Kamis, 29 Agustus 2024

Peran Muslimah Dalam Mengisi Kemerdekaan

Kajian        : Kajian Muslimah Daarut Tauhiid Kebayoran
Sifat           : Offline/Online - Masjid Daarut Tauhiid Kebayoran
Pemateri    : Ustazah Sinta Santi
Tanggal      : Sabtu, 25 Agustus 2024

  • Menguatkan dan mengokohkan diri dalam mejaga nilai-nilai agama.
    • QS. Ali-Imron [3] : 102
    • Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepadaNya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.
  • Menjaga peran secara fitrah.
    • QS. Ar-Rum [30] : 30
    • Artinya : Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrahnya) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
  • Menjadi partner bagi laki-laki.
    • QS.Al-Hujurat [49] :13
    • Artinya : Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari  seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah  adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.
    • QS. An-Nisa [4] : 124
    • Artinya : Siapa yang beramal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia beriman, akan masuk ke dalam syurga dan tidak didzalimi sedikit pun.
  • Melahirkan anak-anak berkualitas baik dari prestasi agama dan dunia.
    • QS. An-Nisa [4] : Xx
  • Berprestasi dalam membangun bangsa bidang pendidikan, ekonomi, sosial media, dan lain-lain.


Xx : Catatan kurang lengkap karena tertinggal
Sumber : PDF Kajian Muslimah Masjid Daarut Tauhiid, Kebayoran

Rabu, 21 Agustus 2024

Siroh Sahabat : Thulaihah Bin Khuwailid

Kajian        : Sirah Sahabat
Sifat           : Offline/Online - Masjid Nurul Iman Lantai 7 Blok M Square
Pemateri    : Ustad Khalid Basalamah
Tanggal      : Sabtu, 10 Agustus 2024

  • Thulaihah merupakan sahabat yang pernah masuk Islam, lalu sempat murtad, lalu masuk Islam kembali
  • Islam tidak pernah melihat masa lalu manusia, selalu ada kesempatan pintu taubat sebelum wafat.
  • Thulaihah bin Khuwailid bin Nauval dari suku Al-Asr (singa), suku yang pemberani, ia masuk Islam pada tahun 9H masa akhir-akhir kehidupan Rasulullah.
  • Thulaihah termasuk mu'alam (yakni orang yang masih lemah masuk Islam-nya), karena sifat mu'alam tersebut setelah masuk Islam ia sempat murtad bahkan mengaku sebagai nabi, sebagai nabi palsu ia mendapat pengikut yang banyak. Ketika bertaubat kembali Thulaihah mengajak kembali pengikutnya.
  • Thulaihah diizinkan masuk ke dalam pasukan muslimin namun tidak diberi jabatan karena khawatir murtad kembali.
  • Suatu ketika ada sahabat bernama Saad diberikan amanah mengintai pasukan Persia untuk persiapan melawan Persia. Bangsa Persia adalah bangsa yang orangnya kuat-kuat dan terlatih menggunakan senjata. Di dalam pasukan Saad ada Thulaihah. Saad menunjuk Thulaihah dan Amr menjadi mata-mata. Thulaihah berjalan sendiri sementara Amr mengajak 5 orang pengikutnya. Setelah mengikuti Amr balik ketika sudah merasa menemukan kekurangan Persia, namun Thulaihah merasa belum menemukan kekurangan Persia. Thulaihah tetap mencari tahu melewati 2 camp yang 1 camp-nya ada sekitar 70.000 pasukan. Thulaihah bahkan menakut-nakuti dan membunuh 2 pemimpin pasukan serta berhasil menahan 1 pemimpin yang kekuatannya yang di pasukannya sekarang tidak ada yang lebih kuat dari 1 pemimpin yang ditahan tersebut. Pasukan Persia ada 120.000 pasukan yang dilayani sejumlah pasukan tersebut sehingga jumlahnya mencapai 2 kalinya yakni sekitar 240.000 orang Persia.
  • Thulaihah menjadi peran penting dalam perang melawan bangsa Persia yang dikenal dengan perang Nahawan.
  • Thulaihah bin Khuwailid adalah seorang sahabat yang :
  1. Taubat nasuha.
  2. Memiliki 1000 kekuatan orang biasa.
  3. Memiliki keberanian yang luar biasa.
  4. Merupakan sahabat yang ikut dalam 2 peperangan yang dipimpin oleh Abu Bakar dan Umar bin Khattab.
  5. Wafat dengan syahid
  • Allah mengajarkan bahwa selalu ada hidayah. Ibadah ada 4 hidayah :
    • Hidayah umum
      • QS. Al-A'la [87] : 2-3
      • Artinya : [2] Yang menciptakan, lalu menyempurnakan (ciptaanNya). [3] Yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.
      • Hidayah ini ditawarkan untuk semua makhluk
    • Hidayah bayan dalala (hidayah petunjuk)
    • Hidayah taufik dan ilham
      • QS. Yunus [10] : 25
      • Artinya : Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (syurga) dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki menuju jalan yang lurus (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk).
      • Hidayah ini ditawarkan kepada yang tergerak seperti datang ke kajian
    • Hidayah di akhirat
      • QS. As-Shaffat [37] : 22-23
      • Artinya : [22] (Lalu diperintahkan kepada malaikat), kumpulkanlah orang-orang yang dzalim beserta teman sejawat mereka dan apa yang dahulu mereka sembah selain Allah. [23] Lalu, tunjukanlah mereka jalan (ke neraka) Jahim.
      • QS. Al-Araf [7] : 43
      • Artinya : Kami mencabut rasa dendam dari dalam dada mereka (di syurga) mengalir di bawah mereka sungai-sungai. Mereka berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke (syurga) ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak  menunjukkan kami. Sungguh,, rasul-rasul Tuhan kami telah datang membawa kebenaran". Diserukan kepada mereka, "Itulah syurga yang telah diwariskan kepadamu karena apa yang selalu kamu kerjakan".
      • Hidayah ini ditawarkan di akhirat menuju ke syurga atau ke neraka.
  • Pelajaran yang bisa dipetik adalah :
    • Jangan pernah menutup pintu hidayah untuk orang lain
    • Kedudukan taubat.
    • Sebelum roh manusia dicabut sampai kerongkongan, taubat masih dapat diterima Allah. Ada di Al-Quran :
      • QS. Az-Zumar [39] : 53
        • Artinya : Katakanlah (nabi Muhammad SAW), "Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas (dengan mendzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
        • Menjelaskan rahmat Allah sangat besar, segala dosa sebesar apapun bisa dimaafkan.
      • QS. Al-Maidah [5] : 53
        • Artinya : Orang-orang yang beriman akan berkata, "Inikah orang yang bersumpah dengan (nama) Allah secara sungguh-sungguh bahwa mereka benar-benar beserta kamu?" Segala amal mereka menjadi sia-sia sehingga mereka menjadi orang-orang yang rugi.
        • Menjelaskan tentang musuh-musuh yag berperang kepada Islam, jika tiba-tiba beriman (bersyahadat) maka Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang jadi harus dirangkul.
      • QS. Al-Furqan [25] : 70-71
        • Artinya : [70] Kecuali, yang bertaubat, beriman dan beramal saleh. Maka Allah mengganti  kejahatan mereka (dengan) kebaikan. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [71] Siapa yang bertaubat dan beramal salehsesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenarnya.
        • Menjelaskan tentang orang yang bertaubat lalu dosa-dosaya diganti dengan kebaikan.
      • QS. Maryam [19] : 60
        • Artinya : Kecuali orang yang bertaubat, beriman, dan beramal soleh, mereka akan masuk syurga dan tidak akan didzalimi siapapun.
        • Merupakan tentang ancaman jika tidak melaksanakan kewajiban.
      • Hadist dari Ibnu Faris
        • Tentang keberanian dalam menyerang musuh. Tentang berani menghadapi resiko di atas kebenaran. Tentang berani demi kebaikan yang dapat diraih. Allahumma inni minal jubr, Ya Allah jauhkan dari sifat pengecut. Aamiin yra.
    • Jihad dan mati syahid. 
      • Ketahuilah bahwa yang berjihad belum tentu mati syahid dan yang mati syahid belum tentu yang berjihad.
      • Mintalah mati syahid karena kita manusia akan mati juga.
      • Orang yang mati syahid tidak sakit hanya seperti cubitan kecil, bandingkan dengan mati iasa yang rasanya sangat sakit.
      • Mati hanya 1 kali.
      • Mati syahid ada 7 (selain jihad) + 4 tambahan keutamaan lainnya:
      1. Orang yang terkena wabah
      2. Orang yang tenggelam
      3. Orang yang kena penyakit di sisi tulang rusuknya
      4. Orang yang meninggal sakit perut
      5. Orang yang kena kebakaran
      6. Orang yang ditimpa reruntuhan bangunan
      7. Wanita yang dalam kondisi melahirkan
      8. Orang yang senantiasa berdoa mati di jalan Allah
      9. Mati karena hewan
      10. Membela keluarganya
      11. Membela kehormatannya
      • Ada 6 Keutamaan mati syahid :
      1. Dosa diampuni
      2. Dijaga dari siksa kubur
      3. Dijaga setelah dibangkitkan dari kubur
      4. Diberikan mahkota
      5. Dinikahkan dengan bidadari
      6. Diberikan syafaat kepada keluarganya


Keterangan
xx : Catatan kurang lengkap karena tertinggal, akan dilengkapi dan diperbaiki ketika rekaman kajiannya sudah muncul di channel youtube KHB

Kamis, 15 Agustus 2024

Siroh Shahabiyah : Rabi'ah Al-Adawiyah - Perjalanan Dan Cinta Wanita Sufi

Kajian        : Kajian Muslimah Masjid Daarut Tauhiid Kebayoran
Sifat           : Online/Offline - Masjid Daarut Tauhiid Kebayoran
Pemateri    : Ustazah Erika Suryani Dewi
Tanggal      : Sabtu, 10 Agustus 2024

  • Rabi'ah Al-Adawiyah dikenal juga dengan nama Rabi'ah Al-Bashriyah. Nama lengkapnya adalah Rabi'ah binti Ismail Al-Adawiyah Al-Bashriyah. Dia adalah seorang sufi wanita yang dikenal karena kesucian dan kecintaannya terhadap Allah. Rabi'ah merupakan sufi wanita beraliran sunni pada masa dinasti Umayyah yang menjadi pemimpin dari murid-murid perempuan dan zahidah, yang mengabdikan dirinya untuk penelitian hukum kesucian bagi mereka yang sangat takut dan taat kepada Allah.
  • Rabi'ah Al-Adawiyah dijuluki sebagai "The Mother Of The Grand Master" atau "Ibu Para Sufi Besar" karena kezuhud-an-nya. Ia juga menjadi panutan para ahli sufi lain seperti Ibnu Al-Faridh Dzun Nuun Al-Mishri.
  • Rabi'ah dilahirkan di kota Basrah, Irak, sekitar abad ke 8 tahun 713-717M. Ia dilahirkan dari keluarga yang sangat miskin dan merupakan anak ke-4 dari 4 bersaudara, sehingga ia dinamakan Rabi'ah yang berarti anak ke-4. Ayahnya bernama Ismail, ketika malam menjelang kelahiran Rabi'ah, keadaan ekonomi keluarga Ismail sangatlah buruk sehingga ia tidak memiliki uang dan penerangan untuk menemani istrinya yang akan melahirkan. Beberapa hari setelah kelahiran Rabi'ah, Ismail bermimpi bertemu dengan nabi Muhammad SAW, dalam mimpinya beliau berkata kepada Ismail agar jangan bersedih karena anaknya, Rabi'ah, akan menjadi seorang wanita yang mulia, sehingga banyak orang akan mengharapkan syafaatnya. Sejak kecil Rabi'ah sudah dikenal sebagai anak yang cerdas dan taat beragama. Beberapa tahun kemudian, ayahnya, Ismail meninggal dunia kemudian disusul oleh ibunya sehingga Rabi'ah dan ketiga saudara perempuannya menjadi yatim piatu. Ayah dan ibunya hanya meninggalkan harta berupa sebuah perahu yang kemudian digunakan Rabi'ah untuk mencari nafkah. Rabi'ah bekerja sebagai penarik perahu yang menyebrangkan orang dari tepi sungai Dajlah ke tepi sungai yang lainnya. Sementara ke-3 saudara perempuannya bekerja di rumah menenun kain atau memintal benang.
  • Rabi'ah kecil harus hidup mandiri dan terasing. Ia pernah menjadi budak dan ketika bebas ia memilih menjalani hidup di tempat-tempat sunyi untuk bermeditasi. Sebuah tikar lusuh, sebuah periuk dari tanah, dan sebuah batu bata adalah harta yang ia miliki pada saat itu. Sejak itulah, Rabi'ah mengabdikan seluruh hidupnya pada Allah. Setiap waktu ia terus berdoa dan berdzikir. Hidupnya benar-benar semata untuk kehidupan akhirat sampai ia mengabaikan urusan dunianya.
  • Ketika kota Basrah dilanda berbagai bencara alam akibat kemarau yang panjang, Rabi'ah dan ketiga saudara perempuannya memutuskan untuk berkelana ke berbagai daerah utuk bertahan hidup. Dalam pengembaraannya, Rabi'ah terpisah dengan ke-3 saudara perempuannya sehingga ia hidup seorang diri. Pada saat itulah Rabi'ah diculik oleh sekelompok penyamun kemudin dijual sebagai hamba sahaya seharga 6 dirham kepada seorang pedagang. Pedagang yang membeli Rabi'ah sebagai hamba sahaya memperlkukannya dengan kejam, sehingga Rabi'ah harus sealu bekerja keras sepanjang hari.
  • Di antara kalimat hikmah Rabi'ah adalah : "Aku memohon ampun kepada Allah karena kurang jujur saat mengucap istigfar, istighfaarunaa yahtaaju ilal istighfaar".
  • Rabi'ah Al-Adawiyah hidup di jaman Imam Sufyan Ats-Tsauri. Beliau adalah wanita ahli ibadah, zuhud dan selalu khusyu. Beliau sering memberi penjelasan tentang hikmah.
  • Imam Sufyan Ats-Tsauri yang wafat 161H pernah mendapat pesan hikmah dari Rabi'ah : "Ya Allah, jika aku menyembahMu karena takut neraka bakarlah aku di dalammya. Dan jika aku menyembahMu karena hanya mengharap syurga, campakkanlah aku darinya. Tetapi, jika aku menyembahMu demi Engkau semata mengejar ridhaMu, janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajahMu yang abadi kepadaku".
  • Rabi'ah secara tidak langsung menyebarkan cara beriman kepada Allah yang lebih mengedepankan hubungan antara individu dan Rabbnya. Alih-alih menginginkan imbalan dengan adanya syurga atau ketakutan akan neraka, Rabi'ah Al-Adawiyah lebih memperlihatkan makna dalam beribadah yang dilakukan pada perjalanan spiritualitasnya yang digambarkan pada cintanya kepada Allah. Akan tetapi meskipun kisah hidup Rabi'ah Al-Adawiyah sering dijadikan contoh keteladanan dalam beribadah, ajaran sufisme yang dicontohkan justru masih awam dan belum jamak ditemukan pada masyarakat khususnya Indonesia.
  • Rabi'ah sebagai ahli ibadah yang konsisten hingga akhir hayatnya. Beliau wafat di usia 80 tahun, di tahun 180H. Smoga Allah merahmati beliau dan kita semua yang meniti jalan kebenaran menuju ridha Allah. Aamiin yra.

Sumber : PDF Kajian Muslimah Masjid Daarut Tauhiid, Kebayoran

Sabtu, 03 Agustus 2024

Kitab Al-Mulakhkhash : Larangan Mencela Angin

Kajian        : Kajian Kitab Al-Mulakhkhash Fii Syarhi Kitab At-Tauhid
Karya         : Asy-Syaikh Al-'Allamah Prof. Dr. Shalih Al-Fauzan (Hafidzahullah)
Sifat           : Online/Offline - Masjid Nurul Iman Lantai 7 Blok M Square
Pemateri    : Ustad Muhammad Yahya
Tanggal      : Sabtu, 3 Agustus 2024

Prakata

Penggunaan kata "seandainya, umpama, jikalau" di beberapa sisi :
  1. Kata "seandainya, umpama, jikalau" digunakan untuk menggugat syariat, ketentuan Allah, maka ini haram hukumnya. QS. Al-Imran [3] : 168, kata "seandainya" diucapkan orang-orang munafik ketika perang Uhud dimana mundur 1/3 pasukan. Kaum muslimin dipimpin Rasullah mengadakan musyawarah untuk menghadapi mereka. Ada perbedaan pendapat sampai pada kesimpulan mereka harus menuju Uhud, setelah putusan diambil ternyata ada penggembosan, dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul seorang tokoh munafik. Ketika terjadi perang Uhud orang-orang muslim hampir 70% meninggal, orang-orang munafik (yang mundur tadi) menggugat putusan Rasulullah, "Seandainya mereka mengikuti kami tentulah mereka tidak terbunuh". Di sini ada kata "seandainya" padahal itu sudah terjadi, maka penggunakan kata "seandainya" dalam rangka menentang ketentuan syariat maka itu haram bahkan bisa mencapai pada kekufuran.
  2. Kata "seandainya, umpama, jikalau" digunakan untuk menggugat takdir, agak mirip dengan point pertama namun ini lebih menentang takdir/ketentuan Allah. Ini haram hukumnya. Dalilnya QS. Al-Imran [3] : 168, seperti point pertama tadi. Di ayat yang lain yakni QS Al-Imran [3] : 156, kata orang-orang munafik, "Seandainya mereka tetap bersama kami, tentulah mereka tidak mati dan tidak terbunuh". Maka penggunakan kata "seandainya" dalam rangka menentang ketentuan takdir, maka itu haram. Gunakan kata qadarullah (takdir Allah). Gunakan kata qadarullah untuk menstabilkan hati dari godaan syetan. Beriman kepada takdir merupakan salah satu rukun iman ke 6.
  3. Kata "seandainya, umpama, jikalau" untuk mengekspresikan penyesalan, kekecewaan dari sisi membuka kesedihan. Maka ini hukumnya haram, ini dilarang karena akan membuat sempit hati dan bisa membuka pinta syetan untuk memperdaya manusia. Dalilnya di hadist Nabi Shallallahu'alaihi wassalam, Bersemangatlah atas hal-hal bermanfaat bagimu. Minta tolonglah kepada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan, Seandainya aku lakukan demikian dan demikian". Tapi hendaklah engkau katakan, "Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi. Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syetan". (HR. Muslim)
  4. Kata "seandainya, umpama, jikalau" dipakai sebagai hujjah/alasan seseorang dalam berbuat maksiat, dia memakai kata itu dalam rangka membela diri dalam kemaksiatan atas dirinya. Ini haram hukumnya. Dalilnya QS Al-Anam [6] : 148, disini manusia menggunakan kata "seandainya" untuk membela diri kemaksiatan yang dia lakukan dengan menyerang balik Allah. Jelas ini merupakan kebatilan. Dalil lain dalam QS. Az-Zukhruf [43] : 20.
  5. Kata "seandainya, umpama, jikalau" digunakan dalam angan-angan atau cita-citanya, kata-kata ini sangat tergantung yang dicita-citakan. Jika cita-citanya baik maka baik. Jika cita-citanya buruk maka akan jadi buruk. Dalam hadist tentang kisah 4 orang, "Seandainya aku punya harta maka aku akan dermawan seperti fulan". Ini angan-angan yang bagus, tapi ada juga orang berandai-andai dalam hal buruk. Contoh, "Jikalau aku bla bla bla maka aku akan bla bla bla (dalam hal buruk)". Kesimpulan, hukumnya bisa boleh bisa haram. Rasulullah menganjurkan berandai-andai atau bercita-citalah dalam hal baik dengan niat yang baik agar mendapat pahala yang baik pula. Melarang jika sebaliknya bercita-cita buruk maka akan mendapat dosa.
  6. Kata "seandainya, umpama, jikalau"  sebagai berita saja, maka ini diperbolehkan. Contoh, "Seandainya aku hadir dalam majelis maka aku akan mendapat faedah".  Maka penggunaan kata "seandainya" di sini diperbolehkan karena mengambarkan kebaikan (majelis yang berfaedah/manfaat).
Kesimpulan : Maka berhati-hatilah menggunakan kata "seandainya, umpama, jikalau", gunakan pada tempatnya.


Bab Larangan Mencela Angin

  • Keterkaitan bab ini ada hadist, dari Ubay bin Kaab RA, Rasulullah bersabda, "Janganlah kalian mencela angin, apabila kalian melihat apa yang tidak kalian sukai, maka berdoalah". Mencela angin adalah celaan terhadap yang mengaturnya yang menciptakannya yakni Allah. Karena angin itu berhembus berdasarkan perintah Allah. Jika ada kejadian-kejadian angin yang berhembus kencang walaupun sifat anginnya menghancurkan kita jangan sampai mencela angin.
  • Jangan mencela angin, apabila kalian melihat apa yang kalian tidak sukai lalu khawatir maka berdoalah. 
    • Doanya : Allahumma inna nas'asaluka min khairihaadihir rih, wa khairimaa fii haa, wa khairimaa umirot bih, wa na'audzubika min syarrihaadihir rih, wa syarriimaa fii haa, wa min syarriimaa umirot bih. 
    • Artinya : Ya Allah aku mohon kepadaMu kebaikan angin ini, dan kebaikan apa yang ada di dalamnya, dan kebaikan apa yang ia diperintah dengannya, dan aku berlindung kepadaMu dari keburukan angin ini, dan keburukan apa yang ada di dalamnya, dan keburukan apa yang ia diperintah dengannya. (HR. Tirmidzi No.2253)
  • Ada sejumlah faedah yang bisa dipetik dari hadist ini, yakni :
  1. Larangan untuk mencela angin karena angin adalah makhluk yang diperintah, mencela makhluk berarti mencela penciptanya yakni Allah..
  2. Perintah dan anjuran kembali kepada Allah dari keburukan ciptaan-ciptaan Allah. Bagi Allah semua ciptaannya baik namun bagi manusia yang menguntungkannya saja yang disebut baik.
  3. Angin terkadang diperintahkan dengan kebaikan (angin sepoi-sepoi), angin terkadang diperintah keburukan (angin kencang, tornado) bagi manusia.
  4. Bimbingan kepada kalimat yang benar. Jika ada perintah larangan, yang selalu dilakukan Rasulullah selalu memberikan solusi/arahan/bimbingan dan tidak meninggalkan umatnya tanpa penyelesaian..
  5. Jika ada sesuatu yang orang tidak suka dilihat maka mintalah perlindungan dari keburukan makhluk.

Kamis, 01 Agustus 2024

Quote : Perempuan

Oleh : Ustad Irfan Rizki

Perempuan itu kalau engga disibukkan dengan ilmu, ia akan disibukkan dengan perasaan-perasaannya, ia akan disibukkan dengan persangkaan-persangkaannya.

Maka perempuan harus disibukkan dengan ilmu, disibukkan dengan belajar, terus rutin menghadiri majelis ilmu, terus menulis nasehat-nasehat dan faedah-faedah, lalu disebarluaskan. 

Agar perasaan itu tidak mendominasi dalam hidupnya. Tapi yang memimpinnya adalah ilmu, dan yang menghantarkan kepada kebaikannya adalah amal.