Rabu, 22 Januari 2025

Yang Berlalu Biarlah Berlalu

Kajian        : Kajian Dhuha Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran
Sifat           : Offline/Online - Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran
Pemateri    : Ustad Subhan Bawazier
Tanggal      : Ahad, 19 Januari 2025


Bergulirnya waktu, manusia tidak luput dari namanya ujian. Banyak orang yang tidak mampu ketika diberikan ujian. Padahal janji Allah kepada manusia bahwa Allah tidak mungkin mendzolimi manusia dengan takdir berat yang manusia tidak mampu menjalani. Allah tidak mungkin menguji manusia di luar batas kemampuannya. Tanggung jawab kita adalah membuktikan bahwa ujian itu memang tidak mendzolimi kita, jika kita sampai merasa terdzolimi dengan ujian takdir yang Allah berikan maka ada yang salah dalam keseharian kita, kita, jangan-jangan kita orang yang nyaman dengan maksiat dan dosa, jangan-jangan kita tidak bisa membedakan Al-Maunnah (pertolongan Allah) dan Istiraj (kenikmatan semu yang sejatinya murka Allah).

Ujian yang berat itu ujian orang-orang sholeh. Dunia tempat bercocok tanam untuk akhirat sehingga memang tidak ada yang bercocok tanam kecuali merasakan kelelahan dan keletihan. Tiada kelezatan yang kita rasakan kecuali ketika dia melalui kesusahan dan keletihan.

Sikap orang berilmu ketika Ramadhan bahwa Ramadhan berkaitan dengan pahala yang banyak, mereka mempersiapkan berjuang di Ramadhan dengan kebaikan 11 bulan yang mereka lakukan. Maksudnya 11 bulan sebagai modal dan masuk Ramadhan sehingga dapat beribadah dengan khusyu. Sedangkan kita malah terbalik, Ramadhan sebagai modal untuk 11 bulan lainnya dengan harapan bulan-bulan lainnya kita dapat berbuat baik seperti ketika Ramadhan. Padahal syariatnya mempersiapkan diri ke bulan yang mulia (Ramadhan) karena tidak semua orang Allah panggil untuk bertemu Ramadhan. Banyak yang orang tidak tahu bahwa Ramadhan adalah bulannya umat yang di dalamnya begitu banyak kebaikan  seperti bulan Al-Quran, bulan yang ada Lailatul Qadr, bulan yang kita berbuat baik maka pahala berlipat ganda (1 kebaikan dibayar 10 dan 10 itu dibayar 700 kali lipat). Karena Allah mengatakan, "Hai orang yang beriman" berarti tanggung jawab kita untuk merapihkan iman dalam rangka masuk dalam rangka ritual bulan ibadah tersebut. Mari perbaiki diri, yag berlalu biarlah berlalu, persiapkan diri ke depannya lebih baik lagi.

Biasanya orang bisa terjebak keburukan dalam keseharian yang dia lakukan karena tidak merasa rontok dan gugur ke-Islam-annya. Kita harus mengetahui hal-hal yang membatalkan ke-Islam-an. Salah satu hal yang paling Allah suka yakni manusia yang memiliki bekas pada ibadah yang dia lakukan. Allah SWT mengatakan, "Setiap ibadah anak Adam kembali kepada pelakunya." Mau baik atau buruk semua berlaku untuk anak Adam, semuanya ada balasannya. Allah memerintahkan kita menangis jika mengingat dosa da jangan malah tersenyum/tertawa. Ulama menyampaikan hendaknya kita harus cek ke diri sendiri jangan-jangan kita berbuat syirik. Berawal dari riya (ibadahnya ingin dilihat), berawal dari sum'ah (ibadahnya ingin didengar), kemudian timbul ujub (takjub kepada diri sendiri), akhirnya menuhankan diri sendiri. Inilah syirik. Jangan terjebak oleh kesyirikan. Jauhi syirik karena dosa syirik tidak diampuni. Dalam QS. An-Nisa [4] : 116, artinya: "Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh, dia telah tersesat jauh sekali."

Yang mesti kita tinggalkan dari masa lalu kita, yakni:
  1. Toleransi yang berlebihan. Toleransi itu juga diatur Allah. Tidak menyelamati hari raya agama lain. Dalam QS. Al-Maidah [5] : 72, artinya: "Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam.” Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, “Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu."
  2. Terkadang kita terjebak di dalam pembatalan ke-Islam-an. Jika kita merasa kesulitan membutuhkan sesuatu, jangan meminta kepada selain Allah, namun mintalah langsung kepada Allah SWT, "Mintalah langsung maka Ku jawab." Nabi SAW bahkan membolehkan kita ber-tawassul yakni dengan perantara melalui orang-orang sholeh yang masih hidup, contoh meminta didoakan oleh orangtua, meminta dokter untuk merekomendasikan obat, asalkan ber-tawassul dengan kalimat-kalimat Allah.
  3. Orang yang tidak mengkafirkan orang kafir. Kadang kita merasa tidak enak untuk mengatakan bahwa orang kafir adalah kafir, padahal sesungguhnya memang mereka kafir. Jika kita enggan mengatakan bahwa orang kafir adalah kafir, dikhawatirkan ajaran kita dan mereka tercampur dengan kita, mengatakan bahwa mereka kafir sebagai pembeda. Jangan gampang terwarnai untuk mengiyakan kepada mereka yang berbuat kufur atau syirik. Dalam QS. Al-Baqarah [2] : 256, artinya: "Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui."
  4. Orang yang berkeyakinan bahwa ada kebenaran selain yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Jangan terjebak dengan apa yang tidak dicontohkan Rasulullah SAW (bidah). Mengajarkan manusia untuk menyembah Allah dan bagaimana cara beribadah. Jadikan Rasulullah SAW sebagai uswatun hasannah.
  5. Orang yang membenci sebagian yang dibawa oleh Rasulullah SAW walaupun orang tersebut melaksanakan syariat juga. Mereka memilih-milih dalil. Orang munafik melakukan ibadah tidak memakai contoh Rasulullah.  Dalam QS. Munafiqun [63] : 1, artinya: "Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Muhammad), mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa engkau adalah Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah menyaksikan bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta."
  6. Membenci sebagian dari yang dibawa Rasulullah SAW. Kadang orang seperti itu mengambil sunah yang enak-enaknya saja sementara yang tidak cocok baginya mereka membuangnya.
  7. Suka menghina sesuatu yang dibawa Rasulullah SAW. Dalam QS. Al-Mutafifin [83] : 29-30, artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang dahulu menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka (orang-orang yang beriman) melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya"
  8. Berobat dengan cara yang haram. Jangan berobat dengan cara yang haram. Jangan terkecoh pengobatan sihir yang dilabelin agama.
  9. Menolong orang kafir untuk menghadapi orang Islam. Sebaiknya tidak dilakukan karena mendzolimi orang Islam lain ancamannya Islam-nya batal. Dalam QS. Al-Maidah [5] : 51, artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia/pemimpin(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia/pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."
  10. Orang terkadang tidak sadar berpaling dari agama Allah karena tidak mau belajar sementara syurga dimasuki dengan ilmu.