Kajian : Kajian Muslimah Masjid Daarut Tauhiid Kebayoran
Sifat : Online/Offline - Masjid Daarut Tauhiid Kebayoran
Pemateri : Ustazah Erika Suryani Dewi
Tanggal : Sabtu, 5 Oktober 2024
- Fatimah An-Naysaburiah berasal dari Khurasan. ia merupakan ulama perempuan yang telah mencapai tingkat ma'rifat (kanat minal 'arifatil kibar)
- dzun Nun Al-Mishri menjadikannya sebagai guru dan tempat bertanya berbagai persoala spiritual dan ilmu agama.
- Ia dikenal juga dengan nama Fatimah Al-Batayahiyyah atau Fatimah dari Nishapur (Naysabur). Dia adalah seorang sufi perempuan yang menikah dan dekat dengan dua sufi terkenal, yaitu Dzu Nun Al-Mishri dan Abu Yazid Al-Busthami.
- Fatimah An-Naysaburiah adalah seorang tokoh sufi perempuan yang terkenal. Dia adalah penulis kitab Mawahib Al-Qudsiyyah. Dalam kitabnya itu, dia berhasil mengeksplorasi berbagai konsep kesufian dan juga berbagai makna mistik dalam pandagan akidah Islam.
- Fatimah An-Naysaburiah juga dikenal sebagai peyair ulung dengan berbagai puisinya yang mampu merangkum berbagai pengalaman spiritual dan kecintaan kepada Allah.
- Fatimah An-Naysaburiah hidup pada abad ke-9M atau sekitar abad ke-22 atau ke-3H. dia lahir di Naisaburi, Khurasan dan dia hidup sejaman dengan dua tokoh sufi terkenal, Dzun Al-Mishri (245H) dan Abu Yazid Al-Busthami (261H).
- Fatimah An-Naysaburiah berasal dari keluarga bangsawan, tepatnya dari keluarga Balkh. Tetapi Fatimah tidak memanfaatkan kebangsawanannya dan kekayaannya, tetapi malah memilih jalan sufi.
- Fatimah An-Naysaburiah menikah dengan Abu Hamid Ahmad Al-Khadrawayh yang juga seorang sufi. Setelah menikah, mereka melepaskan semua hubungannya dengan dunia dan hidup di pengasingan.
- Fatimah An-Naysaburiah dikenal karena kebijaksanaan spiritualnya, keteguhan hati serta percaya diri yang kuat dan kontribusi besarnya terhadap tradisi sufi. Dia adalah murid dari salah satu tokoh sufi terkenuka pada masanya, yaitu Junayd Al-Baghdadi.
- Imam Abdurrahman Al-Sulami memujinya dengan mengatakan, "Tidak ada di eranya perempuan yang sepertinya." (Imam Abdurrahman Al-Sulami, Thabaqat Al-Shufiyyah wa yalihi Dzikr Al-Niswah Al-Mutta'abbidat Al-Shufiyyat, Beirut, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, 2003, h.400)
- Imam Abu Yazid Al-Busthami sagat menghormati keilmuan dan spiritualitas Fatimah An-Naysaburiah. Ia mengatakan, "Aku tidak melihat (atau mengagumi seorangpun) di (sepanjang) umurku kecuali (untuk) seorang laki-laki dan wanita. Wanita (itu) adalah Fatimah An-Naysaburiah. Tidak ada maqam dari kebanyakan maqam yang telah kusampaikan kepadanya melainkan seolah dia telah mengalaminya (sendiri)." (Imam Abdurrahman Al-Sulami, Thabaqat Al-Shufiyyah a yalihi Dzikr Al-Niswah AlMuta'abbidat Al-Shufiyyat, 2003, h.400).
- Imam Dzun Nun Al-Mishri menganggapnya sebagai guru. Hubungan Fatimah An-Naysaburiah dan Imam Dzun Nun Al-Mishri terbilang unik. Dalam suatu riwayat. Diceritakan bahwa Fatimah sekali waktu mengirimkan sebuah hadiah kepada Dzun Nun AL-Mishri, tapi kemudian ditolak dan dikembalikan sembari berkata, "Menerima pemerian (atau hadiah dari) wanita merupakan bentuk kehinaan dan kekurangan (kelemahan)." Kemudian Fatimah berkata, "Tidak ada di dunia ini seorang sufi yang lebih rendah dari orang yang (hanya) melihat sebab (alasan)." (Imam Abdurrahman Al-Sulami, Thabaqat Al-Shufiyyah a yalihi Dzikr Al-Niswah Al-Muta'abbidat Al-Shufiyyat, 2003, h.400-401).
- Dalam riwayat di atas, ada kata "seab" di ucap Fatimah An-Naysaburiah. "Sebab" di sini berarti "alasan" yang seakan-akan Dzun Nun Al-Mishri meragukan motif pemberian Fatimah An-Naysaburiah yang seorng wanita, sehingga ia mengatakan, "Tidak ada di dunia ini seorang sufi yang lebih rendah dari orang yang melihat alasan di balik pemberian tersebut." Padahal, ia tidak benar-benar tahu alasan Fatimah An-Naysaburiah memberikan sesuatu kepadanya. Ia hanya tahu bahwa pemberian itu berasal dari seorang perempuan.
- Jawaban tersebut tentu saja menunjukkan karakter kesufian Fatimah yang tidak mempersoalkan gender dalam kedekatan seorang hamba kepada Allah.
- Dalam pandangannya, sebuah pemberian itu tidak boleh dilihat dari siapa yang memberinya, tetapi hakikat sesuatu yang diberikan itu pada dasarnya adalah dari Allah. Karena Allah lah yang menggerakkan seseorang untuk memberikan sesuatu kepada orang lain.
- Dari hal inilah, kemudian dzun Nun Al-Mishri memandang Fatimah sebagai tokoh sufi perempuan yang memiliki pemahaman yang sangat baik terkait dengan persoalan agama.
- Dzun Nun Al-Mishri kemudian menganggap Fatimah An-Naysaburiah sebagai gurunya. Ia sering bertanya soal-soal spiritual dan ilmu agama kepadanya (wa sa'alaha dzun nun am masail). Suatu ketika, seorang ulama sepuh (Syaikhan Kabiran) bertemu dengan Dzun Nun Al-Mishri. Ia bertanya pada Dzun Nun, "Siapa orang yang paling mulia yag pernah kau temui?" Dzun Nun menjawab, "Aku tidak bertemu seorangpun yang lebih mulia dari wanita yang kutemui di Mekah, ia bernama Fatimah An-Naysaburiah. Ia berbicara (dengan sangat) mengagumkan tentang pemahaman (atau isi kandungan) Al-Quran." Aku (ulama sepuh) bertanya kepada Dzun Nun tentangnya. Ia berkata kepadaku, "Ia adalah seorang wali perempuan dari (sekian) wali-wali Allah SWT dan ia adalah guruku." (Imam Abdurrahman Al-Sulami, Thabaqat Al-Shufiyyah a yalihi Dzikr Al-Niswah Al-Muta'abbidat Al-Shufiyyat, 2003, h.401).
- Fatimah An-Naysaburiah meskipun lahir di Naisabur, ia lebih memilih tinggal di Mekah. Kadang juga tinggal di Baitul Maqdis Palestina. Pada waktu di Mekah itulah ia bertemu dengan Dzun Nun Al-Mishri dan menjadi guru bagi Dzun Nun (seorang sufi besar di masanya yang berasal dari Mesir).
- Berbeda dengan tokoh sufi perempuan lainnya, Fatimah adalah salah satu sufi perempuan yang menikah. Dia menikah dengan Abu Hamid bin Khadrawyh yang juga seorang sufi di masa itu.
- Ketika terdengar kedekatan antara istrinya dengan dua orang tokoh besar di jamannya (Abu Yazid Al-Busthami dan Dzun Nun Al-Mishri) suami Fatimah ini merasakan kecemburuan yang kuat terhadap istrinya tersebut. Melihat ini Fatimah pun berkata kepada sang suami, "Engkau adalah karib dengan diri alamiahku, sedangkan dua tokoh sufi itu adalah karib dalam jalan spiritualku." Begitulah kebijaksanaan dan hikmah yang dalam dari seorang sufi perempuan bernama Fatimah An-Naysaburiah.
- Fatimah An-Naysaburiah merupakan wanita yang gemar bepergian (musafirah) terutama mengunjungi tempat-tempat suci.
- Fatimah An-Naysaburiah wafat di Mekah dalam perjalanan umrah di tahun 223H. Ia meninggalkan teladan besar bagi umat manusia setelahnya.
Sumber : PDF Kajian Muslimah Masjid Daarut Tauhiid, Kebayoran.