Kamis, 15 Agustus 2024

Siroh Shahabiyah : Rabi'ah Al-Adawiyah - Perjalanan Dan Cinta Wanita Sufi

Kajian        : Kajian Muslimah Masjid Daarut Tauhiid Kebayoran
Sifat           : Online/Offline - Masjid Daarut Tauhiid Kebayoran
Pemateri    : Ustazah Erika Suryani Dewi
Tanggal      : Sabtu, 10 Agustus 2024

  • Rabi'ah Al-Adawiyah dikenal juga dengan nama Rabi'ah Al-Bashriyah. Nama lengkapnya adalah Rabi'ah binti Ismail Al-Adawiyah Al-Bashriyah. Dia adalah seorang sufi wanita yang dikenal karena kesucian dan kecintaannya terhadap Allah. Rabi'ah merupakan sufi wanita beraliran sunni pada masa dinasti Umayyah yang menjadi pemimpin dari murid-murid perempuan dan zahidah, yang mengabdikan dirinya untuk penelitian hukum kesucian bagi mereka yang sangat takut dan taat kepada Allah.
  • Rabi'ah Al-Adawiyah dijuluki sebagai "The Mother Of The Grand Master" atau "Ibu Para Sufi Besar" karena kezuhud-an-nya. Ia juga menjadi panutan para ahli sufi lain seperti Ibnu Al-Faridh Dzun Nuun Al-Mishri.
  • Rabi'ah dilahirkan di kota Basrah, Irak, sekitar abad ke 8 tahun 713-717M. Ia dilahirkan dari keluarga yang sangat miskin dan merupakan anak ke-4 dari 4 bersaudara, sehingga ia dinamakan Rabi'ah yang berarti anak ke-4. Ayahnya bernama Ismail, ketika malam menjelang kelahiran Rabi'ah, keadaan ekonomi keluarga Ismail sangatlah buruk sehingga ia tidak memiliki uang dan penerangan untuk menemani istrinya yang akan melahirkan. Beberapa hari setelah kelahiran Rabi'ah, Ismail bermimpi bertemu dengan nabi Muhammad SAW, dalam mimpinya beliau berkata kepada Ismail agar jangan bersedih karena anaknya, Rabi'ah, akan menjadi seorang wanita yang mulia, sehingga banyak orang akan mengharapkan syafaatnya. Sejak kecil Rabi'ah sudah dikenal sebagai anak yang cerdas dan taat beragama. Beberapa tahun kemudian, ayahnya, Ismail meninggal dunia kemudian disusul oleh ibunya sehingga Rabi'ah dan ketiga saudara perempuannya menjadi yatim piatu. Ayah dan ibunya hanya meninggalkan harta berupa sebuah perahu yang kemudian digunakan Rabi'ah untuk mencari nafkah. Rabi'ah bekerja sebagai penarik perahu yang menyebrangkan orang dari tepi sungai Dajlah ke tepi sungai yang lainnya. Sementara ke-3 saudara perempuannya bekerja di rumah menenun kain atau memintal benang.
  • Rabi'ah kecil harus hidup mandiri dan terasing. Ia pernah menjadi budak dan ketika bebas ia memilih menjalani hidup di tempat-tempat sunyi untuk bermeditasi. Sebuah tikar lusuh, sebuah periuk dari tanah, dan sebuah batu bata adalah harta yang ia miliki pada saat itu. Sejak itulah, Rabi'ah mengabdikan seluruh hidupnya pada Allah. Setiap waktu ia terus berdoa dan berdzikir. Hidupnya benar-benar semata untuk kehidupan akhirat sampai ia mengabaikan urusan dunianya.
  • Ketika kota Basrah dilanda berbagai bencara alam akibat kemarau yang panjang, Rabi'ah dan ketiga saudara perempuannya memutuskan untuk berkelana ke berbagai daerah utuk bertahan hidup. Dalam pengembaraannya, Rabi'ah terpisah dengan ke-3 saudara perempuannya sehingga ia hidup seorang diri. Pada saat itulah Rabi'ah diculik oleh sekelompok penyamun kemudin dijual sebagai hamba sahaya seharga 6 dirham kepada seorang pedagang. Pedagang yang membeli Rabi'ah sebagai hamba sahaya memperlkukannya dengan kejam, sehingga Rabi'ah harus sealu bekerja keras sepanjang hari.
  • Di antara kalimat hikmah Rabi'ah adalah : "Aku memohon ampun kepada Allah karena kurang jujur saat mengucap istigfar, istighfaarunaa yahtaaju ilal istighfaar".
  • Rabi'ah Al-Adawiyah hidup di jaman Imam Sufyan Ats-Tsauri. Beliau adalah wanita ahli ibadah, zuhud dan selalu khusyu. Beliau sering memberi penjelasan tentang hikmah.
  • Imam Sufyan Ats-Tsauri yang wafat 161H pernah mendapat pesan hikmah dari Rabi'ah : "Ya Allah, jika aku menyembahMu karena takut neraka bakarlah aku di dalammya. Dan jika aku menyembahMu karena hanya mengharap syurga, campakkanlah aku darinya. Tetapi, jika aku menyembahMu demi Engkau semata mengejar ridhaMu, janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajahMu yang abadi kepadaku".
  • Rabi'ah secara tidak langsung menyebarkan cara beriman kepada Allah yang lebih mengedepankan hubungan antara individu dan Rabbnya. Alih-alih menginginkan imbalan dengan adanya syurga atau ketakutan akan neraka, Rabi'ah Al-Adawiyah lebih memperlihatkan makna dalam beribadah yang dilakukan pada perjalanan spiritualitasnya yang digambarkan pada cintanya kepada Allah. Akan tetapi meskipun kisah hidup Rabi'ah Al-Adawiyah sering dijadikan contoh keteladanan dalam beribadah, ajaran sufisme yang dicontohkan justru masih awam dan belum jamak ditemukan pada masyarakat khususnya Indonesia.
  • Rabi'ah sebagai ahli ibadah yang konsisten hingga akhir hayatnya. Beliau wafat di usia 80 tahun, di tahun 180H. Smoga Allah merahmati beliau dan kita semua yang meniti jalan kebenaran menuju ridha Allah. Aamiin yra.

Sumber : PDF Kajian Muslimah Masjid Daarut Tauhiid, Kebayoran