Selasa, 18 Juni 2024

45 Catatan Sang Musafir : Hari Ke 5 - Tidak Tahu Urusan Orang Lain Lebih Berkah Untukmu

Kajian        : Syameela Series
Sifat           : Online Mosfeed & Youtube Privat
Pemateri    : Ustad Oemar Mita
Tanggal      : Selasa, 11 Juni 2024

  • Hidup kita banyak sekali persoalan yang harus kita selesaikan, supaya beban kita tidak bertambah jangan tambah dengan mengurusi urusan yang buka urusan kita (urusan orang lain).
  • QS. An-Najm [53] : 39, artinya : Bahwa manusia hanya memperoleh apa yang diusahakannya. Ayat ini berbicara tentang pola kehidupan manusia pada dasarnya kita tidak pernah memikul dosa lain, kita tidak bertanggungjawab atas kemaksiatan orang lain, sebaliknya kita akan mendapatkan pahala atas usaha kita sendiri karena kita tidak akan mendapatkan pahala atas apa yang diperbuat orang lain.
  • Semakin banyak kita mengetahui urusan orang lain semakin banyak akibat buruk yang menghampiri kita, seperti :
  1. Akan menjadikan diri kita tidak fokus denga hal-hal besar (primer) yang ada pada kehidupan kita.
  2. Tergerus waktu kita pada suatu yang sia-sia, karena masalah orang lain tidak perlu kita ketahui semuanya karena tidak setiap masalah perlu untuk kita mengerti. Ignoring is blessing (terkadang tidak tahu itu lebih berkah untuk kita).
  • Rasulullah dalam hadist menyampaikan, "Di antara kebaikan dan kesempurnaan Islam dan iman seseorang itu tidak meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat." Kebaikan Islam itu tidak hanya ditunjukkan dalam hal ibadah saja akan tetapi dalam hal kita paham dalam berinteraksi pada kehidupan di masyarakat ketika kita kenal dengan orang jangan terlalu offside (melewati batasan) untuk mengetahui kehidupan orang.
  • Rasulullah mempunyai beban kenabian yang begitu besar karena melewati berbagai macam ujian, namun Rasulullah memiliki sebuah ketrampilan bahwa Rasulullah tidak pernah offside (melewati batasan) dalam urusan orang lain yang memang bukan urusannya. Rasulullah juga tidak pernah bertanya yang menyelidik ketika bersama sahabat-sahabatnya.
  • Ada kisah, ada seorang sahabat bernama Mais bin Malik berzina datang kepada Rasulullah untuk menebus dosanya. Yang menarik dalam HR. Muslim, Rasulullah tidak bertanya mendetail seperti pertanyaan : "Bersama siapa kamu berzina? Di mana kamu berzina? Berapa kali kamu berzina?" Dan semacamnya, Rasulullah tidak pernah bertanya tentang persoalan yang bukan inti dari permasalahan yang dikhawatirkan bisa melebar kemana-mana. Terlalu banyak bertanya itu tidak baik terutama pada hal-hal yang tidak penting.
  • Allah memberikan sebutan kepada orang yang banyak bertanya dengan sebutan sayaquulus syufahaa (orang-orang yang kurang akal/bodoh). Ketika kiblat diubah dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram, banyak orang-orang bertanya. Hal ini ada dalam QS. Al-Baqarah [2] : 142-144, artinya : 
    • [142] Orang-orang yang kurang akal diantara manusia akan berkata, "Apakah yang memalingkan mereka (kaum muslim) dari kiblat yang dahulu mereka (berkiblat) kepadanya?" Katakanlah (nabi Muhammad SAW), "Milik Allah lah timur dan barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (berdasarkankesiapannya untuk menerima petunjuk)."
    • [143] Demikian pula Kami menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (nabi Muhammad SAW) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menetapkan kiblat (Baitulmaqdis) yang (dahulu)kamu berkiblat kepadanya, kecuali agar kami mengethui(dalam kenyataan) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sesungguhnya (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yangtelah diber petunjuk oleh Allah. Allah tidak akan menyia-nyiakan iman. Sesungguhnya Allah benar-benar maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.
    • [144] Sungguh, Kami melihat wajahmu (nabi Muhammad SAW) sering menengadah ke langit. Maka pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Di mana pun kamu sekalian berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab benar-benar mengetahui bahwa (pemindahan kiblat ke Masjidilharam) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.
  • QS. Al-Anbiya [21] : 23, artinya : (Allah) tidak akan ditanya tentang apa yang Dia kerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya. Menegaskan bahwa Allah itu tidak ditanya kenapa begini kenapa begitu akan tetapi manusialah yang akan ditanya dan dihisab oleh Allah.
  • Dari ketiga surat Al-Quran tersebut di atas (QS. An-Najm [53] : 39,  QS. Al-Baqarah [2] : 142-144QS. Al-Anbiya [21] : 23), kehidupan itu dinikmati saja dengan rileks dengan cara jangan banyak tahu urusan orang lain. Terlalu banyak beban hidup biasanya karena terlalu banyak tahu urusan orang, informasi yang diterima terlalu banyak sehingga terlalu banyak menyita banyaknya fikiran kita. Seperti memory hp yang terus menerus bertambah maka hp otomatis akan lemot.
  • Kepo sebenarnya masalah yang tidak ada dalam kehidupan orang yang beriman, karena kalau sudah kepo konsekuensinya berat, contoh : Ada sesorang dia melakukan sesuatu (aib) lalu karena kamu penasaran akhirnya kamu tahu akan aib tersebut, karena sudah mengetahui aib seseorang kamu akan dilihat Allah karena telah menyimpan maka dengan itu Allah akan menyimpan aibmu juga, namun jika kamu tidak kuat menyimpan aib seseorang dan kamu menceritakannya kepada orang yang lain lagi maka aibmu akan dibuka oleh Allah. Jika tidak dibuka di dunia maka akan dibuka di akhirat. Kita memahami bahwa ini sangat rumit sekali hanya karena kepo.
  • Imam Qurthubi mengatakan, "Tidak semua ilmu harus kita ketahui semuanya." Ada katagori ilmu yang masuk ilmuhu laa yanfaa wajahluhu laa yandhuur (jika kamu tahu tidak terlalu bermanfaat dan jika kamu tidak tahu juga tidak terlalu bermanfaat). Contoh : Nabi Adam AS diusir dari syurga ke bumi karena telah mendekati dan memakan buah yang terlarang, kita tidak perlu tahu buahnya apa, beratnya berapa, warnanya apa, berapa kunyahan yang dimakan nabi Adam AS, berapa kunyahan yang dimakan Hawa, dan lain-lain, kita tidak perlu tahu. Yang terpenting adalah pesan pada peristiwa ketika nabi Adam AS mendekati dan memakan buah yang diharamkan oleh Allah, nabi Adam AS tergelincir oleh kesalahan, tertipu dengan sumpahnya syetan yang bersumpah bahwa tersebut mewariskan keabadian. Pesannya cukup sampai disitu dan tidak perlu kita tanyakan kemana-mana.
  • Pada masa sekarang ini orang-orang hobby mengkonsumsi kehidupan orang lain seperti artis, atlet, tokoh dan lain-lain, terlalu up to date pada kehidupan orang lain yang tidak dikenal, padahal ia belum tentu mengetahui kabar orang-orang terdekatnya seperti bapaknya, ibunya, anak-anaknya, saudara-saudaranya, dan lain-lain.
  • Jangankan untuk mengetahui kehidupan orang lain untuk bertamu ke rumah orang saja kita perlu meminta izin (mengetuk pintu) dahulu. Kenapa kita perlu meminta izin untuk bertamu, karena :
  1. Rumahnya orang itu aurat, kita disyariatkan meminta izin sebelum masuk yang menjadi area privasi.
  2. Karena kita tidak perlu melihat sesuatu yang tidak perlu kita lihat yang mungkin bisa menjadi masalah.
  • Dari Rasulullah, ada kisah Mughits dan Barirah, dua orang budak suami istri yang saling mencintai. Barirah dibebaskan terlebih dulu (merdeka). Pada masa itu ada peraturan jika ada budak suami istri yang salah satunya merdeka maka yang merdeka duluan mendapatkan hak untuk memilih melanjutkan pernikahan dengan pasangannya yang belum merdeka (budak) atau membatalkan pernikahan. Barirah memilih untuk membatalkan pernikahan. Mughits yang mencintai Barirah sangat sedih sehingga jenggotnya memanjang, kemanapun Barirah pergi dia selalu mengikuti. Rasulullah mengetahui hal tersebut lalu Rasulullah menanyakan kepada Barirah, "Apakah ingin kembali kepada Mughits?" Maka Barirah mengatakan, "Tidak ya Rasulullah kecuali kamu memerintahkan aku". Rasulullah menjawab, "Tidak, sesungguhnya saya hanya membantu Mughits, jika kamu berkenan untuk kembali, jika tidak berkenan untuk kembali tidak apa-apa." Barirah menjawab kembali, "Tidak ya Rasulullah". Dari pertanyaan dan jawaban Rasulullah, Rasulullah tidak menanyakan lebih detail kembali kenapa Barirah tidak mau kembali kepada Mughits. Begitulah kehidupan seorang mukmin yang dicontohkan oleh Rasulullah.

Tidak mengetahui urusan orang lain itu melegakan