila dia berkehendak untuk berbuat baik kemudian tidak mengamalkannya maka tulislah satu kebaikan. Kemudian apabila dia mengamalkannya maka tulislah sepuluh kebaikan.” (HR. Muslim) 

Hikmah dari pencatatan ini adalah menunjukkan keadilan Allah dan bahwasanya Allah tidak menzhalimi manusia dalam ketaatan yang dia lakukan dan kemaksiatan yang dia kerjakan. 

Bersambung