Rabu, 13 November 2024

Siroh Shahabiyah : Hafsah Binti Sirin - Ahli Fiqih Yang Gemar Mengingat Kematian

Kajian        : Kajian Muslimah Masjid Daarut Tauhiid Kebayoran
Sifat           : Online/Offline - Masjid Daarut Tauhiid Kebayoran
Pemateri    : Ustazah Erika Suryani Dewi
Tanggal      : Sabtu, 9 November 2024

  • Hafsah binti Sirin merupakan seorang ulama perempuan dari kalangan tabi'in. Beliau salah satu perempuan yang banyak meriwayatkan hadist. Namun sayangnya masih minim ditemukan referensi tentang Hafsah binti Sirin. Ulama hadist perempuan ini memiliki rekam jejak kisah yang menyedihkan.
  • Hafsah binti Sirin dilahirkan pada tahun 31H pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan. Ayahnya adalah seorang budak sahabat Anas bin Malik yang telah dibebaskan. Singkat kisah, ayah Hafsah semula dijual temannya kepada khalifah Khalid bin Walid. Kemudian Khalid menjualnya kepada sahabat Anas bin Malik, lantaran kebaikan Anas bin Malik, Sirin dibebaskan dan diperbolehkan kembali kepada keluarganya.
  • Walaupun ayah Hafsah seorang budak, akan tetapi dia memiliki ibu sebagai seorang ulama terkemuka pada saat itu, namanya Shafiyyah. Ibu Hafsah pandai memahami ilmu ke-Islam-an, lantaran belajar kepada sahabat Abu Bakar RA. Dan dia bisa belajar karena dulu pernah menjadi budak sahabat Abu Bakar RA. Perjalanan keilmuan Shafiyyah (ibu Hafsah) tidak berhenti pada sahabat Abu Bakar RA. Di kala Abu Bakar sudah tiada, Shafiyyah melanjutkan belajarnya kepada putri Abu Bakar yaitu Aisyah RA. Melihat ketekunan Shafiyyah, ia pun berhasil mewariskan ilmunya kepada putrinya yang bernama Hafsah.
  • Sejak kecil Hafsah sudah memiliki ketekunan belajar dan kecerdasan seperti ibunya. Usia 12 tahun Hafsah sudah mampu menghapal Al-Quran bahkan menguasai semua qiraat. Setelah itu Hafsah juga memulai untuk belajar hadist. Pada saat itu, Hafsah tinggal di Basrah, aktivitasnya ialah mengatur halaqah untuk siswanya yang lumayan besar jumlahnya. Karena pengetahuannya yang mendalam tentang keilmuan hadist, serta aspek praktis hukum dari tradisi Islam, menjadikan ia memiliki murid yang banyak. Bahkan muridnya tidak hanya kaum perempuan, akan tetapi juga kaum laki-laki.
  • Pendapat Ulama Tentang Hafsah :
    • Pada kitab Tahdzib Al-Kamal menceritakan bahwa seorang Ilyas bin Muawiyyah juga pernah berkata tentang Hafsah. Ilyas mengaku tidak pernah bertemu dengan yang lebih ia sukai kecuali Hafsah. Hal ini yang disukainya maksudnya ialah mengagumi keilmuan ulama perempuan ahli hadist yang bernama Hafsah ini. Ilyas bin Muawiyyah adalah seorang tabi'in terkenal yang berkomentar tentangnya "Saya tidak bertemu  dengan seorang yang lebih muliakan darinya." Cukup dengan pengakuan dari Ilyas itu menjadikannya junjungan para tabi'in perempuan di jamannya.
    • Pada masanya, tidak ada ulama perempuan yang mampu menandinginya dalam fiqih dan ilmu pengetahuan. Ialah Hafsah binti Sirin Al-Anshariyah Al-Bashriyah, perempuan ahli fiqih, yang biasa dipanggil Ummu Hudzail, dan dia adalah saudara perempuan dari seorang tabi'in terkemukka, Muhammad Sirin (Ibnu Sirin).
    • Selain itu, Hasan Al-Basri pernah mengungkapkan kesukaan atau kekagumannya juga kepada Hafsah. Bahkan tidak hanya keilmuan hadist akan tetapi juga dengan hapalan Al-Quran serta kemampuannya menguasai semua qiraat pada usia 12 tahun.
    • Selanjutnya pendapat dari Ibnu Hibban pada kitab Al-Tsiqat. Ibnu Hibban mengakui bahwa Hafsah adalah seorang Muhaddistsin perempuan sekaligus ahli di bidang hukum. Keilmuan ini bisa terbilang didapatkan dari sahabat Anas bin Malik.
    • Imam An-Nawawi mengatakan, "Anak-anak Sirin semuanya para rawi yang tsiqah." Hafsah tumbuh dalam rumah yang mulia. Ia sudah hapal Al-Quran ppada usia 12 tahun. Sejumlah sahabat dan shahabiyah pernah menjadi guru Hafsah. Di anataranya Anas bin Malik, Ummul Mukminim Aisyah dan Ummu Athiyyah Al-Anshariyyah.
    • Kemudian pendapat lain datang dari seorang mufassir perempuan bernama Zainab binti Yunus. Ia pernah mengutip ucapan Syeikh Muhammad Akram Nadwi tentang Hafsah yang ditulis pada kitabnya yang berjudul Al-Muhaddist. Seperti ini, meskipun Hafsah terlahir dari orang-orang sebagai budak justru Hafsah binti Sirin ini memanfaatkan keadaannya untuk belajar dengan sungguh, hingga menjadi salah satu ulama terpenting pada masanya.
    • Karena kegigihan Hafsah binti Sirin dalam mengiatkan keilmuan hadist, lahirlah murid yang juga mengikuti jejak giatnya Hafsah, Baik itu perempuan maupun laki-laki, mereka adalah Ummu Athiyyah, Abu Al-'Aliya dan Salman bin 'Amir. Mereka semua melanjutkan jejak Hafsah dengan turut menyebarkan keilmuan hadist.
  • Adapun buah pemikiran Hafsah yang menarik sekarang adalah ia menegaskan bahkan sering mengingatkan pada muridnya bahwa pengetahuan itu untuk laki-laki dan perempuan, tidak ada standar gender dalam Islam.
  • Apalagi saat itu perempuan dipandang rendah dengan segala skeptis yang ada. Perempuan didiskreditkan atau dimarjinalkan, namun bukan berarti perempuan tidak memiliki hak untuk meningkatkan pengetahuannya. Semangat serta keberanian Hafsah binti Sirin dalam menyuarakan ilmu pengetahuan sungguh menjadi teladan bagi kita semua. Semoga kita bisa melanjutkan semnagat Hafsah hingga pada generasi Islam selanjutnya.
  • Hafsah juga mencari ilmu dari para tabi'in. Banyak tokoh tabi'in yang mengambil riwayat hadist dari Hafsah. Diantaranya adalah saudaranya sendrii Muhammad bin Sirin, Qatadah, Ayyub, IBnu Aun, Hisyam bin Hissan dan lainnya.
  • Diriwayatkan dalam kitab Sifatush Sofwah (4/24), Muhammad bin Sirin pernah berkata kepada muridnya, "Menghadaplah kalian semua pada Hafsah, dan bertanyalah kepadanya tentang bagaimana cara dia memahami permasalahannya itu (permasalahan yang bersangkutan dengan AL-Quran). Sebab, ia bagaikan orang yang telah meminum bahtera keilmuan yang ada di dalam Al-Quran."
  • Hafsah selalu mengisi hidupnya dengan ibadah, agama, kehormatan, harga diri, kemuliaan dan kebaikan. Ia mempunyai waktu khusus untuk memperbanyak beribadah. Ia dedikasikan kehidupannya yang mungkin tidak disamai oleh tokoh-tokoh zuhud di masanya untuk beribadah.
  • Suatu hari, seseorang bertanya kepada budak perempuan Hafsah perihal majikannya. Ia ditanya, "Bagaimana engkau melihat majikanmu, Hafsah?" Budak itu menjawab, "Ia seorang perempuan shalihah. Seakan-akan ia telah melakuakan sebuah dosa besar. Ia meangis sepanjang malam dan sholat."
  • Ia sangat menganjurkan ketaatan kepada Allah saat usia muda. Ini karena usia muda memugkinkan kekuatan untuk taat kepada Allah. Ia kerap berbicara kepada para pemudi-pemuda, "Wahai para pemuda! Ambillah (kesempatan) dari diri kalian saat kalian masih muda. Sebab, saya melihat aktivitas lebih memungkinkan di usia muda."
  • Sosok muslimah yang gemar mengingat kematian.
  • Selain rajin beribadah, Hafsah juga rajin berpuasa. Ia tidak pernah terlihat berbuka kecuali di dua hari Raya dan hari Tasyriq. Dikisahkan bahwa anaknya, Hudzail, mempunyai unta perah (unta banyak susunya). Ia selalu memberikan satu wadah susu untuk ibunya di pagi hari.
  • Sang ibu berkata kepadanya, "Wahai anakku! Sesungguhnya engkau tahu bahwa aku tidak meminumnya. Aku sedang berpuasa." Anaknya berkata, "Wahai ibuku! Sesungguhnya susu terbaik adalah yang masih berada di kantong susu unta. Berikan ini sebagau minuman kepada siapapun yang engkau inginkan!" Hafsah lebih memilih berpuasa karena mencari keridhaan Allah SWT. Ia memberikan susu itu kepada orang-orang faqir yang ada di sekitarnya.
  • Dengan berbagai kemuliaan yang dimiliki oleh Hafsah, ia pun dinilai sebagai salah satu tabi'in perempuan terbaik pada masanya. Salah seorang ahli hadist, Abu Daud mengatakan, "Dua pemimpin perempuan tabi'in, mereka adalah Hafsah binti Sirin dan Amrah binti Abdurrahman dan setelah mereka berdua adalah Ummu Darda."
  • Betapa banyak tokoh teladan dari sistem Islam. Mereka senantiasa menjaga ibadahnya kepada Allah. Menjauhkan diri dari hal-hal yang menyilaukan pandangannya dari Allah SWT. Mereka memahami bahwa dunia hanyalah persinggahan menuju kampung akhirat. Tidak ada hari tanpa ketaatan, tidak ada waktu tanpa ibadah. Itulah kesan mendalam kepada sosok mulia Hafsah binti Sirin. Semoga Allah merahmatinya. Semoga kita mampu mengikuti keteladanannya.
  • Jadilah manusia merdeka yang hanya menghamba kepada Allah SWT.

Sumber : PDF Kajian Muslimah Masjid Daarut Tauhiid, Kebayoran.