Sabtu, 19 Oktober 2024

Kitab Al-Mulakhkhash : Para Pengingkar Takdir

Kajian        : Kajian Kitab Al-Mulakhkhash Fii Syarhi Kitab At-Tauhid
Karya         : Asy-Syaikh Al-'Allamah Prof. Dr. Shalih Al-Fauzan (Hafidzahullah)
Sifat           : Online/Offline - Masjid Nurul Iman Lantai 7 Blok M Square
Pemateri    : Ustad Muhammad Yahya
Tanggal      : Sabtu, 5 Oktober 2024

  • Ketika tauhid rububiyah keimanan bahwa Allah satu-satunya pencipta, pemberi rizki dan pengatur segala urusan, tidak sempurna kecuali dengan menetapkan takdir dan mengimaninya maka Al-Musanif meyebutkan bab tentang ancaman bagi mereka yang mengingkari takdir sebagi pengingat akan wajibnya beriman kepada takdir.
  • Abdullah bin Umar mengucapkan, "Demi yang jiwaku ada di tangannya, demi jiwa yang Abdullah bin Umar ada di tangannya itu demi Allah seandainya salah seorang di antara mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud kemudian diinfakkan di jalan Allah. Allah tidak akan menerimanya sampai dia beriman dengan takdir."
    • Menjelaskan : Kekayaan sebesar gunung Uhud itu gunung Uhud tingginya sekitar 1070m-an tidak terlalu tinggi namun besar, dimisalkan kekayaaan itu emas sebesar gunung Uhud diinfakkan di jalan Allah namun yang menginfakkan tidak percaya takdir maka dia termasuk orang yang tidak beriman, karena salah satu rukunnya tidak terpenuhi, jika tidak percaya dengan takdir maka dia  tidak beriman/kafir.
  • Kemudian Abdullah bin Umar berdalil dengan sabda Rasulullah tentang iman, "Iman adalah engkau beriman kepada Allah, beriman kepada para malaikatNya, beriman kepada kitab-kitab yang diturunkanNya, beriman kepada para rasul, beriman kepada hari akhir dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk" 
    • Itulah rukun iman, semuanya harus diimani, hilang satu saja maka dia tidak disebut sebagai mukmin.
  • Faedah yang bisa dipetik dari hadist ini, bahwa :
    1. Yang mengingkari takdir itu adalah kekafiran.
    2. Amalan sholeh itu tidak diterima kecuali dari orang yang beriman.
    3. Hal ini menujukkan berdalil atas suatu hukum itu dengan dasar Al-Quran dan As-Sunnah.
  • Dalam beriman kepada takdir, seorang itu harus 4 hal berikut :
    1. Al-Ilm (ilmu). Takdir Allah berdasarkan pengetahuanNya, yang ditakdirkan oleh Allah itu diketahui oleh Allah.
    2. Al-Kitaabah (pencatatan). Apa yang diketahui oleh Allah itu ditulis di lauhul mahfud. Allah berkata, "Tidakkah engkau tahu bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang ada di langit dan apa di bumi, semua itu ada di dalam catatan takdir. Sesungguhnya itu semua mudah bagi Allah."
    3. Al-Masyii'ah (kehendak). Seorang harus mengimani bahwa  apa yang diketahui dan ditulis oleh Allah itu terjadi dengan kehendak Allah. Tidak ada kejadian yang lepas dari kehendak Allah apapun yang terjadi. Allah berfirman, "Dan tidaklah mereka berkehendak melainkan Allah itu berkehendak." Allah memberikan kehendak bagi hambanya, mereka diberi hak pilih, akan tetapi seluruh pilihan hamba itu tidak lepas dari kehendak Allah. Allah menetapkan bahwa penilaian masing-masing orang itu di ujung hidupnya, bagaimana akhir kehidupan seseorang itulah penilaian bagi masing-masing mereka. Allah Maha Mengetahui apa yang akan terjadi, apakah seseorang di syurga atau di neraka. Rasulullah menyampaikan di hadapan para sahabat, lalu para sahabat berkata, "Kalau begitu karena sudah ditentukan ya kita berpangku tangan saja terhadap apa yang sudah ditakdirkan." Namun Rasulullah mengatakan bahwa tidak begitu, karena yang ditentukan oleh Allah tidak kita ketahui. Rasulullah mengatakan, "Berbuatlah, berusahalah, segala sesuatunya dimudahkan oleh Allah terhadap apa yang diciptakan untuknya." Lalu Rasulullah memberikan masukan, "Adapun yang ditakdirkan sebagai penduduk syurga maka dia akan dimudahkan untuk berbuat kebaikan, atau siapa yang termasuk penduduk neraka maka dia akan dimudahkan berbuat kejelekan." Pertanyaannya adalah, apakah kita termasuk orang yang dimudahkan dalam berbuat kebaikan, jika iya maka pertahankan/istiqomahlah, karena penilaian akhir manusia itu di ujung hidupnya. Adapun orang yang dimudahkan dalam berbuat kejelekan maka itu peringatan untuknya, selama dia masih hidup masih ada kesempatan untuk merubah dirinya dari yang buruk menjadi baik, karena takdir Allah belum diketahui oleh manusia, bisa saja saat ini pelaku maksiat namun esok hari belum tentu, bisa jadi telah menjadi pelaku kebaikan. Maka jangan berburuk sangka kepada Allah mengatakan ditakdirkan menjadi pelaku maksiat, kita harus berusaha untuk kembali kepada kebaikan.
    4. Al-Khalq (penciptaan). Bahwa Allah pencipta seluruhnya. Pencipta kita dan pencipta apa yang kita perbuat. "Allah yang menciptakan kalian dan perbuatan kalian." Dan Allah menyatakan, "Tuhanmu tidak  mendzolimi siapapun wahai Muhammad."
  • Yang tidak menimani takdir ancamannya sangat keras yakni kekufuran.
  • Dari Ubadah bin Ash-Shamit, beliau berkata kepada anaknya, "Wahai anakku sekali-kali engkau tidak akan merasakan manisnya iman sampai engkau menyadari bahwa apa yang menimpamu tidak akan luput darimu dan apa yang luput itu tidak akan menimpamu." Ketika seseorang mendapatkan sesuatu itulah takdir dari Allah, apakah itu sesuatu yang baik baginya atau buruk. Oleh sebab itu jika seseorang mendapatkan sesuatu yang kurang menyenangkan dia tidak boleh protes kepada Allah atau berandai-andai, tidak boleh karena itu sudah terjadi. Katakan qadarullah. Ketika seseorang mendapatkan kebaikan ia bersyukur dan ketika mendapatkan keburukan ia bersabar dengan itu. Rasulullah bersabda, "Sungguh menakjubkan orang yang beriman, seluruh urusannya selalu baik dan itu tidak dimiliki kecuali oleh orang yang beriman. Kalau dia mendapatkan kebaikan dia bersyukur dan itu baik baginya dan kalau dia mendapatkan keburukan dia bersabar dan itu juga baik baginya." Orang beriman bisa mengendalikan dirinya supaya tetap stabil, dengan kestabilan itulah orang-orang yang beriman bisa menjalankan kepatuhan kepada Allah.
  • Ubadah bin Ash-Shamit mengatakan, "Pertama-tama Allah menciptakan pena, kemudian Allah berkata kepadanya 'Tulislah'. Lalu pena itu berkata, 'Wahai Tuhanku apa yang aku tulis?' 'Tulislah takdir segala sesuatu sampai datangnya hari kiamat.' "Wahai putraku, aku pernah mendengar rasulullah bersabda, 'Barangsiapa yang meninggal dunia tidak dalam keyakinan ini maka dia bukanlah bagian dariku." Semua yang terjadi berdasarkan ketentuan Allah. Dalam satu riwayat Imam Ahmad, Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya yang pertama-tama Allah ciptakan adalah pena, kemudian ALlah berkata kepadanya, 'Tulislah'." Maka berlakulah sejak kejadian saat itu, sejak penulisan takdir saat itu berlaku sampai hari kiamat, tidak akan pernah berubah. Sementara dalam riwayat Ibnu Wahab, Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang tidak beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk, maka Allah membakar dia di dalam api neraka."
  • Faedah yang bisa dipetik :
    1. Wajibnya beriman kepada takdir.
    2. Bagi mereka yang mengingkari takdir ada ancaman yang sangat keras.
    3. Menunjukkan penetapan pena yang menulis takdir dan penulisan seluruh takdir yang lalu hingga masa yang akan datang sampai hari kiamat sudah semuanya ditulis oleh Allah.
  • Abdullah Ibnu Dailami berkata saat itu Ubay bin Kabin, "Aku mendatangi Ubay bin Kaab, Di dalam hatiku ada sesuatu terkait takdir, sampaikan kepadaku hadist, semoga Allah menghilangkan itu dari hatiku." Kemudian kata Ubay bin Kaab. "Seandainya kamu berinfak emas sebesar gunung Uhud. Allah tidak akan menerima infakmu sampai engkau beriman kepada takdir." 
    1. Al-Ikhlas. Orang yang tidak beriman kepada takdir itu kafir. Berbuat kebaikan apapun tidak akan diterima oleh Allah. "Kami datangi amalan-amalan mereka dan Kami jadikan debu yang bertebangan."
    2. Amalan tersebut sesuai petunjuk Rasulullah
  • Kemudian ia mendatangi sahabat-sahabat Rasulullah yang lain, semua menyampaikan hadist yang sama yang disampaikan Ubay bin Kaab (HR. Hakim).
  • Kaidah yang bisa dipetik :
    1. Ancaman yang keras bagi yang tidak mengimani takdir.
    2. Anjuran bertanya kepada para ulama tentang hal-hal yang masih belum diketahui atau hal-hal yang masih rancu baginya, karena Allah berfirman, "Bertanyalah kalian kepada ahlinya apabila kalian tidak mengetahuinya."
    3. Di antara tugas para ulama adalah menyingkap tabir atau menyingkap kesamaran dan tugasnya menyebarkan ilmu di tengah-tengah manusia.