Kamis, 30 April 2026

Ziarah Madinah : 24 - Ziarah Pemakaman Baqi (Bagian 4)

Ziarah Pemakaman Baqi (Bagian 04). 

Kuburan para sahabat sudah lama tidak diketahui, diantara sebab hilangnya jejak kuburan mereka: 

1. Kuburan para sahabat tidak ditulis nama, karena Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam melarang menulis di atas kuburan. 

2. kuburan para sahabat tidak dibangun di atasnya, karena Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam melarang membangun di atas kuburan. 

Berkata Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, 

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ 

”Rasulullah Shalallhu Alaihi wassalam melarang mengapur kuburan dan duduk di atasnya dan membangun di atasnya.” (HR. Muslim) 

Dan di dalam HR. At Tirmidzi, 

وأن يكتب عليه 

”Dan menulis di atasnya.” 

3. Kuburan Baqi bukan khusus para sahabat. 

Datang setelah mereka para Tabi’in para Tabi’ut Tabi’in dan kaum muslimin selama 1400 tahun kurang lebih dan kaum muslimin selama lebih dari 1400 tahun sampai hari ini. 

Apabila sebuah pemakaman di dalamnya ada ribuan orang dengan bentuk kuburan yang sama tanpa ada nama, tanpa ada bangunan dan sudah campur antara sahabat dengan selain sahabat maka dengan mudah sekali kuburan para sahabat tidak diketahui dan hilang jejaknya. Dan inilah yang terjadi di pemakaman Baqi. 

Oleh karena itu berkata Abdul Aziz Ibnu Ahmad Al Kattani yang meninggal pada tahun 1466H, ”Tidak ada dua kota yang bersepakat atas kuburan seorang Nabi dan Sahabat selain kuburan Nabi kita Muhammad Sholallahu alaihi wassalam dan kuburan dua orang sahabatnya, Abu Bakar dan Umar Radiallahu Anhuma." (Tarikh dimashq Jilid yang ke 2 halaman 418) 

Dan berkata Al hamoudi yang meninggal pada tahun 911H, 

”Sesungguhnya yang menjadikan kuburan Fathimah Radiallahu anha dan yang lain dari para Salaf tidak diketahui adalah karena mereka tidak membangun di atas kuburan dan tidak mengapurnya.” (Kitab Wapaul wafa diakdaril musttopa Jilid yang 3 halaman 93) 

Kemudian setelah itu ada sebagian orang yang berusaha untuk mencari kembali kuburan yang sudah tidak diketahui tersebut, membangun bangunan di atas sebagian kuburan dan mengklaim bahwa ini adalah kuburan fulan dan fulannah tanpa dasar yang jelas dan dengan demikian dia telah melakukan 2 kesalahan sekaligus, yaitu: 

a. Mengklaim tanpa dalil
b. Membangun di atas kuburan 

Kemudian setelah itu setiap orang yang datang ke pemakaman Baqi menyangka bahwa kuburan yang dibangun tersebut adalah kuburan yang sudah pasti padahal hakekatnya tidak demikian. Wallahu Ta’ala a'lam. 

Bersambung

Silsillah Ilmiyyah 7 : 19 - Kitab Al-Quran (Bagian 5)

Kitab Al-Qur’an Bagian 5. 

Sebagian nama-nama dan sifat-sifat Al-Qur’an yang telah berlalu menunjukkan tentang kedudukan dan keutamaan Al-Qur’an. 

Oleh karena itu hendaklah seorang Muslim bersyukur kepada Allah yang telah menurunkan Al-Qur’an kepada kita. 

Dan diantara cara bersyukurnya adalah menunaikan hak-hak Al-Qur’an. 

Dan diantara hak-hak Al-Qur’an:
1. Pertama | Membacanya dengan Tartil. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا 

“Dan hendaklah engkau mentartil Al-Qur’an dengan sebenar-benar tartil.” (QS. Al-Muzzammil:4) 

Mentartil artinya:
✓Membaca dengan pelan.
✓Membaca huruf-hurufnya dengan baik dan dengan memperhatikan:
• Tempat-tempat wakaf (berhentinya).
• Panjang pendeknya.
Sebagaimana dahulu Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam membacanya. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, 

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ ‏‏فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ 

“Orang yang mahir membaca Al-Qur’an bersama malaikat-malaikat yang mulia lagi baik. Dan orang yang membaca Al-Qur’an sedangkan dia masih terbata-bata ketika membacanya dan susah baginya maka dia mendapatkan 2 pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim) 

Dua pahala tersebut maksudnya adalah:
• Pahala membaca Al-Qur’an.
• Dan pahala kesulitan yang dia alami. 

Hendaknya seorang muslim dan muslimah:
a. Mempelajari ilmu tajwid dari seorang guru yang mumpuni dengan niat supaya bisa membaca Al-Qur’an tersebut sebagaimana dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. 

b. Mempraktekkannya dengan sering membaca Al-Qur’an sehingga semakin mahir dia di dalam membaca Al-Qur’an. Dan di dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, 

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ 

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari) 

2. Kedua | Menghafalnya
Menghafal seluruh Al-Qur’an bukanlah sebuah fardhu ‘ain bagi seorang muslim, yang wajib adalah menghafal yang dengannya sah shalatnya. 

Namun, tentunya sebuah kemuliaan tersendiri bagi seorang muslim dan muslimah ketika Allah memilih qalbunya diantara sekian banyak qalbu untuk menghafal Al-Qur’an Kalamullah Rabbul ‘alamin, membacanya kapan dia kehendaki. 

Dan semakin banyak dia menghafal tentunya semakin utama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلا الظَّالِمُونَ 

“Bahkan dia adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada-dada orang-orang yang diberi ilmu dan tidak mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-‘Ankabut:49) 

Dan hendaklah seorang yang menghafal Al-Qur’an memuraja’ah (mengulang-ulang terus) apa yang sudah dia hafal. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, 

تَعَاهَدُوْا هَذَا الْقُرْآنَ فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ اْلإِبِلِ فِي عُقُلِهَا 

“Hendaklah kalian mengulang-ulang Al-Qur’an, maka demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya sungguh Al-Qur’an lebih mudah terlepas (yaitu dari qalbu seseorang) daripada terlepasnya unta dari ikatannya.” (HR. Muslim) 

Selain itu, hendaknya orang yang menghafal Al-Qur’an memperdengarkannya di hadapan Syaikh yang mumpuni dan meninggalkan kemaksiatan karena kemaksiatan dengan berbagai bentuknya memperburuk dan mempersulit hafalan Al-Qur’an. 

Bersambung

Rabu, 29 April 2026

Ziarah Madinah : 23 - Ziarah Pemakaman Baqi (Bagian 3)

Ziarah Pemakaman Baqi (Bagian 03). 

DIANTARA KESALAHAN-KESALAHAN KETIKA BERZIARAH 

1. Berdoa kepada orang yang meninggal yang dianggap dia adalah seorang wali Allah dengan meminta hajat dunia atau akhirat atau meminta doanya atau meminta syafaatnya dan lain-lain. 

Berdoa adalah ibadah sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Apabila ibadah maka tidak boleh diserahkan kepada selain Allah. Dan seseorang yang menyerahkan ibadah kepada selain Allah maka dia telah terjatuh ke dalam kesyirikan yang Allah telah mengabarkan bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa syirik. 

2. Berkeyakinan bahwa berdoa di kuburan lebih mustajab. 

Ini adalah keyakinan tanpa dasar yang shahih. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah menyebutkan di dalam hadits-hadits yang shahih, tempat waktu dan keadaan yang dikabulkan doa di dalamnya, namun tidak ada dalil satupun yang shahih bahwa berdoa di kuburan lebih mustajab. 

3. Mengambil tanah atau batu di kuburan dengan tujuan bertabaruk atau mengambil berkah atau dengan tujuan untuk berobat dan lain-lain. 

Ini juga suatu amalan tanpa dalil seorang muslim hendaknya mengambil sebab-sebab yang disyariatkan. 

4. Mengucapkan salam dari luar kuburan tanpa melihat kuburan, karena yang dinamakan ziarah adalah dengan melihat kuburan. 

5. Membaca Al-Quran di kuburan, karena kuburan bukan tempat membaca Al-Quran. 

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, 

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ 

”Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian kuburan.” (Shahih HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah radhiallahu anhu) 

Ucapan beliau Shallallahu Alaihi Wasallam, "Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian kuburan," diantara maknanya adalah janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sepi dari ibadah seperti sholat dan juga membaca Al-Quran, ini menunjukkan bahwasanya kuburan bukanlah tempat untuk melakukan sholat dan membaca Al-Quran. 

Bersambung

Silsillah Ilmiyyah 7 : 18 - Kitab Al-Quran (Bagian 4)

Kitab Al-Quran (Bagian 4). 

Allah ‘Azza wa Jalla juga mensifati Al-Quran dengan beberapa sifat yang memiliki makna yang agung yang juga menunjukkan keutamaannya. Diantara sifat-sifat tersebut: 

1. SIFAT PERTAMA | ‘AZĪZ
Artinya: yang mulia, dimuliakan oleh Allah dengan dijaga dari segala perubahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ 

“Sesungguhnya orang-orang yang ingkar dengan adz-dzikru (yaitu Al-Quran) ketika datang kepada mereka dan sesungguhnya dia adalah kitab yang mulia.” (QS. Fushshilat:41) 

2. SIFAT KEDUA | MAJĪD
Artinya: agung lagi mulia. Maksudnya: agung maknanya dan luas ilmunya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ 

“Bahkan dia adalah Al-Quran yang agung.” (QS. Al-Buruj:21) 

3. SIFAT KETIGA | KARĪMUN
Artinya: mulia lagi banyak manfaatnya, besar kebaikannya dan dalam ilmunya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ 

“Sesungguhnya dia adalah Al-Quran yang mulia.” (QS. Al-Waqi’ah:77) 

4. SIFAT KEEMPAT | MUBĀRAK
Artinya: yang berbarakah (yang banyak manfaatnya dan banyak membawa kebaikan). Kebaikan bagi yang membacanya, yang menghafalnya, yang mendengarnya, yang mentadabburinya, maupun yang mengamalkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

وَهَـذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُّصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ 

“Dan ini adalah kitab yang Kami turunkan berbarakah membenarkan apa yang datang sebelumnya.” (QS. Al-An’am:92) 

5. SIFAT KELIMA | FASHL
Artinya: yang benar dan jelas, memisahkan antara yang haq dan yang bathil. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

إِنَّهُ لَقَوْلٌ فَصْلٌ 

“Sesungguhnya dia (yaitu Al-Quran) adalah ucapan yang memisahkan (yaitu antara yang haq dan yang bathil).” (QS. Ath-Thariq:13) 

6. SIFAT KEENAM | HAKĪM
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

الم (١) تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ (٢) هُدًى وَرَحْمَةً لِّلْمُحْسِنِينَ (٣) 

“Alif Lam Mim. Itu adalah ayat-ayat kitab yang hakīm, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Luqman:1-3) 

Hakīm artinya: Memiliki hikmah dan kebijaksanaan yang mendalam. Ayat-ayatnya muhkam, yaitu kokoh. Dia kokoh karena:
a. Datang dengan lafazh yang paling fasih dan jelas yang mengandung makna yang dalam.
b. Tidak mungkin dirubah.
c. Kabar-kabar yang ada di dalamnya benar sesuai dengan kenyataan.
d. Tidak memerintah kecuali dengan sesuatu yang merupakan kebaikan bagi manusia dan tidaklah melarang kecuali dari sesuatu yang merupakan keburukan bagi manusia.
e. Tidak ada pertentangan di antara ayat-ayatnya. 

7. SIFAT KETUJUH | BERBAHASA ARAB YANG JELAS
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٩٢) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (١٩٣) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ (١٩٤) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ (١٩٥) 

“Dan sesungguhnya Al-Quran diturunkan dari Rabb semesta alam, turun dengannya Ar-Ruhul Amin (yaitu Jibril) atas hatimu supaya engkau termasuk orang-orang yang memberikan peringatan dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syuara:192-195) 

Bersambung

Selasa, 28 April 2026

Ziarah Madinah : 22 - Ziarah Pemakaman Baqi (Bagian 2)

Ziarah Pemakaman Baqi (Bagian 02). 

Tata cara berziarah ke pemakaman Baqi sama dengan berziarah ke kuburan yang lain. Peziarah datang melihat kuburan kemudian mengucapkan salam yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, dan diantara salam yang beliau ajarkan adalah mengucapkan, 

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ 

”Semoga keselamatan atas kalian wahai penduduk negeri dari kalangan orang yang beriman dan orang Islam, Sesungguhnya kami Insya Allah akan menyusul kalian, aku memohon kepada Allah untuk kami dan untuk kalian keselamatan.” (HR. Muslim) 

Apabila sudah mengucapkan secara umum maka tidak perlu seseorang mengkhususkan. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dahulu sering berziarah ke Baqi dan telah datang beberapa lafadz salam dari beliau Shallallahu Alaihi Wasallam namun tidak
ada riwayat satupun bahwa beliau Shallallahu Alaihi Wasallam mengkhususkan salam untuk orang-orang tertentu di pemakaman Baqi, padahal sudah dikuburkan di Baqi saat itu keluarga dekat beliau seperti: 

- Putri beliau Ruqayyah yang meninggal pada tahun 2H,
- Utsman Bin Masud saudara sepersusuan beliau yang meninggal pada tahun 2H,
- Istri beliau Zainab bintu Khuzaimah yang meninggal pada tahun 4H
- Dan lain-lain 

Dan dengan salam yang umum ini justru peziarah mendapat 2 kelebihan : 

1. Lebih mudah dilakukan
2. Lebih banyak pahalanya karena dia telah mendoakan untuk orang banyak 

Selain mendoakan maka seseorang berziarah kubur untuk mengingat kematian,
Karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, 

 نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا 

"Dahulu aku melarang kalian dari ziarah kubur maka berziarahlah kalian karena ziarah mengingatkan kalian kepada kematian." (Shahih HR. Abu Dawud) 

Diharapkan orang yang melihat kuburan akan sadar bahwa dia tidak akan selamanya di dunia. Di sana ada hari pembalasan dan perhitungan maka dia akan mempersiapkan hari itu dengan memperbaiki amal sholeh dan bertaubat kepada Allah dari segala dosa

Apabila kita berziarah dengan ziarah yang dibenarkan maka kita sebagai penziarah akan mendapatkan faedah karena kita mengingat kematian dan mendapatkan pahala mendoakan. Demikian pula orang yang diziarahi akan mendapatkan kaidah karena didoakan dengan ampunan dan kebaikan. 

Bersambung

Silsillah Ilmiyyah 7 : 17 - Kitab Al-Quran (Bagian 3)

Kitab Al-Qur’an Bagian 3. 

Al-Qur’an memiliki nama-nama yang banyak yang menunjukkan keutamaannya, diantaranya: 

1. Pertama yakni Al-Qur’an
Ini adalah nama yang paling banyak di dalam Al-Qur’an dan inilah yang paling masyhur. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا 

“Apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an? Dan seandainya itu dari selain Allah niscaya mereka akan mendapatkan di dalamnya perselisihan yang banyak.” (QS An-Nisa: 82) 

2. Kedua yakni Al-Kitab
Artinya “kitab”, dari kata كَتَبَ yang artinya “mengumpulkan”. Dinamakan demikian karena dia mengumpulkan huruf dengan huruf, ayat dengan ayat, surat dengan surat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا ۚ 

“Apakah kepada selain Allah aku mencari hakim? Padahal Dialah yang menurunkan Al-Kitab (yaitu Al-Qur’an) secara terperinci.” (QS. Al-An’am:114) 

3. Ketiga yakni Kitabullah
Artinya “kitab Allah”. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ 

“Sesungguhnya orang-orang yang membaca Kitabullah dan mendirikan shalat dan berinfak dari sebagian harta yang Kami rezekikan kepadanya, baik dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan, mereka mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi.” (QS. Fathir:29) 

4. Keempat yakni Al-Furqan
Artinya “yang membedakan”, karena dia membedakan;
• Yang benar dengan yang bathil.
• Petunjuk dan kesesatan.
• Yang halal dan yang haram.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا 

“Sungguh berbarakah Dzat yang telah menurunkan Al-Furqan (yaitu Al-Qur’an) kepada hamba-Nya supaya memberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqan:1) 

5. Kelima yakni Adz-Dzikru
Ada yang mengatakan artinya adalah “peringatan”, karena di dalamnya ada peringatan dan nasehat. Dan ada yang mengatakan artinya adalah “penyebutan”, karena di dalam Al-Qur’an disebutkan banyak permasalahan dan dalil-dalil yang jelas. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ 

“Sesungguhnya Kamilah yang telah menurunkan Adz-Dzikru (yaitu Al-Qur’an) dan sesungguhnya Kamilah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr:9) 

6. Keenam yakni Hablullah
Artinya “tali Allah”. Dinamakan demikian karena dia menyampaikan kepada ridha Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ 

“Dan hendaklah kalian semua berpegang teguh dengan hablullah (yaitu Al-Qur’an) dan janganlah kalian saling berpecah belah.” (QS. Ali ‘Imran:103) 

Di dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda, 

وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ: أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللهِ ، وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللهِ وَرَغَّبَ فِيهِ، ثُمَّ قَالَ: (وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي) 

“Dan aku tinggalkan di antara kalian 2 perkara yang berat; yang pertama Kitabullah, di dalamnya ada petunjuk dan cahaya. Maka ambillah dengan Kitabullah dan berpeganglah dengannya. Maka beliau pun menganjurkan dan mendorong untuk berpegang teguh dengan Kitabullah. Kemudian Beliau berkata: "Dan keluargaku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang keluargaku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang keluargaku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang keluargaku.” (HR. Muslim) 

Di dalam sebuah riwayat, Beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam mengatakan, 

أحدهما كتاب الله عز وجل هو حبل الله من اتبعه كان على الهدى ومن تركه كان على ضلالة 

“Yang pertama di antara keduanya adalah Kitabullah, dia adalah Hablullah. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia di atas petunjuk dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dia di atas kesesatan.” 

Bersambung

Senin, 27 April 2026

Ziarah Madinah : 21 - Ziarah Pemakaman Baqi (Bagian 1)

Ziarah Pemakaman Baqi (Bagian 01). 

Pemakaman Baqi adalah pemakaman lama dan yang pertama-tama dikuburkan di sini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. 

Orang yang pertama dikuburkan dari kalangan Muhajirin adalah Utsman bin Madz’un, saudara sepersusuan nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, meninggal pada tahun 2 hijriah setelah perang Badar. 

Dan dari kalangan Anshor yang pertama kali dikuburkan di sini adalah As’ad bin Zurarah bin Amsori meninggal sebelum perang Badar. 

Setelah itu dikuburkanlah keluarga para sahabat beliau Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan orang-orang yang datang setelah mereka sampai hari ini. 

Diantara keluarga beliau Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang di kuburkan di sini adalah istri-istri beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam Ummahatul mu’minin yang jumlahnya ada 9  yakni: 

1. Aisyah bintu Abu Bakar As Sidiq
2. Hafshah Bintu Umar Ibnu Khattab
3. Ummu Salamah
4. Ummu Habibah
5. Zainab Bintu Jahsy
6. Zaenab Bintu Khuzaimah
7. Shafiyah Bintu Huyay
8. Juwairiyah Bintu al-Harits
9. Saudah Bintu Zam’ah 

Semoga Allah meridhai mereka semuanya. Kemudian diantara keluarga beliau yang dikuburkan di sini adalah putri-putri beliau shallallahu alaihi wasallam, yang jumlahnya ada 4, yakni: 

1 Zainab
2 Ruqayyah
3 Ummu Kultsum
4 Fatimah 

Semoga Allah meridhoi semuanya. 

Dan dikuburkan di sini, yakni:
– Paman beliau Abbas bin Abdul Muthalib.
– Dan Bibi beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam Shafiyyah binti Abdul Muthalib. 

Adapun para sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang dikuburkan di Baqi maka di antaranya:
– Abu Hurairah
– Abdullah bin Mas’ud
– Sa’ad bin Abi Waqqas
– Abdurrahman bin Auf
– Sa’id bin Zayd
– Saad bin Muad dan lainnya 

Semoga Allah meridhai semuanya. 

Sepeninggal para sahabat Baqi masih digunakan untuk menguburkan sampai sekarang atau siapa saja yang meninggal di kota Madinah baik dari penduduk Madinah maupun pendatang bisa di kuburkan di Baqi apabila memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh Pemerintah, diantaranya: 

Dia adalah seorang muslim dan memiliki identitas yang resmi dan tidak ada keutamaan yang khusus bagi orang yang dikuburkan di Baqi seperti kuburan-kuburan yang lain, namun penduduk kota Madinah saat ini lebih mengutamakan untuk dikuburkan di Baqi karena beberapa hal, diantaranya: 

1. Disholatkan oleh orang banyak di masjid Nabawi. Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, ”Tidaklah seorang muslim disalatkan oleh 40 orang yang tidak menyekutukan Allah sedikitpun kecuali Allah akan memberikan syafaat kepada Nya." (HR. Muslim) 

2. Orang yang dikuburkan di Baqi maka akan sering diziarahi oleh kaum muslimin. Dimana di dalam ziarah ini mereka mengucapkan salam, mendoakan dengan ampunan dan kebaikan tentunya ini adalah sesuatu yang sangat diharapkan oleh setiap orang yang meningal dunia, lain keadaannya apabila di kuburkan yang kuburannya jarang diziarahi atau perkuburan yang hanya diziarahi oleh keluarga orang yang dikuburkan di perkuburan tersebut. 

Bersambung

Silsillah Ilmiyyah 7 : 16 - Kitab Al-Quran (Bagian 2)

Kitab Al-Quran (Bagian 2). 

Diantara keistimewaan Al-Quran: 

4. Keempat bahwa Al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur. Al-Quran Allah turunkan dari Lauhul Mahfuzh ke langit dunia di bulan Ramadhan, pada malam Laylatul Qadr. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ 

“Bulan Ramadhan yang diturunkan di dalamnya Al-Quran.” (QS. Al-Baqarah:185) 

Dan Allah berfirman, 

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ 

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Quran di malam Laylatul Qadr.” (QS. Al-Qadr:1) 

Kemudian, turun Al-Quran secara berangsur-angsur sesuai dengan kejadian dan peristiwa selama 23 tahun. Yakni; 

✓Ada di antaranya yang turun sebelum hijrahnya Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam ke kota Madinah yang dinamakan surat-surat Makiyyah.
✓Dan ada diantaranya yang turun setelah hijrah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam ke kota Madinah yang dinamakan dengan surat-surat Madaniyyah. 

Dan diantara hikmah turunnya Al-Quran secara berangsur-angsur adalah agar lebih mudah dihafal, dimengerti dan diamalkan. Allah berfirman, 

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلًا 

“Dan Al-Quran telah Kami pisah-pisahkan (yaitu diturunkan secara berangsur-angsur) supaya engkau wahai Muhammad membacakannya atas manusia pada beberapa waktu dan sungguh Kami telah benar-benar menurunkannya secara bertahap.” (QS. Al-Isra: 106) 

Dan Allah berfirman, 

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآَنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا 

“Dan berkata orang-orang kafir seandainya diturunkan kepadanya Al-Quran dengan sekali turun, demikianlah supaya Kami tetapkan hatimu dengannya dan Kami telah menjelaskan Al-Quran dengan perlahan.” (QS. Al-Furqan:32) 

5. Kelima bahwa Al-Quran adalah muhaymin bagi kitab-kitab sebelumnya. Allah berfirman, 

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ 

“Dan Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab dengan haq yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan muhaymin kitab-kitab sebelumnya.” (QS. Al-Maidah:48) 

Yang dimaksud dengan muhaymin adalah:
• Yang menjadi saksi
• Yang menghukumi
• Yang mengemban amanat
Maksudnya: apa yang sesuai dengannya berarti benar dan menyelisihinya berarti salah. 

6. Keenam bahwa bahwasanya Al-Quran diturunkan agar menjadi petunjuk bagi seluruh manusia dan jin dan bukan untuk bangsa tertentu saja. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيراً 

“Sungguh berbarakah Zat yang telah menurunkan Al-Furqan (yaitu Al-Quran) kepada hambanya supaya memberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqan:1) 

Seandainya seorang nabi yang diutus kepada kaum tertentu hidup di zaman nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam niscaya dia diharuskan mengikuti Al-Quran dan mengikuti syari’at nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, 

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتْبَعَنِي‏ 

“Demi Zat yang jiwaku berada di tanganNya, seandainya Musa hidup niscaya tidak ada pilihan baginya kecuali mengikuti aku.” (Hasan HR. Imam Ahmad) 

Bersambung

Jumat, 24 April 2026

Ziarah Madinah : 20 - Berziarah Ke Makam Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam, Abu Bakar Dan Umar Semoga Alloh Meridhoi Keduanya (Bagian 4) 

Berziarah Ke Makam Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam, Abu Bakar Dan Umar Semoga Alloh Meridhoi Keduanya (Bagian 4). 

Diantara hal yang perlu diperhatikan oleh seorang muslim ketika berziarah ke makam Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan dua orang sahabatnya: 

9. Dilarang bersedekap dan menaruh tangan di atas dada ketika berziarah ke makam Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam karena yang demikian tidak dilakukan oleh para sahabat radhiyallahu anhum. 

10. Dilarang mengusap-usap dinding yang ada di sekitar kuburan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan maksud mengambil barokah atau menyatakan kecintaan kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam karena tidak ada dalil bahwa benda tersebut berbarokah dan tidak ada dalil bahwa barokahnya berpindah dan kecintaan kepada nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dinyatakan dengan:
- Mencintai beliau lebih dari pada manusia yang lain, 
- Banyak mengucapkan shalawat dan salam kepada beliau Shallallahu Alaihi Wasallam
- Serta mengikuti sunnah beliau lahir dan batin.

Berkata Imam Nawawi ketika mengomentari sebagian orang yang bertabaruk dengan mengusap dinding yang ada di sekitar kuburan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, "Dan janganlah tertipu dengan penyimpangan orang-orang awam yang banyak dan apa yang mereka kerjakan karena sesungguhnya mencontoh dan beramal adalah dengan hadist-hadist yang shahih, ucapan para ulama dan tidak boleh menoleh kepada apa-apa yang dibuat oleh orang-orang awam dan kejahilan-kejahilan mereka." Kemudian beliau mengatakan, "Dan barangsiapa yang terbentik di dalam hatinya bahwa mengusap dengan tangan dan yang semisalnya adalah lebih banyak membawa berkah maka ini termasuk kejahilan dia dan kelalaian dia karena sesungguhnya barokah didapatkan dengan mengikuti syariat, lalu bagaimana seseorang mencari keutamaan dengan menyelisihi kebenaran." (Kitab Al Majmu Jilid yang ke 8 halaman 275) 

11. Dilarang melakukan thowaf di sekitar kuburan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, karena thowaf adalah kekhususan rumah Allah. 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, 

وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ 

”Dan hendaklah mereka melakukan thowaf di rumah yang kuno, yaitu Ka’bah.” (QS. Al-Hajj:29) 

12. Tidak ada di sana hadist yang shahih yang khusus menjelaskan tentang keutamaan berziarah ke makam Rasulullah. 

Hadist-hadist khusus yang berkaitan dengan keutamaan ziarah ke makam Rasulullah semuanya tidak ada yang shahih, seperti : 

X. "Barang siapa yang berhaji dan tidak mengunjungi ku maka sungguh dia telah tidak sopan kepadaku." Dikeluarkan oleh Ibnu Hibban di dalam Abdu Affa. Berkata Syeikh Albani yaitu palsu. 

XX. "Barang siapa yang berhaji kemudian menziarahi makam ku setelah kematian ku maka seakan-akan dia telah mengunjungi aku ketika aku hidup.” Diriwiyatkan oleh Ad-Darqutni di dalam sunannya. Berkata Syeikh Albani rahimahumullah, bahwa hadist ini adalah hadist yang bathil. 

13. Tidak ada keharusan dan kelaziman antara haji dan ziarah makam Rasulullah, seseorang bisa berhaji tanpa berziarah dan seseorang bisa berziarah tanpa melakukan ibadah haji. 

Bersambung

Silsillah Ilmiyyah 7 : 15 - Kitab Al-Quran (Bagian 1) 

Kitab Al-Quran Bagian 1. 

PENGERTIAN AL-QURAN SECARA BAHASA
Al-Quran secara bahasa adalah mashdar dari قَرَأَ, artinya جَمَعَ (yaitu mengumpulkan). Dinamakan demikian karena Al-Quran mengumpulkan kisah-kisah, perintah-perintah, larangan-larangan, pahala dan juga ancaman dan juga mengumpulkan ayat-ayat serta surat-surat satu dengan yang lain. 

PENGERTIAN AL-QURAN SECARA SYARI’AT
Adapun secara syari’at, maka Al-Quran adalah kalamullah yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam melalui Jibril ‘alayhissalam dan ditulis di dalam mushaf dari awal surat Al-Fatihah sampai akhir surat An-Naas. 

Allah telah memberikan keistimewaan yang banyak terhadap Al-Quran yang tidak dimiliki kitab-kitab sebelumnya, diantaranya: 

1. Keistimewaan Pertama bahwa Al-Quran wajib diimani secara terperinci. Yaitu dengan:
✓Dibenarkan kabar-kabarnya.
✓Dilaksanakan perintah-perintahnya.
✓Dijauhi larangan-larangannya.
✓Dilaksanakan nasehatnya.
✓Berhukum dengan Al-Quran di dalam perkara yang kecil maupun yang besar.
✓Dan beribadah kepada Allah dengan cara yang tercantum di dalamnya dan di dalam sunnah RasulNya shallallahu ‘alayhi wa sallam. 

2. Keistimewaan Kedua bahwa Al-Quran adalah mu’jizat yang abadi. Seandainya seluruh ahli bahasa bersatu untuk mendatangkan yang semisal Al-Quran, niscaya mereka tidak akan mampu. Allah berfirman, 

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآَنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيراً 

“Katakanlah, "Seandainya manusia dan jin berkumpul untuk mendatangkan yang semisal dengan Al-Quran niscaya mereka tidak bisa mendatangkan yang semisalnya meskipun sebagian membantu sebagian yang lain.” (QS. Al-Isra:88) 

Dan di dalam hadits Rasulullah shallallqhu ‘alayhi wa sallam bersabda, 

مَا مِنَ الأَنْبِيَاءِ نَبِيٌّ إِلّاَ أُعْطِيَ مَا مِثْلهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللَّهُ إِلَيَّ فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَة 

“Tidak ada seorang nabi kecuali diberi ayat-ayat (yaitu tanda-tanda kekuasan Allah atau mu’jizat) yang seharusnya beriman dengannya manusia. Dan sesungguhnya yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang Allah wahyukan kepadaku (yaitu Al-Quran) maka aku berharap menjadi orang yang paling banyak pengikutnya di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim) 

3. Keistimewaan Ketiga bahwa Allah telah berjanji untuk menjaganya dari pengubahan, baik lafazh maupun maknanya, maka:
✓Dijaga lafazhnya sehingga tidak bisa ditambah dan tidak dikurangi.
✓Dan dijaga maknanya dari makna-makna yang menyimpang. 

Allah berfirman, 

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ 

“Sesungguhnya Kamilah yang telah menurunkan Adz-Dzikr (yaitu Al-Quran) dan sesungguhnya Kamilah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr:9) 

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman 

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ 

“Al-Quran tidak didatangi kebathilan, baik dari depan maupun dari belakang, diturunkan dari Dzat Yang Maha Bijaksana Lagi Maha Terpuji.” (QS. Fushshilat:42) 

Oleh karena itu, Allah menyiapkan di sana:
• Orang-orang yang menghafal Al-Quran.
• Para ulama yang menerangkan pemahaman yang benar tentang ayat-ayat Al-Quran dari masa ke masa, dari zaman Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam sampai zaman kita dan sampai Allah mengangkat Al-Qur’an di akhir zaman. Mereka:
✓Menghafal dan memahami maknanya dan istiqamah di dalam mengamalkannya.
✓ Mengkhidmah Al-Quran dengan berbagai cara:
~ Ada yang menulis tafsirnya baik yang singkat maupun yang panjang lebar.
~ Ada yang mengarang tentang:
a. Cara penulisannya
b. Cara membacanya
c. Tentang i’rabnya
d. Dan lain-lain 

Bersambung

Kamis, 23 April 2026

Ziarah Madinah : 19 - Berziarah Ke Makam Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam, Abu Bakar Dan Umar Semoga Alloh Meridhoi Keduanya (Bagian 3) 

Berziarah Ke Makam Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam, Abu Bakar Dan Umar Semoga Alloh Meridhoi Keduanya (Bagian 3). 

Diantara hal yang perlu diperhatikan bagi seseorang yang berziarah ke makam Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan dua orang sahabatnya yakni: 

3. Dilarang seseorang menyakiti sesama muslim ketika berziarah ke makam Rasulullah dan 2 orang sahabatnya. 

4. Dilarang seseorang mengangkat suaranya di dalam mengucapkan salam. 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ 

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mengangkat suara-suara kalian di atas suara nabi dan janganlah kalian mengeraskan perkataan kalian kepada beliau seperti sebagian kalian mengeraskan suaranya bagi sebagian yang lain karena dikhawatirkan akan gugur amalan-amalan kalian sedangkan kalian tidak menyadarinya." (HR. Al Hujurat:2) 

5. Seseorang yang ingin berziarah maka mendatangi kuburan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan 2 orang sahabatnya dari arah depan kemudian mengadap kearah kuburan dan mengatakan, 

"Assalamualaika Ya Rasulullah," "Assalamualaika Ya Aba Bakrin," "Assalamualaika Ya Umar," atau ucapan yang semisalnya. 

6. Apabila sudah selesai mengucapkan salam maka bersegera meninggalkan tempat tersebut dan tidak berlama-lama di sana 

7. Apabila ingin mendoakan kebaikan untuk Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, Abu Bakar dan Umar maka menghadap kearah kiblat dan tidak menghadap kearah kuburan. 

8. Dilarang menjadikan ziarah ke makam Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, Abu Bakar dan Umar Sebagai tujuan utama ketika berziarah ke kota Madinah. 

Bersambung

Silsillah Ilmiyyah 7 : 14 - Kitab Al-Injil (Bagian 3) 

Kitab Al-Injil Bagian 3. 

Diantara kesalahan yang ada di dalam Al-Injil yang tersebar sekarang adalah penyebutan nasab nabi ‘Īsa ‘alayhissalam kepada laki-laki. Sebagaimana dalam Injil Matius pasal 1 ayat 1-17 dan di dalam Injil Lucas pasal 3 ayat 23-38. Padahal Allah telah mengabarkan di dalam Al Quran bahwa nabi ‘Īsa ‘alayhissalam lahir dari:
✓ Seorang wanita tanpa disentuh laki-laki
✓Seorang wanita yang shalihah, bukan wanita pezina
✓Bukan wanita yang bersuami. Sebagai tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

قَالَتْ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا قَالَ كَذَلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَلِنَجْعَلَهُ آيَةً لِلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِنَّا وَكَانَ أَمْرًا مَقْضِيًّا 

“Maryam berkata, “Bagaimana aku memiliki anak laki-laki, padahal tidak ada laki-laki yang menyentuhku dan aku bukan wanita pezina.” Jibrīl berkata, “Demikianlah dikatakan oleh Rabbmu. Dia berkata, "Yang demikian mudah bagiKu dan supaya Kami jadikan dia (yaitu ‘Īsa) sebagai tanda kekuasaan Kami bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami. Dan itu adalah perkara yang sudah diputuskan.” (QS. Maryam:20-21) 

Oleh karena itu, Allah menyebutkan di dalam Al Quran: 

1. ‘ĪSA BIN MARYAM. Sebagaimana dalam Surat Al-Baqarah 87 dan juga yang lain. 

2. AL-MASIH BIN MARYAM. Sebagaimana dalam Surat Al-Maidah ayat 17 dan juga yang lain. 

3. AL-MASIH ‘ĪSA BIN MARYAM. Sebagaimana dalam QS. Āli ‘Imran ayat 45 dan juga yang lain. 

Apa yang tertulis di dalam Injil yang sekarang justru membenarkan aqidah orang Yahudi yang mengatakan bahwa, “Nabi ‘Īsa adalah anak zina”. Dan di sana ada perbedaan antara nasab ‘Īsa antara Injil Matius dan Injil Lukas: 

a. INJIL MATIUS
Di dalam Injil Matius disebutkan bahwa Nabi ‘Īsa adalah:
• Anak Yusuf bin Ya’qub bin Matan bin Ilyazar dan seterusnya.
• Termasuk keturunan Nabi Sulaiman bin Dawud ‘alaihimassalam.
b. INJIL LUKAS
Adapun di dalam Injil Lukas disebutkan bahwa beliau adalah:
• Anak Yusuf bin Eli bin Matat bin Lewi dan seterusnya.
• Termasuk keturunan Natan bin Dawud ‘alaihissalam. 

Bersambung

Rabu, 22 April 2026

Ziarah Madinah : 18 - Berziarah Ke Makam Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam, Abu Bakar Dan Umar Semoga Alloh Meridhoi Keduanya (Bagian 2) 

Berziarah Ke Makam Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam, Abu Bakar Dan Umar Semoga Alloh Meridhoi Keduanya (Bagian 2) 

Diantara hal yang perlu diperhatikan oleh seseorang yang berziarah ke makam Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu ’anhuma 

1. TIDAK TERLALU SERING BERZIARAH 

Di dalam sebuah hadist Rasulullah shallallahu ’alayhi wa sallam bersabda, 

وَلَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا ، وَصَلُّوا عَلَيَّ ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ 

“Dan janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai id, dan hendaklah kalian bershalawat kepadaku karena sesungguhnya shalawat kalian sampai kepadaku di manapun kalian berada.” (Shahih HR. Abu Daud) 

Yang dimaksud dengan id adalah sesuatu yang sering diulang baik berupa tempat maupun berupa waktu. 

Dan diantara makna ucapan beliau Rasulullah shallallahu ’alayhi wa sallam, "Dan janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai id adalah janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat yang sering diulang-ulang diziarahi, cukuplah seorang muslim melakukan seperti yang dilakukan oleh Abdullah Ibnu Umar Radhiyallahu ’anhuma, di mana beliau Radhiyallahu ’anhuma berziarah ke makam Rasulullah shallallahu ’alayhi wa sallam, Abu Bakar dan bapak beliau ketika datang dari safar Sebagaimana telah berlalu." 

Dan apabila seseorang ingin mengucapkan shalawat untuk Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam maka yang demikian bisa dilakukan di mana saja dan shalawat tersebut akan sampai kepada Beliau Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebagaimana di dalam hadist di atas. 

Dan di dalam hadist yang shahih di riwayatkan oleh An Nasai di dalam sunannya beliau Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang senantiasa berjalan di permukaan bumi menyampaikan dari umatku salam untukku.” 

Dengan demikian tidak perlu seseorang ketika melihat saudaranya akan berziarah ke kota Madinah menitipkan salamnya untuk Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tetapi cukup dia mengucapkan salam di mana dia berada maka salam tersebut akan dibawa oleh malaikat-malaikat yang telah ditugaskan oleh Allah azza wa jalla.

2. LARANGAN BERDOA DAN MEMINTA KEPADA RASULULLAH YANG DEMIKIAN KARENA DOA ADALAH IBADAH. 

Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, “Doa itu adalah Ibadah.” (Shahih HR. Abu Daud, At Tarmizi, An nasai dan juga Ibnu Majah) 

Apabila dia adalah ibadah maka tidak boleh diserahkan kepada selain Allah azza wa jalla dan barang siapa yang menyerahkan doa kepada selain Allah maka sungguh dia telah berbuat sirik kepada Allah azza wa jalla. 

Bersambung

Silsillah Ilmiyyah 7 : 13 - Kitab Al-Injil (Bagian 2) 

Kitab Al-Injil (Bagian 2) 

Diantara kabar yang kita ketahui tentang Al-Injil di dalam Al-Quran dan juga hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam: 

3. Ketiga bahwa tentang sebagian yang terkandung di dalam Al-Injil. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan diantara kandungan Kitab Injil adalah: 

a. KABAR GEMBIRA TENTANG KEDATANGAN NABI MUHAMMAD ﷺ . Sebagaimana dalam QS. Al-A’raf:157. 

b. PENYEBUTAN SIFAT SHAHABAT RASULULLAH ﷺ . Sebagaimana dalam QS. Al-Fath:29. 

c. ALLAH MEMBELI JIWA DAN HARTA ORANG YANG BERIMAN DENGAN SURGA. Sebagaimana di dalam QS. At-Taubah:111 

4. Keempat bahwa diturunkan kitab Injil malam tanggal 14 Ramadhan. Rasulullah ﷺ bersabda, 

وأنزلت التوراة لست مضين من رمضان وأنزل الانجيل لثلاث عشرة مضت من رمضان 

“Dan Taurat diturunkan setelah 6 hari berlalu di bulan Ramadhan (yaitu malam tanggal 7) dan Injil diturunkan setelah 13 hari berlalu di bulan Ramadhan (yaitu malam tanggal 14).” (HR. Ath-Thabraniy di dalam Al-Mu’jamul Kabir dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albaniy rahimahullah) 

Perlu diketahui bahwa Al-Injil yang ada sekarang bukanlah Injil yang asli yang diturunkan kepada Nabi ‘Īsa ‘alayhissalam. Al-Injil yang Allah turunkan kepada Nabi ‘Īsa tidak diketahui bekasnya, yang ada hanyalah tulisan orang-orang yang tidak jelas riwayat hidupnya dan tidak ada sanad yang shahih, yang mereka hidup berpuluh-puluh tahun setelah Nabi ‘Īsa diangkat oleh Allah, sehingga banyak kesalahan dan perbedaan yang banyak sekali di antara Injil-injil tersebut. Oleh karena itu mereka menamakan Injil-injil tersebut dengan nama penulisnya, seperti Injil Mathius, Injil Markus, Injil Lukas, Injil Yohana, dan lain-lain. Dan mereka tidak mengatakan bahwa itu Injil dari ‘Īsa ‘alayhissalam. 

Bersambung

Selasa, 21 April 2026

Ziarah Madinah : 17 - Berziarah Ke Makam Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam, Abu Bakar Dan Umar Semoga Alloh Meridhoi Keduanya (Bagian 1) 

Berziarah Ke Makam Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam, Abu Bakar Dan Umar Semoga Alloh Meridhoi Keduanya (Bagian 1) 

Diantara yang di syariatkan bagi seorang laki-laki ketika berziarah ke kota Madinah adalah berziarah ke makam Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan dua orang sahabatnya yang dikuburkan di samping beliau Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, yaitu Abu Bakar dan Umar Ibn Khattab Radhiyallahu anhuma. 

Yang demikian karena keumuman ucapan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, “Hendaklah kalian berziarah kubur, karena ziarah kubur mengingatkan kalian kepada kematian.” (HR. Muslim) 

Abdul Rozak semoga Allah merahmati beliau di dalam kitab beliau Al Mushonaf, mengeluarkan sebuah asar dari nafi, beliau mengatakan, “Dahulu Ibnu Umar apabila datang dari safar beliau mendatangi kuburan nabi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam seraya berkata semoga keselamatan atasmu wahai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, semoga keselamatan atasmu wahai Abu bakar, semoga keselamatan atasmu wahai Bapak ku.” 

Ini menunjukkan tentang bolehnya seorang muslim berziarah ke makam Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan dua orang sahabatnya, tentunya dengan mengikuti aturan-aturan syariat yang sudah ada di dalam agama, yang insya Allah akan kita sebutkan dari aturan-aturan tersebut dalam halaqah-halaqah selanjutnya. 

Bersambung

Silsillah Ilmiyyah 7 : 12 - Kitab Al-Injil (Bagian 1) 

Kitab Al-Injil (Bagian 1) 

Ada yang mengatakan bahwa kata Al-Injil berasal dari bahasa Yunani yang artinya kabar gembira. 

Diantara kabar yang kita ketahui tentang Al-Injil di dalam Alqur’an dan Al Hadits, bahwa: 

1. Al-Injil diturunkan kepada Nabi Isa alaihi salam. Allah berfirman, 

ثُمَّ قَفَّيْنَا عَلَىٰ آثَارِهِمْ بِرُسُلِنَا وَقَفَّيْنَا بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَآتَيْنَاهُ الْإِنْجِيلَ… 

“Kemudian Kami susulkan setelah mereka yaitu nabi Nuh dan nabi Ibrahim rasul-rasul Kami dan Kami susulkan pula Isa putra Maryam dan Kami berikan Injil kepadanya…” (QS. Al-Hadid:27) 

2. Al-Injil diturunkan untuk membenarkan At Taurat mengikutinya dan tidak menyelisihinya. Allah berfirman, 

وَقَفَّيْنَا عَلَىٰ آثَارِهِمْ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ ۖ وَآتَيْنَاهُ الْإِنْجِيلَ فِيهِ هُدًى وَنُورٌ وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ 

”Dan Kami susulkan setelah mereka dengan Isa putra Maryam yang membenarkan apa yang datang sebelumnya berupa kitab Taurat dan Kami berikan Injil kepadanya di dalamnya ada petunjuk dan cahaya dan Injil tersebut datang untuk membenarkan kitab yang datang sebelumnya yaitu kitab Taurat dan petunjuk serta nasehat bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Ma’idah:46) 

Kitab Injil isinya mengikuti isi Taurat kecuali dalam beberapa hukum yang sedikit. Allah berfirman menceritakan ucapan Nabi Isa kepada bani Isra’il, 

وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَلِأُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ ۚ 

”Dan aku membenarkan kitab yang datang sebelumku yaitu Taurat dan aku menghalalkan sebagian dari apa yang sebelumnya diharamkan atas kalian.” (QS. Al-Imran:50) 

Berkata Ibn Katsir ketika menafsirkan ayat ini, 

ولهذا كان المشهور من قولي العلماء أن الإنجيل نسخ بعض أحكام التوراة 

“Oleh karena itu yang masyhur dari dua pendapat ulama bahwa Injil menghapuskan sebagian hukum-hukum Taurat.” 

Datang di Perjanjian Baru Injil Matheus pasal 5 ayat 17-19 yang menguatkan hal ini disebutkan di dalamnya bahwa nabi Isa berkata, ”Janganlah kamu menyangka bahwa aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi, aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya karena aku berkata kepadamu sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini satu huruf atau satu titik pun tidak akan di tiadakan dari hukum Taurat sebelum semuanya terjadi, karena itu siapa yg meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam kerajaan surga.” 

Oleh karena itu Nabi Isa berkhitan sebagaimana dalam Perjanjian Baru Injil Lukas pasal 2 ayat 21, yang demikian karena beliau alaihi salam mengikuti syariat Nabi Musa alaihi salam sebagaimana disebutkan di dalam perjanjian lama kejadian pasal 17 ayat 9-14. 

Adapun Paulus, dia telah merusak ajaran nabi Musa dan nabi Isa dan membatalkan hukum sunat dan mengatakan, “Bahwa sunat adalah sunat dalam hati.” Sebagaimana dalam Perjanjian Baru Roma pasal II ayat 24-29. 

Bersambung

Senin, 20 April 2026

Ziarah Madinah : 16 - Ziarah Masjid Quba Bagian 04

Ziarah Masjid Quba Bagian 04. 

Di antara hal yang berkaitan dengan masjid Quba bahwa sholat di perluasan masjid Quba mendapatkan pahala umroh sebagaimana apabila seseorang salat di masjid yang asli. 

Kemudian diantara hal yang perlu diketahui bahwa masjid Quba meskipun memiliki keutamaan, namun masjid Nabawi lebih utama daripada masjid Quba dengan kesepakatan para ulama. 

Berkata Ibnu Abdil Barr, “Sholat di masjidil Haram atau masjid Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam atau masjid Baitil Maqdis lebih afdol daripada sholat di masjid Quba dengan kesepakatan para ulama.” (kitab Al Istikhar jilid yang ke-5 halaman 168) 

Oleh karena itu tidak dianjurkan setiap hari selama di kota Madinah berziarah ke Quba tetapi cukup sekali sepekan sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Sisa waktunya di gunakan untuk memperbanyak sholat di masjid Nabawi. 

Dan yang perlu diketahui bahwa tempat menderumnya Unta Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang dia menderum karena perintah Allah adalah di masjid Nabawi dan bukan di Masjid Quba sebagaimana anggapan sebagian orang. 

Hal ini dijelaskan di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari di dalam shahihnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tinggal di Bani Amar Ibnu Auf lebih lebih dari 10 hari dan membuat pondasi masjid Quba. Kemudian beliau sholat di dalamnya. Kemudian beliau menaiki unta beliau berjalan menuju kota Madinah sehingga menderung unta beliau Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di tempat masjid beliau Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di kota Al Madinah. 

Bersambung