Jumat, 08 Mei 2026

Silsillah Ilmiyyah 7 : 25 - Buah Beriman dengan Kitab-kitab Allah

Buah Beriman dengan Kitab-kitab Allah.

Diantara buah beriman dengan kitab-kitab Allah yang bisa kita petik adalah:

1. Mendapatkan keutamaan-keutamaan beriman. Diantaranya:
⑴ Hidayah di dunia
⑵ Keamanan di akhirat
⑶ Masuk ke dalam surga
⑷ Dan lain-lain
Karena beriman dengan kitab Allah adalah bagian dari mewujudkan keimanan. 

2. Semakin mengetahui dan menyadari perhatian Allah dan kasih sayang-Nya kepada makhluk. Semakin mencintai-Nya karena menurunkan kepada kita kitab yang berisi petunjuk dan cahaya supaya kita tenang di dunia dan bahagia di akhirat. 

Kita tidak dibiarkan tersesat dan terombang-ambing dengan hawa nafsu dan syahwat. Dan bagi yang ingin melihat kebesaran nikmat Allah ini silakan dia melihat orang-orang yang hidup tanpa berpegang dengan kitab Allah; mereka dalam keadaan resah, bimbang, bingung, dan tidak tahu kemana arah hidupnya. 

3. Mengetahui hikmah Allah dan kebijaksanaan-Nya karena memberikan kepada setiap kaum syari’at yang sesuai dengan keadaan mereka. Dan Al-Qur’an sebagai kitab terakhir sesuai untuk semua umat di setiap tempat dan masa sampai hari kiamat. 

4. Mengetahui bahwa petunjuk Allah kepada manusia tidak terputus sampai hari kiamat. 

5. Semakin mencintai dan menghormati Al-Qur’an dengan memperhatikan adab-adab ketika membacanya. Demikian pula semakin mencintai orang-orang yang mencintai Al-Qur’an. 

6. Membenci amalan-amalan yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan orang-orang yang melakukannya. 

7. Membangkitkan semangat untuk bersungguh-sungguh mencari hidayah dari Al-Qur’an dengan membaca, menghafal, mempelajari, mentadabburi, mengamalkan, berhukum dengan Al-Qur’an, dan kembali kepada Al-Qur’an ketika terjadi perselisihan. 

8. Bersemangat untuk membela kitab Allah dengan menyebarkan aqidah yang benar tentangnya dan membongkar tuduhan dan keyakinan yang sesat yang ingin menurunkan kepercayaan terhadap Al-Qur’an dan menjauhkan umat dari Al-Qur’an. 

9. Bergembira dan bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya yang besar. 

الْحَمْدُ لِلَّه ِالَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ
Alhamdulillāh alladzī bini’matihi tatimmushshālihāt.

Dengan demikian kita sudah menyelesaikan Silsilah ‘Ilmiyyah yang ke-7 tentang Beriman Dengan Kitab-Kitab Allah. 

Semoga apa yang kita sampaikan bermanfaat dan bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Aamiin yra.

Selesai SI7

Kamis, 07 Mei 2026

Silsillah Ilmiyyah 7 : 24 - Penyimpangan-Penyimpangan dalam Hal Iman dengan Kitab-Kitab Allah

Penyimpangan-Penyimpangan dalam Hal Iman dengan Kitab-Kitab Allah. 

Diantara penyimpangan-penyimpangan di dalam hal iman dengan kitab-kitab Allah: 

1. Mengingkari keseluruhan atau sebagian kitab-kitab Allah meskipun hanya 1 huruf. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً بَعِيداً 

“Dan barangsiapa yang kufur kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir, maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang jauh.” (QS. An-Nisa:136) 

Berkata ‘Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, 

مَنْ كَفَرَ بِحَرْفٍ مِنَ الْقُرْآنِ أَوْ بِآيَةٍ مِنْهُ فَقَدْ كَفَرَ بِهِ كُلِّهِ 

“Barangsiapa yang kufur atau mengingkari satu huruf dari Al-Qur’an atau satu ayat darinya maka sungguh dia telah kufur atau mengingkari keseluruhannya.” (Atsar ini dikeluarkan oleh Ath-Thabari di dalam tafsirnya) 

2. Mendustakan kabar-kabar yang ada di dalam kitab-kitab tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

وَالَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُواْ عَنْهَا أُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ 

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka sombong merekalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-A’raf:36) 

3. Melecehkan dan mengolok-olok. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ 

“Katakanlah, "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian mengolok-olok? Janganlah kalian minta udzur, sungguh kalian telah kufur setelah keimanan kalian.” (QS. At-Taubah:65-66) 

4. Membenci apa yang ada di dalam kitab-kitab tersebut berupa petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ 

“Yang demikian karena mereka membenci apa yang Allah turunkan maka Allah membatalkan amalan-amalan mereka.” (QS. Muhammad:9) 

Apabila seseorang membenci Al-Qur’an yang di dalamnya ada petunjuk meskipun dia mengamalkannya maka dia telah kufur. 

5. Meninggalkan Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

وَقَالَ الرَّسُول ُيَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا 

“Dan Rasul berkata, "Wahai Rabb-ku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an sesuatu yang ditinggalkan.” (QS. Al-Furqan:30) 

Para ulama menjelaskan bahwa meninggalkan Al-Qur’an mencakup: 

• Tidak mau mendengarkannya.
• Tidak beramal dengannya.
• Tidak berhukum dengannya.
• Tidak mentadabburinya.
• Dan juga tidak berobat dengan Al-Qur’an baik untuk penyakit hati maupun penyakit badan. 

6. Ragu-ragu dengan kebenaran Al-Qur’an.
7. Berusaha untuk mengubah Al-Qur’an baik lafazh maupun maknanya. 

Bersambung

Rabu, 06 Mei 2026

Silsillah Ilmiyyah 7 : 23 - Hukum Membaca Kitab-kitab Sebelum Al-Qur’an (Seperti Taurat dan Injil) yang Telah Diubah

Hukum Membaca Kitab-kitab Sebelum Al-Qur’an (Seperti Taurat dan Injil) yang Telah Diubah. 

Para ulama menjelaskan bahwa hukum membacanya ada 2: 

⑴ HARAM
Apabila maksudnya adalah mencari petunjuk di dalam kitab-kitab tersebut seakan-akan tidak mencukupkan dirinya dengan Al-Qur’an. 

Karena Allah telah mengabarkan bahwa kitab-kitab tersebut sudah diubah, sudah tercampur antara yang haq dan yang bathil.
- Yang bathil jelas kita tinggalkan.
- Adapun yang haq, yang selamat dan tidak diubah maka Al-Qur’an yang dijaga oleh Allah dari perubahan telah mencukupi kita. 

Tidak ada kebaikan yang kita butuhkan di dalam agama kita kecuali sudah diterangkan di dalam Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَىٰ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ 

“Apakah tidak mencukupi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu sebuah kitab yang dibacakan atas mereka? Sesungguhnya di dalamnya ada rahmat dan peringatan bagi kaum yang beriman.” (QS. Al-‘Ankabut:51) 

Dari Jabir Ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Umar Ibnu Khattab radhiyallaahu ‘anhu mendatangi Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam dengan membawa sebuah kitab yang dia dapatkan dari sebagian Ahlul Kitab kemudian membacakannya kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam. Maka Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam marah seraya berkata, 

"Apakah engkau bingung di dalam agamamu, wahai putra Al-Khattab? Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku telah mendatangi kalian dengan sesuatu yang putih bersih. Janganlah kalian bertanya kepada mereka (yaitu Ahlul Kitab) tentang sesuatu karena mungkin mereka mengabarkan kepada kalian dengan kebenaran kemudian kalian mendustakannya atau mereka mengabarkan yang bathil kemudian kalian membenarkannya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa masih hidup niscaya tidak ada pilihan baginya kecuali mengikuti aku.” (Hasan HR. Imam Ahmad) 

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah menyebutkan di dalam Shahih Bukhari, ucapan ‘Abdullah Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Beliau mengatakan, “Bagaimana kalian bertanya kepada Ahlul Kitab tentang sesuatu sedangkan kitab kalian yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam lebih baru?" Kalian membacanya dalam keadaan bersih tidak tercampuri dan Allah telah mengabarkan kepada kalian bahwa Ahlul Kitab telah mengganti kitab Allah dan mengubahnya. Dan menulis kitab dengan tangan-tangan mereka dan mereka berkata, "Ini adalah dari sisi Allah dengan tujuan menjualnya dengan harga yang sedikit. Bukankah ilmu yang datang kepada kalian telah melarang kalian untuk bertanya kepada mereka? Tidak demi Allah, kami tidak melihat seorang pun dari mereka yang bertanya kepada kalian tentang apa yang diturunkan kepada kalian.” 

Dikhawatirkan apabila seseorang membaca kitab-kitab tersebut akan membenarkan yang bathil atau mendustakan yang benar atau menjadi tersesat dan terfitnah agamanya. 

⑵ BOLEH
Boleh hukumnya apabila dia:
• Termasuk penuntut ilmu atau orang yang berilmu dengan Al-Qur’an dan Hadits.
• Kuat keimanannya, dalam ilmu agamanya, khususnya tentang masalah ‘aqidah, tauhid dan lain-lain.
• Dan tujuannya adalah ingin:
✓Membantah Ahlul Kitab.
✓Menerangkan penyimpangannya.
✓Menjelaskan pertentangan yang ada di dalam kitab tersebut.
✓Menunjukkan keistimewaan Al-Qur’an.
✓Menyingkap syubhat mereka.
✓Dan juga menegakkan hujjah atas mereka. 

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhum, bahwasanya orang-orang Yahudi datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, kemudian mereka menyebutkan bahwa seorang laki-laki dan wanita di antara mereka telah berzina. Maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, "Apa yang kalian temukan di dalam Taurat tentang masalah hukum rajam?" Mereka berkata, "Kami akan membuka aib-aibnya dan mereka akan dicambuk." 

- Maksudnya mereka mengingkari adanya ayat tentang rajam di dalam Taurat.
Kemudian ‘Abdullah Ibnu Salam radhiyallahu ‘anhu berkata, "Kalian telah berdusta, sesungguhnya di dalam Taurat ada ayat rajam."
Kemudian mereka mendatangkan Taurat dan membukanya. Salah seorang diantara mereka meletakkan tangannya di atas ayat rajam."

- Maksudnya menutupi.
Kemudian membaca ayat sebelumnya dan setelahnya kemudian ‘Abdullah Ibnu Salam berkata, "Angkatlah tanganmu!" Maka dia mengangkat tangannya, maka di dalamnya ada ayat tentang rajam. Mereka berkata, "Dia telah benar, wahai Muhammad, di dalamnya ada ayat tentang rajam." Maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menyuruh untuk merajam keduanya, kemudian keduanya dirajam. Berkata ‘Abdullah Ibnu Salam, "Maka aku melihat laki-laki tersebut memiringkan badannya ke arah wanita tersebut ingin melindunginya dari batu." (HR. Bukhari dan Muslim) 

Oleh karena itu, para ulama menulis kitab-kitab yang membantah Ahlul Kitab, dan membawakan di dalamnya beberapa nash dari kitab-kitab yang ada di tangan mereka sendiri, seperti: 

• Ibnu Hazm, di dalam kitabnya Al-Fashlu Fil Milali Wal Ahwai Wan Nihali.
(الفصل في الملل والأهواء والنحل)
• Abu ‘Abdillah Al-Qurthubiy, di dalam kitabnya Al-I’lamu Bima Fi Dinin Nashara Minal Fasadi Wal Awhami Wa Izh-aru Mahasinil Islami.
(الإعلام بما في دين النصارى من الفساد والأوهام وإظهار محاسن الإسلام)
• Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di dalam kitabnya Al-Jawabush Shahihu Liman Baddala Dinal Masihi.
(الجواب الصحيح لمن بدّل دين المسيح)
• Ibnul Qayyim, di dalam Kitabnya Hidayatul Hayara Fi Ajwibatil Yahudi Wan Nashara
(هداية الحيارى في أجوبة اليهود والنصارى)
• Dan juga kitab-kitab yang lain. 

Bersambung

Senin, 04 Mei 2026

Silsillah Ilmiyyah 7: 22 - Beramal, Ridha Dan Berserah Diri Dengan Hukum-Hukum Yang Ada Di Dalam Kitab-Kitab Allāh

Beramal, Ridha Dan Berserah Diri Dengan Hukum-Hukum Yang Ada Di Dalam Kitab-Kitab Allah. 

Beramal, ridha dan berserah diri dengan hukum-hukum di dalam kitab-kitab tersebut, baik yang kita ketahui hikmahnya atau tidak. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا 

“Dan tidak pantas bagi seorang yang beriman laki-laki dan wanita, apabila Allah dan RasulNya sudah menetapkan sebuah perkara, kemudian mereka memiliki pilihan yang lain di dalam urusan mereka. Dan barangsiapa yang memaksiati Allah dan rasulNya, maka sungguh telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Ahzab:36) 

Dan Allah berfirman, 

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا 

“Maka demi Rabbmu, mereka tidak beriman sampai mereka menjadikan engkau wahai Muhammad sebagai hakim di dalam perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak menemukan rasa berat di dalam hati-hati mereka terhadap apa yang engkau putuskan dan mereka menerima dengan sebenarnya.” (QS. An-Nisa:65) 

Adapun hukum yang sudah dihapus, maka tidak boleh diamalkan, seperti:
• ‘Iddah 1 tahun penuh bagi wanita yang ditinggal mati suaminya. Sebagaimana di dalam surat Al-Baqarah ayat 240. Maka telah dihapus dengan ayat 234 dari Surat Al-Baqarah yang isinya bahwa:
✓ Masa ‘iddah wanita yang ditinggal mati suaminya adalah 4 bulan 10 hari. Dan semua kitab yang terdahulu secara umum hukum-hukumnya telah dihapus dengan Al-Quran. Artinya, tidak boleh seorangpun baik jin maupun manusia mengamalkan hukum-hukum yang ada di dalam kitab-kitab sebelumnya, setelah datangnya Al-Quran. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا 

“Dan Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab (yaitu Al-Quran) dengan haq yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan muhaymin kitab-kitab sebelumnya. Maka hendaklah engkau menghukumi diantara mereka dengan apa yang Allah turunkan. Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang datang kepadamu bagi masing-masing dari kalian telah kami jadikan syariat dan juga jalan.” (QS. Al-Maidah:48) 

Bahkan Nabi Musa sekalipun yang diturunkan kepadanya Taurat harus berhukum dengan Al-Quran, seandainya beliau masih hidup ketika Al-Quran turun. 

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, 

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي 

“Demi Zat yang jiwaku ada di tangannya, seandainya Musa hidup, niscaya tidak ada pilihan baginya kecuali mengikuti aku.” (HR. Ahmad dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albaniy rahimahullah) 

Oleh karena itu Nabi Isa ‘alayhissalam salam yang diturunkan kepadanya Injil di akhir zaman, ketika beliau turun akan berhukum dengan hukum Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam. 

Bersambung

Minggu, 03 Mei 2026

Silsillah Ilmiyyah 7 : 21 - Membenarkan Kabar-Kabar Yang Shahih Di Dalam Kitab-Kitab Allah

Membenarkan Kabar-Kabar Yang Shahih Di Dalam Kitab-Kitab Allah. 

Seperti kabar-kabar di dalam Al-Qur’an dan kabar-kabar yang ada di dalam kitab-kitab sebelumnya yang belum diubah. 

Maksudnya, wajib bagi orang yang beriman membenarkan: 

1. Kabar-kabar yang ada di dalam Al-Qur’an seperti:
✓ Kisah-kisah umat terdahulu.
✓ Kejadian-kejadian di hari kiamat.
✓ Sifat-sifat surga dan neraka.
✓ Dan lain-lain. 

2. Kabar-kabar yang ada di dalam kitab-kitab sebelumnya yang belum diubah. Dan barangsiapa yang mengingkarinya atau meragukannya maka sungguh dia telah kafir. 

Adapun kabar-kabar yang ada di dalam kitab Taurat dan Injil setelah terjadi perubahan pada sebagian isinya maka kabar-kabar tersebut ada 3 macam: 

a. Kabar yang datang pembenarannya di dalam agama Islam. 

Maka wajib bagi kita beriman dan membenarkannya, seperti kabar bahwa Allah menciptakan langit dan bumi dalam 6 hari, maka ini ada di dalam Perjanjian Lama Keluaran Pasal 31 Ayat 17. Dan Allah sebutkan di dalam Al-Qur’an di dalam firman-Nya, 

(إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ) 

“Sesungguhnya Rabb kalian Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam 6 hari.” (QS. Al-A’raf:54) 

b. Kabar yang datang pengingkarannya di dalam agama Islam. 

Maka wajib bagi kita mendustakannya dan menolaknya, seperti kabar di dalam kitab Taurat yang berisi sifat yang tidak layak bagi Allah dan sifat yang tidak layak bagi sebagian nabi, sebagaimana telah berlalu penjelasannya. 

c. Kabar yang tidak ada pengingkaran maupun pembenarannya di dalam agama Islam. 

Maka kita tidak membenarkan dan tidak mendustakan seperti sebagian perincian yang ada di dalam Taurat yang sekarang, terhadap kisah-kisah yang asalnya ada di dalam Al-Qur’an, sebagaimana disebutkan di dalam Kejadian Pasal 7 ayat 17 bahwa banjir besar di zaman Nabi Nuh ‘alayhissalam terjadi selama 40 hari. Dan perincian ini tidak disebutkan di dalam agama kita. 

Kita tidak membenarkan karena mungkin itu termasuk yang ditambah dan diubah dan kita tidak mendustakan karena mungkin itu termasuk wahyu. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, 

لا تصدقوا أهل الكتاب ولا تكذبوهم ، وقولوا : آمنا بالله وما أنزل إلينا 

“Janganlah kalian membenarkan Ahlul Kitab dan janganlah kalian mendustakan mereka, akan tetapi katakanlah, "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami.” (HR. Bukhari) 

Bersambung

Jumat, 01 Mei 2026

Menemukan Rasa Yang Hilang Di Dalam Beribadah

Menemukan Rasa Yang Hilang Di Dalam Beribadah
Ustad. Abdullah Roy 
Jumat, 1 Mei 2026
Masjid Nurul Iman BlokM Square

● Hal-hal yang membuat kehilangan kekhusyukan:
1). Dosa dan maksiat. Manusia jika melakukan kesalahan maka akan timbul titik hitam di hatinya yang bisa menghilangkan kelezatan di dalam beribadah. 

2). Dia tidak berusaha tidak memahami apa yang dia baca ketika dzikir, tilawah, solat dan lain-lain. 

3). Kecintaan yang berlebihan terhadap dunia. Ketika hati seseorang dipenuhi dengan urusan-urusan dunia akhirnya tidak tersisa dari hatinya kecuali ruangan yang sangat sedikit untuk akhirat. 

■ Yang bisa mengobati penyakit-penyakit tersebut:
1. Bertaubat nasuha, taubat yang sejujur-jujurnya semurni-murninya karena ini yang bisa menjadi sebab bersihnya hatinya seseorang. Bertaubat dengan cara:
A. Sesorang telah menyesal karena telah melakukan dosa tersebut (harus ada penyesalan).
B. Dia tinggalkan maksiat tersebut.
C. Bertekad kuat di dalam hatinya untuk tidak melakukan dosa di masa yang akan datang. 

2. Senantisa memohon pertolongan Allah ketika kita melakukan ibadah, sekecil, serutin apapun, jangan merasa kita bisa melakukan ibadah tanpa bantuan Allah, karena Allah yang Maha Menolong. 

3. Mulai dari sekarang sedikit demi sedikit memahami dzikir, bacaan yang ada di dalam ibadah, dimulai dengan memahami bacaan solat dimulai dengan bacan yang rukun seperti arti QS. Al-Fatihah dan seterusnya. 

4. Berusaha mengurangi ketergantungan keterikatan dia dengan dunia. 

5. Ingin khusyu dalam ibadah maka ingatlah Allah dan lakukan ibadah yang sesuai dengan tuntunan yang diajarkan rasulullah, karena ibadah hanya diterima jika sesuai dengan tuntunanNya.

Ziarah Madinah : 25 - Ziarah Pemakaman Syuhada Uhud

Ziarah Pemakaman Syuhada Uhud. 

Syuhada Uhud mereka adalah para sahabat yang meninggal dunia ketika perang Uhud yang terjadi pada tahun 3H. 

Jumlah mereka kurang lebih 70 orang, diantaranya Hamzah Ibnu Abdul Muthalib, Mushaf Ibnu Umair, Hamdalah bin Amir yang dimandikan oleh malaikat, Abdullah bin Jahz, dan lain-lain. 

Dahulu Nabi Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam berziarah ke pemakaman tersebut dan mendoakan kebaikan bagi mereka. 

Berkata Uqbah Ibn Amir Radiallahuanhu, 

”Dahulu Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mendoakan kebaikan untuk orang-orang yang terbunuh ketika perang Uhud, setelah berlalu 8 tahun seperti orang yang mau berpisah dengan orang-orang yang hidup dan yang sudah meninggal dunia.” (HR. Al Bukhari dan Muslim) 

Tetapi sebagaimana pemakaman Baqi  tidak ada satupun dari kuburan yang ada di sana yang diketahui secara pasti dan cara kita berziarah pun sama dengan ketika berziarah ke pemakaman Baqi yaitu dengan mengucapkan salam dan mengingat kematian, demikian 3 pemakaman yang di ziarahi di kota Madinah. 

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berziarah kubur bagi wanita sebagian mengatakan boleh dan disunnahkan karena keumuman hadits tentang perintah berziarah kubur dan ada yang mengatakan bahwa hadist ini di khususkan dengan hadits lain yang berbunyi, 

”Sesungguhnya rasulullah shalallhu Alaihi wassalam melaknat wanita-wanita yang berziarah kubur.” (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Madjah dan dihasankan oleh Syaikh Albani Rahimahulullah) 

Mereka mengatakan hadits ini menunjukan bahwa wanita diharamkan berziarah kubur karena dosa apabila diancam dengan laknat menunjukan bahwa dosa tersebut adalah dosa besar. 

Dan pendapat kedua inilah yang dipilih oleh sebagian besar ulama Saudi Arabia diantaranya adalah guru-guru kami dan inilah pendapat yang lebih berhati-hati karena seorang wanita apabila dia tidak berziarah kerugiannya adalah meninggalkan perkara yang dianjurkan akan tetapi kalau dia berziarah maka ada kemungkinan dia terkena laknat sebagaimana dalam hadist. 

Alhamdulillah pintu-pintu kebaikan dan amal sholeh yang mendekatkan seseorang kepada Allah bagi seorang muslimah sangat banyak dan bermacam-macam. Silahkan dia memperbanyak dari amalan-amalan tersebut. Di sana ada puasa, sholat, membaca Al Quran, bersodaqoh, berbakti kepada orang tua, berbakti kepada suami, mendidik anak-anaknya dan lain-lain. 

Dan di kota Madinah tidak ada masjid yang memiliki keutamaan khusus bagi orang yang sholat di sana kecuali masjid Nabawi dan masjid Quba, adapun masjid Qiblatayn, masjid Al Ghamamah dan lain-lain maka tidak memiliki keutamaan khusus. 

Boleh seseorang mendatanginya dengan maksud melihat peninggalan sejarah dan bukan meyakini keutamaan khusus bagi orang yang sholat di sana. 

Dengan demikian kita sudah menyelesaikan Silsilah Ilmiyyah Ziarah Madinah, semoga Allah Subhana Wa Taala memudahkan kita Ziarah ke kota Madinah dan semoga Allah Subhana Wa Taala menerima amal ibadah kita semuanya. Wallahu ta’ala a’lam. 

Selesai

Silsillah Ilmiyyah 7 : 20 - Kitab Al-Quran (Bagian 6)

Kitab Al-Qur’an Bagian 6. 

Diantara hak-hak Al-Qur’an:
3. Ketiga | Mentadabburinya
Allah telah menurunkan Al-Qur’an untuk dimengerti maknanya dan ditadabburi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ 

“Kitab yang Kami turunkan kepadamu berbarakah supaya mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang berakal mengingat.” (QS. Sad:29) 

Orang yang tidak mentadabburi Al-Qur’an maka ini menunjukkan kesesatan hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا 

“Apakah mereka tidak mentadaburi Al-Qur’an, ataukah di dalam hati-hati tersebut ada kunci-kuncinya.” (QS. Muhammad:24) 

Semakin seseorang banyak mentadaburi Al-Qur’an dan memahami maknanya maka akan semakin bertambah keimanannya, keyakinannya, dan kedekatannya kepada Allah. 

Semakin yakin tentang kebenaran agama ini dan semakin yakin bahwa Al-Qur’an adalah dari Allah Ta’ala. 

Oleh karena itu seyogyanya seorang muslim dan muslimah mempelajari bahasa Arab yang dengannya dia bisa memahami Al-Qur’an dan meluangkan waktunya untuk memikirkan dan mentadabburi ayat-ayat Allah, membaca tafsir-tafsir Al-Qur’an yang sesuai dengan akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti:
- Tafsir Muyyasar
Yang diterbitkan Kompleks Percetakan Al-Qur’an Raja Fahd di Madinah dan ini adalah Tafsir yang ringkas.
- Tafsir Ibnu Katsir
Untuk tafsir yang agak luas
- Dan mengikuti kajian-kajian yang membahas tentang Tafsir Al-Qur’an dengan pemahaman yang benar, pemahaman para sahabat dan para salaf. 

Dan Apabila seseorang ingin membaca terjemah Al-Qur’an di dalam bahasa Indonesia maka hendaklah dia berusaha untuk memilih terjemah yang paling bagus yang sesuai dengan pemahaman yang benar, seperti:
- Terjemah Al-Qur’an dalam bahasa Indonesia yang dicetak oleh Kompleks percetakan Al-Qur’an Raja Fahd di kota Madinah. 

Dan perlu dia mengetahui bahwasanya tidak ada terjemah yang tidak memiliki kekurangan karena terjemah adalah amalan manusia. 

4. Keempat | Mengamalkannya
Al-Qur’an tidaklah diturunkan hanya sekedar dibaca dengan tartil dan tajwid, dihafal, dan ditadabburi, akan tetapi juga:
✓ Diamalkan
✓ Dilaksanakan perintahnya
✓ Dijauhi larangannya
✓ Dibenarkan kabar-kabarnya, baik di dalam masalah akidah, ibadah, akhlaq, muamalah dan lain-lain. 

Dahulu, para sahabat radhiyallahu ‘anhum selain membaca Al-Qur’an dan mengilmui, mereka juga mengamalkan. Berkata ‘Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, 

كَانَ الرَّجُلُ مِنَّا إِذَا تَعَلَّمَ عَشْرَ آيَاتٍ لَمْ يُجَاوِزْهُنَّ حَتَّى يَعْرِفَ مَعَانِيَهُنَّ وَالْعَمَلَ بِهِنَّ 

“Dahulu seseorang dari kalangan kami (yaitu para sahabat) apabila mempelajari 10 ayat maka dia tidak meninggalkannya sehingga mempelajari maknanya dan beramal dengannya."

Kalau kita tidak mengamalkan Al-Qur’an maka Al-Qur’an bisa menjadi hujjah atas kita. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, 

وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ 

“Dan Al-Qur’an menjadi hujjah untukmu atau atasmu.” (HR. Muslim) 

Menjadi hujjah untukmu yaitu apabila kita amalkan maka bisa bermanfaat bagi kita di hari kiamat. 

Menjadi hujjah atasmu yaitu apabila tidak kita amalkan maka akan memudharati kita di hari kiamat. 

Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang memiliki perhatian yang besar terhadap Al-Qur’an, baik membaca dengan tartil, menghafal, memuraja’ah, mentadabburi, maupun mengamalkannya. Aamiin Allahumma Aamiin. 

Bersambung