Kajian : Kajian Buku "Umur Yang Kedua"
Karya : Ammi Nur Baits
Sifat : Offline/ Online - Masjid Nurul Iman Lantai 7 Blok M Square
Pemateri : Ustad Ammi Nur Baits
Tanggal : Sabtu, 30 November 2024
- Sekilas tentang para ulama, mereka punya karya-karya besar, seperti :
- Al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah, beliau menulis kitab Bulughul Maram, beliau meninggal di usia 79 tahun, sementara kitab Bulughul Maram kalau kita hitung wafatnya Ibnu Hajar dari tahun 852H sampai dengan sekarang 1446H (2024M) berarti sudah 594an tahun. Karyanya lebih panjang daripada umurnya.
- Imam An-Nawawi, termasuk ulama yang meninggal di usia muda yakni pada usia 45 tahun. tetapi walaupun meninggal pada usia 45 tahun beliau mempunyai karya yang banyak, di bidang fiqih ada, di bidang hadist ada, di bidang bahasa ada, dan banyak lagi. Karyanya banyak menjadi referensi dalam masalah seperti masalah hadist yang banyak kita kenal yakni hadist Arbain Nawawiyah. Ada kitab Riyadhus Shalihin yang hampir di setiap masjid kitab itu ada. Dalam masalah bahasa beliau punya Tahdzibul Asma Wal Lughat. Dalam masalah fiqih banyak sekali buku beliau yang menjadi referensi di Mahzab Syafiiyah. Beliau meninggal pada tahun 676H sehingga umur karyanya sampai dengan saat ini tahun 1446H (2024M) sudah 770an tahun.
- Imam Al-Bukhari ulama yang sering sekali dipakai hadist-hadistnya sebagai rujukan. Beliau meninggal pada umur sekitar 63 tahun, meninggal pada tahun 256H, jika kita hitung sampai dengan sekarang 1446H (2024M) maka karyanya sudah sekitar 1190an tahun.
- Imam Ahmad, ulama yang meninggal di usia 71 tahun, hidup sekitar 30tahun lebih dulu jaraknya ketimbang Imam Al-Bukhari jadi karyanya sudah sekitar 1220an tahun. Begitu pula dengan Imam Syafii dan lain-lainnya.
- Demikianlah para ulama, mereka memiliki karya yang umurnya lebih panjang daripada umurnya sendiri. Itulah kurang lebih gambaran dari "Umur Yang Kedua." Sepanjang karya itu dimanfaatkan oleh masyarakat maka sepanjang itulah mereka mendapatkan pahala. Orang yang beristirahat di alam kubur tapi amalnya tidak pernah putus. Kenapa dikatakan tidak pernah putus karena amal yang ketika masih hidup tidak ada jaminan amalnya diterima (amalnya tidak aman) karena bisa saja manusianya masih melakukan dosa lagi sehingga amalnya masih bisa dikurangi atau bahkan hilang. Atau bisa saja awalnya ikhlas lalu seiring berjalannya waktu keinginan ingin dipuji itu ada lalu dia sum'ah (melakukan amal perbuatan agar didengar orang lain sehingga mendapatkan pujian). Berbeda amalnya dengan amal orang yang sudah meninggal, amalnya tetap lestari lalu dimanfaatkan oleh kaum muslimin sehingga pahalanya tetap mengalir, orang yang telah meninggal tidak mungkin ingin dipuji karena sudah meninggal. Maka amal orang yang telah meninggal itu aman.
- Ada sahabat Rasulullah SAW yakni Abdullah bin Mas'ud pernah menyampaikan, "Tirulah orang yang sudah mati." Karena orang meninggal itu sholehnya sudah berlalu dan ketika mereka melakukan amal sholeh tidak mengharapkan pujian, berbeda dengan orang yang masih hidup yang sholehnya bisa bertahan hanya di awal namun kelamaan bisa ada perubahan.
- Cara Allah mencatat pahala hambanya yakni :
- QS. Yasin [36] : 12, artinya : "Sesungguhnya Kami yang menghidupkan orang mati, Kami catat semua yang telah mereka lakukan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan semuanya Kami kumpulkan dalam kitab (catatan amal) yang nyata," Menjelaskan tentang :
- Keyakinan orang musyrik bahwa Allah SWT tidak akan menghidupkan orang yang mati padahal tidak demikian, Allah SWT akan dan mampu menghidupkan orang yang sudah mati.
- Makna "bekas-bekas yang mereka tinggalkan" menurut Al-Hafidz Ibnu Katsir:
- Jejak kaki mereka ketika melangkah menuju ketaatan (menjadi pahala) atau ke maksiatan (menjadi dosa). Semakin jauh jarak anda semakin berat effort yang anda keluarkan ketika anda melakukan ibadah dan ketaatan, nilai pahalanya makin bagus. Hadist dari Jabir bin Abdillah RA, ada kampung yang cukup jauh dari masjid Nabawi yang dihuni oleh Bani Salimah, mereka ingin pindah supaya jaraknya tidak terlalu jauh, Rasulullah SAW lalu menyampaikan, "Wahai Bani Salimah, perjalanan dari rumah kalian ke masjid akan dicatat jejak-jejak kaki kalian." (HR. Muslim 1551 dan Ahmad 14940). Pahala dihitung sejarak darimana dia berniat, makin panjang jarak dia berniat semakin banyak pahala, begitu pula sebaliknya. Contoh kasus umroh yang berniat dari tanah air lebih besar pahalanya daripada mampir dulu ke tempat lain atau berniatnya dari Jeddah.
- Pengaruh dari amal yang kita kerjakan, maknanya lebih luas tidak sekedar jauh dekat dari jejak-jejak langkah kaki. Hadist dari Jabir bin Abdillah RA, Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang menghidupkan sunnah yang baik dalam Islam, kemudian diikuti oleh orang lain setelahnya maka dicatat untuknya mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Siapa yang menghidupkan tradisi yang jelek di tengah kaum muslimin, kemudian diikuti oleh orang lain setelahnya, maka dia mendapatkan dosa sebagaimana dosa orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun." (HR, Muslim 2398 dan Ahmad 19674, dan yang lainnya). Dalam hadist dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang mengajak kepada jalan petunjuk, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala setiap orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Siapa yang megajak kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa seperti dosa setiap orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun." (HR. Muslim 2674).
- Rasulullah SAW mendapat pahala ibadah umatnya.
- Rasulullah SAW adalah orang yang pertama kali mengajarkan semua ibadah kepada umatnya sehingga Rasulullah SAW mendapatkan pahala yang tidak pernah putus sepanjang ajarannya bertahan di muka bumi ini. Allah berfirman, QS. Al-Qalam [68] : 3, artinya : "Sesungguhnya kamu mememiliki pahala yang tidak pernah putus." Dapat disimpulkan bahwa Allah memberikan jaminan kepada Rasulullah SAW bahwa Rasulullah SAW mendapatkan pahala yang tidak akan putus. Setiap kaum muslimin yang beramal, maka Rasulullah SAW turut mendapatkan pahalanya. Sehingga mereka tidak perlu menghadiahkan pahala kepadanya, termasuk bacaan Al-Fatihah. Amalan ini sebaiknya dicegah karena termasuk membebani diri yang tidak disyariatkan.
- Mengawali maksiat, dosanya terus mengalir.
- Orang yang mengawali kemaksiatan, lalu ditiru oleh orang lain setelahnya maka dia akan menanggung dosa semua pelaku maksiat setelahnya. Demikianlah yang terjadi kepada anak Adam AS yang pertama kali melakukan pembunuhan, sehingga semua kasus pembunuhan sampai dengan yang terjadi sekarang dia harus menanggung beban dosa. Dari Ibnu Mas'ud RA, Rasulullah SAW bersabda, "Setiap jiwa yang terbunuh secara dzalim, maka putra Adam yang pertama kali membunuh saudaranya, dia harus menanggung dosa atau darah korban. Karena dia yang pertama kali melakukan pembunuhan." (HR. Bukhari 3335 dan Muslim 1677). Peristiwa pembunuhan itu ada dalam QS. Al-Maidah [5] : 27, namun nama anak Adam AS yang menjadi pelaku pembunuhan tidak disebutkan dimanapun.
- Ada 3 sebab dosa :
- Sombong
- Tamak
- Hasad
- Dapat kita tarik pelajaran bahwa Allah tidak hanya mencatat amal yang kita kerjakan namun Allah juga mencatat dampak dari amal yang kita lakukan.
- 10 Amalan Yang Pahalanya Tidak Pernah Putus (di buku halaman 40)
- Para penghuni kubur telah terputus untuk melakukan amal shaleh, mereka hanya bisa menunggu ditemani amal sholehnya ketika di dunia, namun ada amalan yang bisa terus mengalir, ini merupakan masa pensiun yang indah. Ada 10 amalan pahala yang tidak pernah putus walaupun manusianya sudah meninggal dunia.
- Walaupun ada 10 namun terkadang manusia tidak melalukannya dengan alasan belum menguasainya, maka hendaknya sesuatu yang tidak bisa dilakukan semuanya jangan tinggalkan semuanya. Minimal kerjakan yang bisa dilakukan. Karena hal ini sangat besar keutamaannya dan dapat menolong kita.
- Ada beberapa hadist disebutkan oleh Rasulullah SAW, yakni :
- Hadist dari Abu Hurairah RA, Rasulullah bersabda, "Apabila manusa mati maka seluruh amalnya terputus kecuali 3 amal : [1] Sedekah jariyah, [2] Ilmu yang bermandfaat dan [3] Anak sholeh yang mendoakannya." (HR, Muslim 1631)
- Hadist dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda, "Ada 7 amalan yag pahalanya tetap mengalir untuk seorang hamba setelah dia meninggal, padahal dia berada di dalam kuburnyya : [1] Orang yang mengajarkan ilmu agama, [2] Orang yang mengairkan sungai (yang mati), [3] Orang yang membuat sumur, [4] Orang yang menanam kurma, [5] Orang yang membangun masjid, [6] Orang yang memberi mushaf Al-Quran, dan [7] Orang yang meninggalkan seorang anak yang senantiasa memohon ampun untuknya setelah dia wafat." (HR. Al-Bazzar dalam Musnadnya 7289, Al-Baihaqi dalam Syaabul Iman 3449 dan lainnya, AL-Albani menilai hadist ini hasan).
- Hadist dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, "Di antara pahala mukmin yang akan tetap mengalir setelah kematiannya adalah [1] ilmu yang dia sebarkan, [2] anak sholah yang dia tinggalkan, [3] mushaf yang dia wariskan, [4] masjid yang dia bangun, [5] rumah untuk Ibnu Sabil (orang yang dalam perjalanan) atau [6] sungai yang dia alirkan, [7] sedekah hartanya yang dia keluarkan ketika masih sehat dan kuat, yang masih dimanfaatkan setelah dia meninggal." (HR. Ibnu Majah 249 dan dihasankan Al-Albani).
- Hadist dari Salman Al-Farisi RA, Rasulullah SAW bersabda, "[1] Berjaga di daerah perbatasan sehari semalam lebih baik daripada puasa dan tahajud selama satu bulan. Apabila dia wafat dalam petang tersebut, pahala dari amalnya ini tetap mengalir, demikian juga dengan rezekinya, dan dia aman dari fitnah." (HR. Muslim 5047) - (di buku halaman 61)
- Berikut amalan yang pahalanya terus mengalir berdasarkan hadist-hadist di atas :
- Mengajarkan ilmu yang bermanfaat. Yang dimaksud dengan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dapat mengantarkan seseorang mengenal agama dan Tuhannya. Isi agama itu amalan. Allah menyebut agama dengan kata Ad-Din sebagaimana Allah menyebut balasan dengan kata Ad-Din, contoh Hari Pembalasan bahasa Arabnya Yaumud Din, kenapa dikatakan dengan Yaumud Din karena hari pembalasan itu isinya adalah pembalasan terhadap amal. Kita diciptakan untuk itu, kita kenalin siapa pencipta kita dan kenali apa tugas kita, kalau sudah punya ini berarti kita sudah punya ilmu yang bermanfaat, mengenali siapa pencipta kita dan mengenali apa tugas kita. Itulah inti dari ilmu yang bermanfaat.
- Mengalirkan sungai yang mati. Maksudnya adalah membuat aliran pada sungai yang tertahan airnya agar bisa mengalir ke tempat pemukiman masyarakat sehingga bisa dimanfaatkan. Tidak mesti sungai namun bisa selokan. Bisa juga membuat pipa dari mata air dipipakan ke tempat pemukiman.
- Membuat sumur. Baik sumur gali maupun sumur bor. Akan mendapatkan pahala yang besar jika orang-orang mengambil airnya, seperti sumur di Madinah yang dibeli oleh Utsman yakni sumur Raumah.
- Menanam pohon kurma. Menanam pohon kurma karena usianya panjang sehingga bisa dimanfaatkan generasi setelahnya. Demikian pula orang yang menanam pohon yang bermanfaat lainnya akan menjadi sedekah baginya.
- Membangun masjid. Masjid adalah tempat yang paling dicintai Allah. Dalam hadist dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya, dan yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasarnya." (HR. Muslim 1560). Allah memuji masjid di dalam Al-Quran pada QS. An-Nur [24] : 36, artinya : "Bertasbihlah kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut namaNya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang." Orang yang membangun masjid akan memperoleh pahala dari setiap aktivitas kebaikan yang dilakukan di masjid tersebut, dan Allah akan gantikan untuknya sebuah rumah di syurga. Masjid yang pertama kali di muka bumi adalah Kabah (Masjidil Haram), QS. Ali-Imran [3] : 96, artinya : "Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia adalah (Baitullah) yang (berada) di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam."
- Wakaf mushaf Al-Quran. Mewakafkan (menghadiahi mushaf Al-Quran berarti memfasilitasi orang lain untuk mendapatkan pahala sebanyak huruf yang dibaca dalam Al-Quran. Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang membaca satu huruf dalam Al-Quran maka dia mendapatkan satu pahala. Dan satu pahala dilipatkan 10 kali." (HR. Tirmidzi 3158). Namun hendaknya mewakafkan mushaf Al-Quran yang tepat sasaran yakni orang yang mau membacanya atau yang mau menghapalkannya.
- Anak shaleh. Anak shaleh adalah harta yang paling ternilai. Ketika orangtua mendidik anaknya maka dia akan mendapatkan pahala dari amal shaleh yang dilakukan anaknya. Namun tidak semua orangtua mendapatkan pahala dari amal anaknya, orangtua yang mendapatkan pahala hanya orangtua yang men-support, mengajarkan kebaikan atau mengarahkan anak itu untuk belajar kebaikan.
- Wakaf rumah singgah untuk musafir. Keutamaan membangun rumah singgah yang diwakafkan untuk kepentingan umat Islam, baik itu musafir, untuk penuntut ilmu, untuk anak yatim untuk janda, untuk fakir miskin dan lainnya. Contoh kasus ketika ada orang yang tinggal di kota A yang akan berobat di kota B yang jaraknya jauh, orang tersebut jika bolak-balik kota A ke kota B maka akan merasa kesusahan sementara orang tersebut dalam keadaan sakit, maka rumah singgah dirasakan sangat bermanfaat dalam situasi demikian.
- Sedekah jariyah (maksudnya wakaf). Para ulama menafsirkan sedekah jariyah dengan wakaf, karena fisiknya tetap dan manfaatnya berkelanjutan. Wakaf itu bahasa lainnya Tasbil, dari kata Fii sabillillah, dijadikan wakaf artinya dijadikan fii sabilillah. Syarat wakaf : [1] Dari objeknya harus halal manfaat, [2] bendanya punya manfaat, [3] harus punya nilai ketahanan, [4] tidak lagi menjadi milik pribadi.
- Jihad dan menjaga daerah perbatasan. Amalan ini sangat mulia, karena mereka siap berkorban dan bertahan di daerah yang membahayakan. Mereka siap kehilangan nyama demi menjaga masyarakat dari serangan sehingga menjamin keamanan dan kenyamanan masyarakat.