Kajian : Kajian Syameela
Sifat : Online Mosfeed & Youtube Privat
Pemateri : Ustad Oemar Mita
Tanggal : Rabu, 13 Maret 2024
II. Kisah Ke 2
IMAM MALIK DAN IBRAHIM AN-NAKHA'I
IMAM MALIK
- Malik bin Dinar merupakan salah satu ulama besar dari kalangan shalafus shalih dari kalangan tabiin. Ia merupakan salah satu ulama yang menjadi rujukan untuk mempelajari sunnah.
- Merupakan seorang ulama yang dulunya pernah menjadi pecandu minuman khamr. Ketika itu ia mendapat musibah yang menimpa keluarganya yakni putrinya meninggal sehingga syetan menggodanya. Ia minum khamr setiap malam sehingga menjadi pecandu minuman khamr.
- Ketika beliau menjadi pecandu minuman khamr pada suatu malam ketika ia sedang tidur ia bermimpi berjumpa dengan putrinya lalu ia dikejar dengan seekor ular yang begitu besar namun putrinya sama sekali tidak berkeinginan untuk menolong bapaknya di dalam mimpi itu. Ketika Malik bin Dinar bertanya kepada putrinya di dalam mimpi, "Kenapa kamu tidak menyelamatkan aku?" maka putrinya berkata, "Wahai bapakku, apa yang mengejarmu adalah apa yang menjadi hasil dari perbuatanmu. Ular yang besar yang mengejarmu yang membuatmu ketakutan, maka itu adalah bagian dari setiap tetesan khamr yang kamu tenggak setiap malamnya." Bangun dari mimpi itu lalu Malik bin Dinar bertaubat dan menjadi ulama besar.
- Malik bin Dinar memiliki satu rumah yang begitu sederhana, tanpa ia sadari ada maling, ada sariq yang ingin untuk merampas harta Malik bin Dinar. Rumahnya sudah dipantau dari jauh-jauh hari. Akhirnya maling tersebut masuk ke dalam rumah di tengah malam. Tanpa maling itu sadari bahwa Malik bin Dinar sedang melakukan shalat tahajud. Ketika maling tersebut masuk ia tidak mendapati barang-barang berharga kecuali kitab-kitab, lembaran-lembaran kulit kambing/unta dan lain-lain yang di dalamnya ada ilmu-ilmu yang dituliskan oleh Malik bin Dinar. Maling itupun berencana untuk keluar rumah. Malik bin Dinar yang ketika itu sedang sholat tahajud mengetahui ada maling dan mempercepat sholatnya. Ketika maling itu akan kabur, Malik bin Dinar menangkapnya. Lalu ia berkata dengan lemah lembut, apa yang diinginkan pada rumahnya. Maling itu menjelaskan bahwa ia ingin mengambil barang berharga namun tidak menemukan satupun barang berharga. Malik bin Dinar malah menawarkan, "Maukah aku tunjukkan padamu sesuatu yang lebih berharga daripada yang tidak kamu temukan?" Maling itupun menjawab, "Iya mau." Maka Malik bin Dinar berkata, "Sesuatu yang lebih baik daripada sesuatu yang tidak kamu temukan adalah (ia mengambil gayung di dalamnya ada air), berwudhulah dan shalat 2 rakaat, karena sesungguhnya berwudhu tengah malam dan shalat 2 rakaat itu lebih baik daripada yang akan kamu ambil dari rumahku." Karena ucapan tersebut datang dari seorang ulama, maling tersebut tersentuh hatinya lalu menurutinya untuk berwudhu dan sholat 2 rakaat.Setelah sholat 2 rakaat dikerjakan di rumah Malik bin Dinar, maling itupun menemuinya, maling tersebut melihat Malik bin Dinar sedang sahur untuk berpuasa. Maling itupun meminta izin untuk ikut berpuasa juga, akhirnya maling itupun berpuasa. Ketika subuh Malik bin Dinar bersiap akan ke masjid, maling itupun izin ikut serta untuk sholat subuh di masjid. Sehabis pulang dari masjid maling itu tidak izin pamit tapi meminta izin lagi untuk menginap di rumahnya Malik bin Dinar selama 3 hari dan ia pun mengizinkannya. Pengalaman maling tersebut bertemu Malik bin Dinar menjadikan maling tersebut bertaubat. Ketika mantan maling tersebut pulang di perjalanan dia bertemu dengan rekan malingnya yang lain, rekannya tersebut bertanya selama 3 hari apa yang mantan maling tersebut dapatkan (curi) di rumah Malik bin Dinar. Mantan maling tersebut berkata bahwa, "Sesungguhnya ia telah mencuri hatiku sebelum aku mencuri barang berharga di rumahnya."
- Kisah ini memberikan arti bahwa kemuliaan akhlak harusnya dimiliki setiap orang beriman. Ini bisa menjadi sebab kembalinya hidayah seseorang. Bagi pelaku kemaksiatan mereka tidak bisa mendengarkan dalil, mereka tidak bisa mendengarkan nasihat akan tetapi mereka bisa merespon dari kemuliaan akhlak.
IBRAHIM AN-NAKHA'I
- Ibrahim An-Nakha'i merupakan seorang ulama besar yang tiggal di Kuffah (Irak).
- Ia mempunyai satu murid bernama Sulaiman bin Mihran atau yang biasa disebut Al-A'masy.
- Antara guru dan murid ini ada yang unik. Gurunya itu memiliki cacat di matanya dan hanya bisa melihat sebelah matanya. Muridnya memiliki mata yang sering berair dan pengelihatannya sudah terlalu lemah (rabun dekat).
- Al-A'masy murid yang takzim, ia meminta izin ke guruya supaya setiap gurunya ke masjid untuk sholat ia bisa bergandengan untuk menjaga dan melindunginya. Gurunya yang baik ini mengizinkannya.
- Hari pertama komitmen tersebut dilaksanakan, berjalanlah mereka ke masjid. Ketika sudah dekat masjid gurunya bertanya, "Apakah kita sudah dekat dengan masjid?" lalu muridnya mejawab, "Iya kita sudah dekat masjid." Gurunya lalu berkata, "Kalau begitu kamu pindah jalan. Jangan bersamaku dan jangan kelihatan orang kamu menuntunku." Muridnya pun bingung dan terus menerus bertanya kepada gurunya sedangkan gurunya selalu memberi jawaban yang sama. Akhirnya setelah beberapa kali bertanya ada jawaban dari gurunya, "Aku tidak mau nak, aku tidak mau wahai muridku, kalau nanti orang melihat kita bergandengan tangan lalu kamu dalam kondisi memiliki keterbatasan pengelihatan, matamu berair, kamu rabun dekat, lalu kamu menuntunku yang sejatinya pun aku pun cacat mataku sebelah. Bagaimana ada orang yang rabun menuntun kepada orang yang bermasalah pengelihatannya?" Ketika diterangkan hal tersebut muridnya khilaf dengan berkata, "Tidak apa-apa guruku, kalaupun mereka membicarakan kita maka mereka telah memberikan pahalanya untuk kita, dan kita mentransfer dosa kita dan maksiat kita kepada mereka." Ketika guruya mendapat jawaban itu gurunya merespon dengan tegas, "Kita selamat dan mereka selamat, itu lebih aku senangi wahai Al-A'masy daripada kita mendapat pahala tapi orang lain dapat dosa gara-gara kita, pindah kamu ke sebelah." Dan akhirnya muridnya mendengarkannya.
- Kisah ini memberikan arti bahwa seorang Ibrahim An-Nakha'i walaupun cacat matanya tapi tidak pernah cacat hatinya untuk selalu memikirkan saudara-saudaranya dan tidak ingin saudaranya jatuh dalam kemaksiatan disebabkan keberadaan dirinya. Ia memiliki empati kepada umatnya Rasulullah, ia tidak ingin mendapatkan keuntungan sepihak dari apa yang terjadi tapi dia lebih mengedepankan supaya masing-masing selamat itu jauh disenangi daripada mendapatkan pahala sepihak tapi mendatangkan jalan neraka bagi sebagian yang lain.
KESIMPULAN
- Kisah Malik bin Dinar dan Ibrahim bin An-Nakha'i memiliki konektivitas kisah bagaimana kemuliaan kita ketika menjadi hamba itu bukan hanya terlihat ketika kita beribadah. Menjadi ahli ibadah efeknya ke diri sendiri tapi ketika seseorang memiliki kemuliaan akhlak yang baik pada kehidupan itu bisa mengetuk hidayah seorang manusia seperti yang dimiliki Malik bin Dinar dan bersihnya hati yang dimiliki Ibrahim An-Nakha'i yang bersihnya hati bukan hanya melihat dari sisinya ia akan tetapi dapat melihat dari beberapa sisi orang lain yang melihatnya sehingga bisa mendatangkan kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya dan tidak mendatangkan dosa dan mudarat bagi sesama saudaranya.
- Inilah yang hilang pada saat ini ketika kita sibuk mencari ilmu, proses kita mencari ilmu melibatkan akhlak tapi tidak sekuat datang ke tempat ilmu sehingga ilmu yang kita pelajari tidak dapat mengetuk hidayah orang lain.
- Ilmu tanpa akhlak rusak, karena akhlak yang buruk merusak amal ibadah. Akhlak yang mulia tanpa ilmu itu batil (karena tidak adanya kebenaran dari ilmu), maka tidak akan pernah bisa mendapatkan rahmat dan syurgaNya Allah.
- Ramadhan itu bukan hanya ibadah bagaimana kita menahan lapar dan dahaga tapi juga Ramadhan itu menuntut bagaimana kita memiliki kemuliaan akhlak. Untuk itu Rasulullah berpesan ketika Ramadhan jika ada yang mencela, menghujat maka Rasulullah berkata, "Maka responlah apapun ucapan muamallah dan perlakuan orang kepada dirimu ketika menghujatmu, ketika kamu sedang berpuasa katakanlah kepadanya inni shaim (saya berpuasa)." Menunjukkan orang yang berpuasa dibentuk untuk memiliki akhlak yang baik.
- Mempelajari akhlak terkadang jauh lebih sulit daripada mempelajari ilmu. Abdullah bin Mubarak berkata, "Saya mempelajari ilmu selama 20 tahun tapi saya mempelajari adab saya kerahkan semua potensi yang saya miliki untuk mempelajari adab itu hingga 30 tahun." Adanya selisih panjang 10 tahun.
- Rasulullah berkata, "Sesungguhnya sesuatu yang paling berat ketika ditimbang di mizan kebaikan itu adalah kemulian akhlak karena itu yang menyempurnakan amal sholeh kita untuk mendapatkan rahmatNya."
- Hari ini kisah Malik bin Dinar dan Ibrahim An-Nakha'i memberi arti bahwa semoga kita bisa memiliki hati seperti Malik bin Dinar dan Ibrahim An-Nakha'i, semoga kehidupan kita juga bisa memberi contoh kehidupan yang baik dengan hidayah yang bisa kita berikan kepada orang lain ketika mereka bisa membaca akhlak yang kita berikan kepada kehidupan sesuai dengan yang disampaikan Rasulullah.
"Kalau kalian dibenci karena kebenaran maka itu anugerah, kalau kalian dibenci karena akhlak maka itu musibah."