Kitab Al-Quran Bagian 1.
PENGERTIAN AL-QURAN SECARA BAHASA
Al-Quran secara bahasa adalah mashdar dari قَرَأَ, artinya جَمَعَ (yaitu mengumpulkan). Dinamakan demikian karena Al-Quran mengumpulkan kisah-kisah, perintah-perintah, larangan-larangan, pahala dan juga ancaman dan juga mengumpulkan ayat-ayat serta surat-surat satu dengan yang lain.
PENGERTIAN AL-QURAN SECARA SYARI’AT
Adapun secara syari’at, maka Al-Quran adalah kalamullah yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam melalui Jibril ‘alayhissalam dan ditulis di dalam mushaf dari awal surat Al-Fatihah sampai akhir surat An-Naas.
Allah telah memberikan keistimewaan yang banyak terhadap Al-Quran yang tidak dimiliki kitab-kitab sebelumnya, diantaranya:
1. Keistimewaan Pertama bahwa Al-Quran wajib diimani secara terperinci. Yaitu dengan:
✓Dibenarkan kabar-kabarnya.
✓Dilaksanakan perintah-perintahnya.
✓Dijauhi larangan-larangannya.
✓Dilaksanakan nasehatnya.
✓Berhukum dengan Al-Quran di dalam perkara yang kecil maupun yang besar.
✓Dan beribadah kepada Allah dengan cara yang tercantum di dalamnya dan di dalam sunnah RasulNya shallallahu ‘alayhi wa sallam.
2. Keistimewaan Kedua bahwa Al-Quran adalah mu’jizat yang abadi. Seandainya seluruh ahli bahasa bersatu untuk mendatangkan yang semisal Al-Quran, niscaya mereka tidak akan mampu. Allah berfirman,
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآَنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيراً
“Katakanlah, "Seandainya manusia dan jin berkumpul untuk mendatangkan yang semisal dengan Al-Quran niscaya mereka tidak bisa mendatangkan yang semisalnya meskipun sebagian membantu sebagian yang lain.” (QS. Al-Isra:88)
Dan di dalam hadits Rasulullah shallallqhu ‘alayhi wa sallam bersabda,
مَا مِنَ الأَنْبِيَاءِ نَبِيٌّ إِلّاَ أُعْطِيَ مَا مِثْلهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللَّهُ إِلَيَّ فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَة
“Tidak ada seorang nabi kecuali diberi ayat-ayat (yaitu tanda-tanda kekuasan Allah atau mu’jizat) yang seharusnya beriman dengannya manusia. Dan sesungguhnya yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang Allah wahyukan kepadaku (yaitu Al-Quran) maka aku berharap menjadi orang yang paling banyak pengikutnya di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Keistimewaan Ketiga bahwa Allah telah berjanji untuk menjaganya dari pengubahan, baik lafazh maupun maknanya, maka:
✓Dijaga lafazhnya sehingga tidak bisa ditambah dan tidak dikurangi.
✓Dan dijaga maknanya dari makna-makna yang menyimpang.
Allah berfirman,
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kamilah yang telah menurunkan Adz-Dzikr (yaitu Al-Quran) dan sesungguhnya Kamilah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr:9)
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman
لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ
“Al-Quran tidak didatangi kebathilan, baik dari depan maupun dari belakang, diturunkan dari Dzat Yang Maha Bijaksana Lagi Maha Terpuji.” (QS. Fushshilat:42)
Oleh karena itu, Allah menyiapkan di sana:
• Orang-orang yang menghafal Al-Quran.
• Para ulama yang menerangkan pemahaman yang benar tentang ayat-ayat Al-Quran dari masa ke masa, dari zaman Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam sampai zaman kita dan sampai Allah mengangkat Al-Qur’an di akhir zaman. Mereka:
✓Menghafal dan memahami maknanya dan istiqamah di dalam mengamalkannya.
✓ Mengkhidmah Al-Quran dengan berbagai cara:
~ Ada yang menulis tafsirnya baik yang singkat maupun yang panjang lebar.
~ Ada yang mengarang tentang:
a. Cara penulisannya
b. Cara membacanya
c. Tentang i’rabnya
d. Dan lain-lain
Bersambung