Kajian : Syameela Series
Sifat : Online Mosfeed & Youtube Privat
Pemateri : Ustad Oemar Mita
Tanggal : Jumat, 14 Juni 2024
- Pada kehidupan kita memiliki gaung, yakni gaung yang kita dapati di masa mendatang. Manusia tidak dapat memastikan apa yang akan terjadi di masa mendatang. Apa yang katakan hari ini maka apa yang kamu gaungkan di masa lalu.
- QS. Al-Baqarah [2] : 83, artinya : (Ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari bani Israil, " Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Selain itu, bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah solat, dan tunaikanlah zakat." Akan tetapi kamu berpaling (mengingkarinya), kecuali sebagian kecil darimu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang. Ayat ini meminta kita (manusia) untuk berkatalah yang terbaik.
- Banyak orang yang tidak bahagia karena perkataan yang salah, ketika kecepatan berbicara lebih cepat daripada kecepatan akal untuk berfikir/merenung.
- Berkatalah yang baik karena sesungguhnya perkataan kita akan sesuai dengan apa yang kita peroleh dan apa yang kita dapatkan.
- Rasulullah berkata, "Mengucapkan kalimat terbaik itu adalah bentuk sedekah terbaik yang kamu berikan."
- Persoalan-persoalan timbul karena ucapan kita dan ketikan kita. Hilang kebaikan hidupnya karena ucapannya.
- Hasan Al Basri mengatakan bahwa orang mukmin berbeda dengan orang munafik dan orang bodoh. Orang mukmin meletakkan lidahnya di belakang hatinya, sehingga ketika dia melihat segala sesuatu maka dia akan merespon dulu dengan hatinya, hatinya merenung akalnya berfikir, karena hati dan akal saling berkaitan. Hati yang salim bertemu dengan akal yang selamat. Maka ketika ada sesuatu yang dia dapatkan, hatinya merenung dulu, akalnya berfikir. Baru nanti lidahnya bisa memutuskan apakah perlu untuk menyampaikan ataukah memang tidak usah menyampaikan. Berbeda dengan orang yang bodoh, orang yang bodoh itu adalah orang yang lidahnya di depan hatinya dan di depan akalnya, sehingga ada sesuatu yang dia lihat, sesuatu yang dia dapatkan maka cepat sekali lidahnya untuk menyusun setiap kalimat dan setiap komentar yang negatif, lalu setelah itu dia merasakan akibatnya barulah hatinya merenung dan akalnya berfikir bagaimana beratnya menghadapi konsekuensi terhadap setiap ucapan yang telah dia keluarkan.
- Perkataan dari Umar bin Khattab, "Siapa yang banyak bicara banyak jatuhnya. Dan siapapun yang banyak jatuhnya banyak salahnya. Dan siapapun yang banyak salahnya maka tidak ada tempat yang paling layak kecuali adalah neraka." Maka inilah kualitas hidup. Kualitas hidup itu kita belajar, kita berikhtiar bahwa kelapangan hidup yang kamu rencanakan itu tidak akan pernah datang kecuali dimulai dari satu komitmen kuat yang kita harus tahu bagaimana kita mengontrol lidah kita, mengontrol tangan kita ketika kita akan menulis sesuatu. Perhatikan ucapan kita karena berpengaruh akan kualitas di dalam kehidupan kita.
- Tidak perlu setiap perkara kita komentari, terkadang diam sembari berfikir itu lebih baik sehingga kita mengeluarkan kalimat sesuai kebutuhan di saat yang tepat. Kebaikan selalu berawal dari kata-kata yang manis tapi penuh dengan kejujuran. Berkatalah yang baik kepada sesama manusia.
- Allah memanggil para pendosa itu bukan sebutan "Hai orang-orang pendosa", namun Allah memanggil mereka dengan kalimat yang baik, karena kalimat yang baik akan memberikan dampak yang baik pada kehidupan seseorang, Allah memnggil dengan kalimat "Hai orang-orang yang melampaui batas". Kalimat yang sangat baik dan halus sekali.
- Saat ini kita krisis untuk berkata/berkomentar yang baik. Bahkan kata-kata kita bisa membunuh identitas seseorang. Jika kita menutup mulut kita maka kualitas kita akan terjaga, tetapi jika kita berbicara lalu semakin lama semakin banyak berbicara maka kualitas kita akan semakin lama semakin menurun akibat terlalu banyak berbicara.
- Kalimat buruk laksana palu, memecahkan hati, dinding sanubari setiap orang yang mendengarnya, dan tidak setiap orang itu diam, ada yang dendam, ada juga yang membalas. Berhati-hatilah dalam berkata-kata.
- Ada kisah seorang tokoh liberal Mesir bernama Thoha Husein, ia seorang buta. Suatu kali ketika ia kecil, ia dipanggil "Hai anak yang buta", lalu ia pun mendendam. Ternyata yang memanggilnya itu orang yang paham agama, maka Thoha Husein yang mendendam ini pun benci terhadap apapun yang berhubungan dengan agama. Thoha Husein menjadi orang liberal, membenci setiap syariat agama. Hal ini dimulai dari rasa sakit yang ia peroleh karena perkataan/ucapan orang. Walaupun ucapan tersebut benar adanya bahwa ia buta namun baginya sungguh menyakitkan sehingga ia mendendam.
- Dalam hadist Rasulullah menyampaikan, "Perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka itu dua, lubang mulutnya dan lubang kemaluannya."
- Rasulullah mengatakan, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, berkatalah yang baik ataupun dia diam." Kenapa Rasulullah mengaitkan penjagaan kepada lisan itu dengan keberkahan syurga? Karena orang yang menjaga lidahnya itu sebenarnya sedang menjaga apa yang akan mereka peroleh pada kehidupan di masa mendatang (syurga atau neraka?). Audio, suara memiliki gaung, sama juga dengan kehidupan pun memiliki gaung. Dan perhatikanlah apa yang kamu peroleh pada kehidupanmu itu dimulai dari setiap kalimat yang kamu ucapkan dan setiap kata yang kamu keluarkan dan setiap tulisan yang kamu goreskan. Maka ucapan dan tulisan bisa mendatangkan kebaikan sesuai dengan apa yang kamu ucapkan dan tuliskan dan itu bisa juga menjadi sebuah musibah ketika kamu tidak berhati-hati di balik setiap kata yang kamu ucapkan dan tuliskan.
Berkatalah yang baik kepada sesama manusia