Senin, 15 September 2025
Ketika hisab Allah SWT akan berbicara dengan para hamba dengan cara yang sesuai dengan keagungan Allah SWT. Allah SWT akan bertanya tentang apa yang sudah mereka lakukan di dunia.
Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah diantara kalian kecuali Rabbnya akan berbicara kepadanya. Tidak ada antara dia dengan Allah penerjemaah. Dia akan melihat di sebelah kanannya, maka dia tidak akan melihat kecuali amalan yang sudah dia lakukan. Dan melihat sebelah kirinya, maka dia tidak melihat kecuali amalan yang sudah dia lakukan. Dan akan melihat depannya, maka dia tidak akan melihat kecuali neraka berada di depannya. Maka jagalah diri kalian dari neraka meskipun dengan separuh buah kurma." (HR. Bukhari Muslim)
Adapun hadist yang berisi bahwasanya ada 3 golongan yang Allah SWT tidak akan berbicara dengan mereka pada hari kiamat.
1. Orang yang mengungkit-ngungkit pemberian.
2. Orang yang menjual barang dengan sumpah palsu.
3. Orang yang musbil yaitu memanjangkan pakaian di bawah mata kaki yaitu bagi laki-laki
(Shahih HR. Muslim)
Maka yang dimaksud dalam hadist ini seperti yang dikatakan sebagian ulama bahwasanya Allah SWT akan berbicara kepada mereka dalam keadaan ridho tapi Allah SWT akan berbicara kepada mereka dalam keadaan marah.
Diantara hal yang ditanyakan di hari kiamat:
1. Tentang tauhid kita kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman, "Maka sungguh Kami akan tanya umat yang telah diutus kepada mereka para rasul. Dan sungguh Kami akan tanya para rasul." (QS. Al-Araaf:6)
Kita akan ditanya, bagaimana kita menjawab ajakan rasul dan ajakan rasul yang paling besar adalah tauhid.
2. Kenikmatan yang Allah SWT berikan kepada kita di dunia.
Allah SWT berfirman, "Kemudian sungguh-sungguh kalian akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan." (QS. At-Takatsur:8)
Di antara kenikmatan tersebut adalah kenikmatan makanan dan minuman bagaimanapun sederhananya di pandangan manusia.
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya pertanyaan pertama yang akan ditanyakan kepada seorang hamba pada hari kiamat tentang kenikmatan adalah akan dikatakan kepadanya, "Bukankah Kami telah menyehatkan badanmu dan memberimu air yang dingin?" (Shahih HR. Tirmidzi)
Di dalam hadist yang lain Rasulullah SAW bersabda, "Tidak akan bergerak kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ditanya : tentang umurnya untuk apa dia gunakan, dan ditanya tentang ilmunya apa yang telah dia amalkan, dan akan ditanya tentang hartanya darimana dia dapatkan dan dalam perkara apa dia gunakan, dan akan ditanya tentang anggota badannya untuk apa dia gunakan." (Shahih HR. Tirmidzi)
Orang yang mensyukuri nikmat tersebut, dialah yang akan selamat. Mensyukuri dengan hati, lisan, maupun perbuatan.
Hatinya mengakui kenikmatan tersebut, bahwasanya itu adalah dari Allah SWT.
Lisannya bersyukur dan memuji kepada Allah SWT dan dia mempergunakan kenikmatan tersebut di dalam hal yang diperbolehkan oleh Allah SWT.
Diantara hal yang akan ditanyakan Allah SWT ketika hisab adalah pendengaran, pengelihatan dan hati kita.
Allah SWT berfirman, "Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak punya ilmunya. Sesungguhnya setiap manusia kelak akan ditanya tentang pendengaran, pengelihatan dan hatinya." (QS. Al-Isra:36)
Dengan begitu hendaklah seorang muslim menjaga pendengaran, pengelihatan dan hatinya dari apa yang Allah SWT haramkan.
Di antara yang Allah SWT tanyakan adalah perjanjian.
Allah SWT berfirman, "Dan sempurnakanlah perjanjian karena sesungguhnya perjanjian akan ditanyakan." (QS. Al-Isra:34)
Dan perjanjian di sini mencakup perjanjian seorang hamba kepada Allah SWT maupun kepada makhluk. Seorang muslim dituntut untuk menyempurnakan janjinya.
Diantara hal yang akan ditanyakan adalah tentang amanat yang telah Allah SWT berikan kepada kita.
Rasulullah SAW bersabda, "Setiap kalian adalah penjaga amanat dan setiap kalian akan ditanya tentang amanat tersebut. Seorang imam atau pemimpin negara adalah penjaga amanat dan dia akan ditanya tentang amanat tersebut. Seorang bapak adalah penjaga amanat di dalam keluarganya dan dia akan ditanya tentang amanat tersebut. Seorang ibu adalah seorang penjaga amanat di dalam rumah suaminya dan dia akan ditanya tentang apa yang dia jaga. Dan seorang pembantu adalah penjaga amanat harta majikannya dan dia akan ditanya tentang amanat tersebut." (Shahih HR. Bukhari Muslim)
Seorang pemimpin mendapat amanat dari Allah SWT untuk menegakkan hukum-hukum Allah SWT atas rakyatnya dan berbuat adil.
Seorang bapak mendapat amanat untuk memimpin keluarga dan membawa mereka kepada kebaikan serta memberikan hak-hak mereka.
Seorang ibu mendapat amanat untuk mengurus rumah tangga, mengurus anak, menasehati suami dan lain-lain.
Seorang pembantu mendapat amanat untuk menjaga harta majikannya dan melaksanakan pekerjaan sebagai seorang pembantu.
Masing-masing kita hendaknya melaksanakan amanat dan kewajiban sebaik-baiknya apapun peran kita sesuai dengan yang Allah SWT perintahkan. Baik kita sebagai seorang pemimpin maupun yang dipimpin. Baik menjadi juru dakwah maupun yang didakwahi. Baik sebagai seorang suami maupun seorang istri. Baik sebagai seorang ayah atau ibu maupun anak. Baik sebagai seorang guru maupun murid dan lain-lain. Masing-masing hendaknya melaksanakan amanat dan kewajiban sebaik-baiknya.
Bersambung