Jumat, 20 September 2024

Kitab Al-Mulakhkhash : Larangan Berprasangka Buruk Kepada Allah

Kajian        : Kajian Kitab Al-Mulakhkhash Fii Syarhi Kitab At-Tauhid
Karya         : Asy-Syaikh Al-'Allamah Prof. Dr. Shalih Al-Fauzan (Hafidzahullah)
Sifat           : Online/Offline - Masjid Nurul Iman Lantai 7 Blok M Square
Pemateri    : Ustad Muhammad Yahya
Tanggal      : Sabtu, 7 September 2024

  • QS. Ali-Imran [3] : 154, artinya : Mereka berprasangka kepada Allah SWT dengan prasangka yang tidak benar seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata, "Kita itu tidak mendapatkan pertolongan dan kemenangan sama sekali". Katakanlah (nabi Muhammad SAW), "Sesungguhnya segala keputusan itu milik Allah." 
  • "Kita itu tidak mendapatkan pertolongan dan kemenangan sama sekali". Kalimat ini dalam bentuk pertanyaan namun dalam bentuk nafian. "Sesungguhnya segala keputusan itu milik Allah." Kalau Allah sudah putuskan tidak ada yang bisa menggugatnya.
  • Keterkaitan ayat ini dalam kitab bab tauhiid adalah ada peringatan bahwa berprasangka baik terhadap Allah SWT termasuk konsekuensi dalam bertauhiid kepada Allah. Jadi ketika seseorang bertauhiid, keharusannya adalah berprasangka baik kepada Allah apapun keaadaannya dan yang ia dapatkan. Para nabi dan rasul pun kadang mendapatkan kemenangan kadang kekalahan padahal mereka utusan Allah. Semua itu adalah kehendak Allah SWT. Jadi ketika ada hal-hal yang tidak menguntungkan jangan protes. Orang yang beriman tidak memprotes, selalu berprasangka baik kepada Allah SWT, pasti dibalik itu ada kebaikan. Rasulullah memastikan, "Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya maka Allah akan uji dengan musibah." Dalam hadist yang lain, "Dahulu mereka para nabi dan rasul justru mereka senang jika mendapat bala, sebagaimana kalian senang mendapat anugerah." Berbeda dengan orang-orang munafik,  "Mereka berprasangka kepada Allah SWT dengan prasangka yang tidak benar seperti sangkaan jahiliyah."
  • Lanjutan QS. Ali-Imran [3] : 154, artinya : Mereka menyembunyikan di dalam hati-hati mereka apa yang mereka tidak tampakkan kepadamu. Begitulah orang-orang munafik, mereka menyembunyikan pengingkaran, kedustaan, tapi mereka tampakkan keimanan. Begitulah kemunafikan. Kemunafikan itu ketidaksesuaian apa yang ada di dalam hati dan ucapan. Kemunafikan ada dua :
  1. Kemunafikan dalam bentuk keyakinan. Pelakunya kekal di neraka, karena hakekatnya mereka adalah orang-orang kafir, seperti firman Allah, "Sesungguhnya orang-orang munafik itu berada di neraka paling bawah."
  2. Kemunafikan dalam bentuk perbuatan. Dalam hadist, kata Rasulullah, "Tanda orang munafik itu tiga, kalau bicara dusta, kalau berjanji ingkar, jika dipercaya berkhianat, apabila berselisih maunya menang sendiri." Kemunafikan dalam bentuk perbuatan ini tidak membuat pelakunya langsung disebut dengan "Munafik", dikatakan lebih berat daripada mengatakan "Kafir", tapi seolah-olah lebih ringan daripada "Munafik" padahal tidak. Misal, jika ada salah satu orang berbohong, berbohong memang salah satu ciri munafik tapi tidak dikatakan dia sebagai "Munafik". Menurut Rasulullah terkait dalam kemunafikan dalam bentuk perbuatan ini tidak menghukumi mereka yang melakukan perbuatan itu jika hanya salah satu sifat ciri sifat munafik sampai dia meninggalkannya. Jika ada salah satu sifat munafik itu dia tidak disebut dengan orang munafik namun disebut dengan salah satu sifat ciri tersebut (pembohong, pengingkar janji, pengkhianat), namun boleh mengatakan, misal, "Wahai kawan/saudara dalam dirimu ada satu sifat munafik (sebutkan misal pembohong), maka tinggalkan." Jangan mengatakan "Kamu munafik" sama dengan mengatakan "Kamu kafir", tidak boleh sembarangan mengatakan itu kepada orang lain. Barulah jika sifat tersebut dilakukan secara keseluruhan maka disebut dengan munafik tulen (yang cirinya berdasarkan hadist di atas).
  • Orang-orang munafik tersebut berprasangka buruk kepada Allah, selalu protes kepada ketetapan Allah, maunya selalu mendapatkan keberhasilan padahal keputusan tergantung Allah. Padahal cobaan-cobaan tersebut untuk menstabilkan iman, untuk beribadah kepada Allah. Orang yang beriman stabil, ketika ia mendapat anugerah lalu ia bersyukur itu baik baik baginya dan jika ia mendapatkan musibah lalu ia bersabar itu baik juga baginya. Rasulullah berkata, "Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman seluruhnya baik dan itu tidak dimiliki kecuali oleh orang yang beriman. Kalau ia mendapatkan anugerah ia bersyukur dan itu baik baginya, kalau ia mendapatkan musibah ia bersabar dan itu juga baik baginya." Hidup di dunia memang untuk diuji dan dicoba oleh Allah, "Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan untuk mengatakan kami beriman, kemudian tidak diuji." Ujian itu suatu keniscayaan (suatu kepastian), senang ataupun susah itu ujian. Kadang orang mengira kalau berbentuk kebahagian itu bukan ujian sedangkan bentuknya keburukan itu ujian, padahal tidak demikian. Penilaian umum manusia seperti itu namun sesungguhnya keduanya berupa ujian. Allah berfirman, "Manusia jika diuji oleh Tuhannya, Allah muliakan dia, Allah berikan kecukupan kenikmatan dan kemuliaan kepadanya dia bilang Allah sayang kepadaku. Apabila manusia diuji lagi dengan dibatasi rezekinya maka manusia akan mengatakan bahwa Allah merendahkanku." Ini menunjukkan bahwa kesenangan, anugerah, ujian, sebagaimana kesedihan, musibah itu merupakan ujian juga. Pembalasan yang sesungguhnya itu di akhirat, jika ada pembalasan kebaikan di dunia itu juga berbentuk ujian.
  • Kembali ke QS. Ali-Imran [3] : 154. Ucapan orang-orang munafik, "Kenapa kok kita tidak dikasih kemenangan." Itulah prasangka buruk mereka, mereka berprasangka buruk kepada Allah, mereka protes kepada Allah ketika mereka diberi kekalahan, musibah. Rasulullah menyampaikan "Seluruh urusan dan keputusan itu haknya Allah." Allah menyampaikan, "Mereka menyembunyikan pengingkaran, kedustaan di dalam hati-hati mereka yang tidak mereka tampakkan kepadamu wahai Muhammad SAW. Mereka berkata seandainya kita diberikan kemenangan diberikan pertolongan kita tidak akan terbunuh di sini." Ketika ditakdirkan kalah ada yang protes, Allah memerintahkan untuk membalas perkataan mereka, "Seandainya kalian berada di dalam rumah kalian (tidak ikut perang), maka orang-orang yang ditakdirkan mati itu akan keluar, mereka akan datang mendatangi tempat kematiannya (juga)." Peristiwa ini terjadi ketika Rasululah bermusyawarah bersama sahabatnya untuk menahan gempura orang-orang kafir Quraisy yang sebelumnya kalah dalam perang Badar pada tahun ke 2, pada tahun ke 3 mereka akan menyerang, diputuskan bentuk pertahanannya maju ke arah Uhud. Orang-orang munafik ini menggembosi padahal sudah diputuskan dan ketika banyak korban berjatuhan orang-orang munafik tersebut semakin menjadi-jadi lalu Allah pun memberikan teguran. Padahal kematian itu takdir Allah. 
  • Kematian merupakan transisi (perpindahan) alam dari alam dunia ke alam barzah. Sebagaimana transisi dari alam rahim ke alam dunia namanya kelahiran. Nanti ada transisi lagi dari alam barzah ke alam akhirat namanya kebangkitan. Kita manusia pasti mengalami 5 fase dari transisi itu. Lima fase tersebut :
  1. Manusia mengalami ketiadaan (manusia mengalami bukan apa-apa). Dalam QS. Al-Insan [74] : 1, artinya : "Bukankah telah datang suatu masa dimana saat itu manusia  bukan apa-apa." Pada alam arwah manusia saat itu manusia bukan apa-apa, dalam masa ini.
  2. Alam rahim, malaikat diutus Allah untuk meniupkan ruh, saat itu ditetapkan ajalnya, amalnya, rizkinya, apa dia bahagia, apa dia celaka, dan lain-lain.
  3. Alam dunia, ketika hidup di dunia manusia harus mencari bahwa manusia itu hidup untuk apa. Allah mengingatkan untuk beribadah kepada Allah. Allah memberikan akal beserta indera yang lengkap kepada manusia, diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk, diutus nabi rasul kita, diterangkan bahwa ujung manusia itu di syurga atau di neraka. Jangan sampai kita menjadi hamba Allah yang gagal setelah begitu banyak Allah memberi petunjuk kepada kita. Jangan seperti perkataan orang kafir dalam QS. An-Naba [78] : 40, artinya : "Duhai, seandainya saja aku tidak menjadi seonggokan tanah saja." Hal ini merupakan bocoran dari Allah kepada manusia yang masih hidup di dunia. Itu adalah ungkapan penyesalan yang diberikan nikmat oleh Allah dengan syurga dan disiksa oleh Allah dengan neraka itu manusia makanya diingatkan. Orang kafir menyesal, ia gagal menjadi manusia yang baik, lalu ia berangan-angan menjadi tanah saja supaya tidak diapa-apakan (tidak disiksa) ketika di akhirat. Maka janganlah kita seperti mereka, jangan menjadi manusia yang gagal. Kita sebagai manusia harus sadar diri bahwa kita hidup di dunia untuk menghamba untuk patuh kepada Allah SWT.
  4. Alam barzah, tempat manusia setelah kematian sampai nanti hari kiamat. Di alam barzah manusia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi jikalau sebelumnya (di alam dunia) tidak berbuat kebaikan seperti sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak soleh yang selalu mendoakan dirinya. Satu arah saja pemberian manfaat itu. Mereka yang sudah mati menerima manfaat-manfaatnya saja atas kebaikannya semasa hidup, yang sudah mati tidak bisa diminta manfaatnya. Hanya yang masih hidup di dunia bisa memberi manfaatnya (seperti mendoakan, sedekah atas nama mereka, kurban atas nama mereka, membadalkan haji, membadalkan umroh, dan lain-lain) kepada orang yang sudah meninggal namun tidak bisa sebaliknya. Kata Allah, "Seandainya mereka dengar (yang meninggal) mereka tidak bisa memenuhi permintaan kalian (yang masih hidup)." Orang mati itu salah satu dari dua (tidak bisa tiga!), kalau ia adalah orang yang baik ia akan mendapatkan nikmat kubur (diminta tidur kembali sampai hari akhir) dan jika ia adalah orang yang buruk ia akan mendapatkan siksa kubur.
  5. Alam akhirat, adalah tempat persinggahan terakhir, hanya ada dua, di syurga atau di neraka.
  • Kita sekarang berada di fase yang ke 3, siapkanlah dengan beribadah kepada Allah. Siap juga untuk menerima anugerah dengan cara : 
  1. Dengan cara bersyukur. 
  2. Lisan dibasahi dengan lisan dan bacaan-bacaan kepada Allah. 
  3. Menjaga anugerah-anugerah tersebut digunakan untuk taat kepada Allah. 
  4. Jangan sampai anugerah dicabut oleh Allah karena kecerobohan kita.
  • Di penghujung ayat QS. Ali-Imran [3] : 154, artinya : "Agar Allah SWT menguji apa yang ada di dalam dada-dada kalian dan agar Allah SWT membersihkan apa yang ada di dalam hati-hati kalian dan Allah SWT Maha Mengetahui apa yang ada di dalam hati." Jadi ujian-ujian itu ada agar manusia lebih baik. Apapun kejadiannya di dunia jangan sampai menimbulkan prasangka buruk kita kepada Allah.
  • Ada sejumlah faedah/hikmah dari ayat QS. Ali-Imran [3] : 154 :
  1. Barangsiapa yang berprasangka, bahwa Allah SWT membiarkan kebatilan itu selalu mengalahkan kebenaran selamanya. Berarti dia telah berprasangka buruk kepada Allah.
  2. Menunjukkan hikmah terkait kemenangan yang Allah berikan kepada kebatilan kadang-kadang. Rasulullah juga pernah kalah, tidak selalu menang terus menerus, terkadang menang terkadang kalah. Terkadang orang berfikir orang yang masuk di jalan Allah selalu mengalami kemenangan padahal menang kalah semua orang pernah mengalami, termasuk orang yang paling mulia yakni Rasulullah. Rasulullah pernah di Thaif dilempari batu sampai berdarah-darah, diejek, dihina. Ketika itu ada malaikat penjaga bukit diutus oleh Allah untuk mengujinya untuk menawarkan gunung untuk dilemparkan. Malaikat tahu di dalam hati Rasulullah menjadi sempit karena ucapan mereka, namun Rasulullah memilih untuk mendoakan mereka. "Allahummagfirli kaumi fainnahum naya'lamun." artinya : "Ya Allah, maafkan kaumku karena mereka tidak mengerti." Inilah yang diteladani kaumnya yakni kesabarannya. Rasulullah dipuji oleh Allah SWT, "Sesungguhnya engkau berada dalam akhlak yang agung."
  3. Menjelaskan betapa busuknya isi hati orang-orang munafik. Ketika dalam keadaan sulit barulah mereka menampakan kemunafikannya.
  4. Menetapkan takdir, bahwa takdir itu harus diimani. Bahwa Allah menetapkan takdir, menuliskan takdir 50.000 tahun sebelum Allah menciptaan langit dan bumi dan apa yang ditetapkan Allah tidak pernah berubah sama sekali.
  5. Wajibnya menyucikan Allah SWT dari hal-hal yang tidak patut.
  6. Wajibnya berprasangka baik terhadap Allah SWT.